Cerita sex

Bi Asih Yang Montok

Cerita sex – Awalnya aku mengira cerita Wiwin tentang hal-hal yang berbau ngentot cuma bualan belaka, Betapa tidak, sebagai remaja yang baru menginjak usia 18 tahun, cerita pengalamannya soal sex jauh melampaui usianya. Bahkan bisa dibilang tidak wajar.

Teman sekolah yang sejak 2 bulan terakhir menjadi teman akrabku itu, mengaku sering bersetubuh dengan wanita pembantu di rumahnya. Wanita itu adalah tetangganya yang diminta menangani pekerjaan dapur dan bersih-bersih rumah. Usianya 43 tahun, punya suami dan punya 2 orang anak. Tetapi menurut Wiwin, melakukan hubungan seks dengan wanita yang jauh lebih tua, rasanya jauh lebih nikmat.

“Aku pernah melakukannya dengan Sani. Itu, bekas pacarku yang anak SMA V, tetapi hambar dan kurang hot,” kata Wiwin suatu hari.

Wiwin juga mengaku sering mengintip ibunya. Saat mandi atau saat tertidur di kamarnya. Menurut Wiwin, usia ibunya sudah 46 tahun jadi lebih tua tiga tahun dibanding pembantu yang sering digarapnya itu. Tetapi bentuk tubuhnya tak kalah aduhai. Makanya ia sering berangan-angan untuk bisa melakukan yang sama terhadap sang ibu. Hanya sejauh ini Wiwin belum pernah melakukannya.

Penasaran dengan cerita-cerita panasnya itu, ketika ia mengajakku menginap di rumahnya di saat liburan aku langsung menyambutnya. Sekaligus untuk membuktikan dan untuk melihat ibu serta pembantu yang sering diceritakannya.

Baca Juga: Aku Jadi Simpanan Tante Erni

Ternyata Wiwin bukan pembual seperti yang semula kukira. Wiwin bukan hanya sangat akrab dengan Bi Asih wanita yang menjadi pembantu di rumahnya. Tetapi dari gerak-gerik keduanya bisa diyakini mereka punya hubungan khusus. Hal itu terlihat saat Bi Asih masuk ke kamar Wiwin untuk membawakan teh hangat dan kue. Dengan atraktif Wiwin menepuk-nepuk pantat wanita itu saat ia tengah menghidangkan minuman di atas meja.

“Terima kasih ya Bi Asih yang sexy,” ujar Wiwin sambil mengerlingkan matanya ke padaku.

Ia tidak hanya menepuk tetapi berusaha meremas pantat bahenol wanita itu. Bi Asih mungkin agak risih diperlakukan begitu di hadapanku. Tetapi ia tidak marah. “Mas Wiwin memang suka nakal mas. Wong orang sudah tua kok dibilang sexy,” ujarnya tanpa mencoba menepis tangan Wiwin yang terus menggerayangi pantatnya.

Memang Bi Asih tidak hanya sexy seperti yang dikatakan Wiwin. Menurutku, ia juga sangat merangsang. Buah dadanya besar menantang dan pantatnya padat membusung. Itu tidak disangsikan karena terlihat jelas dari bentuknya yang tercetak pada kain panjang yang ketat membungkusnya. Bahkan nampaknya ia juga tidak mengenakan celana dalam karena tidak kulihat garis yang membentuk bentuk pakaian dalam wanita pada kain panjang yang membalut busungan pantatnya.

“Bener kan Did, ia benar-benar hot. Tadi dia juga nggak pakai CD lho. Mungkin karena memeknya suka kegerahan kalau pakai CD ya?,” timpal Rudi setelah Bi Asih keluar kamar.

Gairahku jadi ikut terbakar. Terpicu oleh apa yang baru kulihat dan membuat anganku menerawang jauh. Membayangkan bentuk tubuh Bi Asih bila dalam keadaan tanpa busana. Bahkan, tanpa kusadari, si otong di selengkanganku ikut berekasi. Ah, andai tak sedang di rumah Wiwin pasti sudah kukocok seperti yang biasa kulakukan selama ini untuk menyalurkan hasrat seksualku.

Sebenarnya selama ini aku sering melakukan onani. Dan wanita yang paling sering menjadi obyek fantasiku adalah ibuku sendiri. Terlebih setelah mengintip dia mandi atau bertelanjang di kamarnya. Namun aku tidak berani menceritakannya pada Wiwin, takut dicemooh olehnya. Namun setelah melihat langsung apa yang dilakukannya pada Bi Asih dan keinginannya untuk bisa menikmati tubuh ibunya, suatu saat aku ingin menceritakannya pula.

Sedangkan obyek fantasiku yang lain, adalah Yu Darsih, wanita tetanggaku. Janda beranak dua yang membuka kios sembako di dekat rumah dan juga pandai memijat itu, di samping suka memakai daster tipis merangsang, bentuk bodinya juga aduhai menggoda. Padahal, usianya sudah tidak muda lagi, sekitar 47 tahun nyaris sama dengan usia ibuku. Maka aku suka berlama-lama di kiosnya saat membeli rokok atau keperluan lainnya.

“Did, kamu pengin lihat Bi Asih telanjang? Aku mau kerjain dia di dapur. Gara-gara pegang-pegang pantatnya aku jadi terangsang nih. Nanti susul aku ya, tapi tunggu sekitar 5 menit,” ujar Wiwin sambil ngeloyor keluar kamar.

Meski Wiwin memintaku menunggu lima menit sebelum aku menyusulnya, perintahnya tak kuindahkan. Aku ingin melihat yang dilakukannya pada Bi Asih dari awal adegan. Hingga baru sekira dua menit setelah Wiwin keluar kamar, dengan berjingkat aku menuju ke dapur. Di sana, Wiwin tampaknya tengah mencoba mencumbu dan merayu wanita pembantunya itu.

Bi Asih yang tengah sibuk menggoreng tempe dan tahu, dipeluknya erat oleh Wiwin dari belakang. Bahkan tidak hanya memeluk, kedua tangannya terlihat pula sibuk meremasi tetek Bi Asih dari luar baju kebaya yang dikenakan wanita itu. “Jangan ah…, nanti temen Mas Wiwin melihat,” kata Bi Asih.

Tetapi ia tidak mencoba menepis tangan anak majikannya. Malah kuyakin ia menikmatinya.Aku tahu karena mata Bi Asih merem melek oleh remasan tangan Wiwin pada teteknya. Bahkan ketika Wiwin melepaskan kancing-kancing pada kebaya yang dikenakannya, Bi Asih juga tak mencegahnya. Ia biarkan Wiwin mengeluarkan buah dadanya yang besar dari kutang hitam yang menyangganya.

Susunya terlihat sudah agak kendur. Namun bentuk buah dada Bi Asih kuakui masih cukup bagus. Putih mulus dan membusung dengan bagian yang coklat kehitaman melingkar mendekati putingnya yang mencuat. Kedua puting susu Bi Asih itulah yang kini menjadi sasaran Wiwin. Dengan tetap mendekapnya dari belakang, ia memilin-milinnya perlahan hingga wanita itu mendesah dan menggelinjang dalam pelukan Wiwin.

Sambil tetap meremasi tetek pembantunya, tangan Wiwin yang lain meliar ke bawah. Mengelus perutnya, lalu merayap turun mencoba menyelusup ke balik kain panjang yang dipakai wanita itu. Sepertinya Wiwin ingin menyentuh memek Bi Asih tanpa membuka kain panjang yang melilit tubuh wanita setengah baya itu. Namun karena gerakan tangan Wiwin agak tergesa, kain panjang itu jadi terlepas.

Sebenarnya Bi Asih dengan reflek telah berusaha menyambar kain panjangnya yang terlepas karena ulah anak majikannya. Namun terlambat, kain panjang motif batik yang telah agak lusuh itu terjatuh ke lantai. Jadilah tubuh bagian bawah wanita yang menurut Wiwin bersuamikan Mang Sarno, penarik beca yang masih tetangganya menjadi telanjang bulat.

“Ih Mas Wiwin, apa-apan sih. Bibi nggak pakai celana dalam nih..,” ujar Bi Asih.

Wiwin tahu, protes pembantunya itu hanya di mulut saja. Buktinya, ia tidak menepis tangan anak majikannya ketika bagian paling rahasia miliknya mulai digerayangi. Oleh Wiwin, kemaluan Bi Asih yang membusung langsung diraba dan diusap-usapnya. Ia melakukan itu sambil menggesek dan menekan-nekan penisnya yang masih terbungkus CD ke pantat Bi Asih yang membulat padat. Jakunku jadi turun naik melihat adegan panas yang dipertontonkannya.

Tidak seperti ibuku yang selalu mencukur habis rambut yang tumbuh pada memeknya. Bi Asih membiarkan jembutnya tumbuh di sana. Hanya rambut pada kemaluan wanita itu tergolong tipis dan jarang. Aku bisa melihat itilnya diantara celah bibir kemaluannya yang sudah agak berkerut karena jari tengah tangan Wiwin mencolek-coleknya. Itilnya yang terlihat mencuat, ukurannya juga lumayan besar dan menonjol. Ah, penisku jadi ikut mengeras disuguhi pemandangan yang sangat merangsang itu.

Sejauh itu, Bi Asih tidak bereaksi. Ia tetap pada kesibukannya menggoreng tempe dan tahu untuk menu makan siang. Namun ketika Wiwin berjongkok di antara kedua pahanya dan mulai menciumi memeknya, nampaknya ia mulai menikmati.

“Ahhh… ssshhss… memek bibi diapakan mas? Ahhh… enak banget …. ssshhhsss,” Bi Asih mulai mendesah seiring dengan juluran lidah Wiwin yang mulai menyapu ke bagian dalam lubang memeknya.

Sambil terus mendesah menahan nikmat, Bi Asih mengangkat kaki kanannya dan ditumpukan pada sandaran kursi yang ada di dekatnya. Rupanya ia bermaksud memberi kesempatan anak majikannya agar bisa lebih mudah mengerjai memeknya dengan mulutnya.

Melihat itu, Wiwin tidak menyia-nyiakan kesempatan yang diberikan pembantunya. Ia tidak hanya sekedar menyapukan ujung lidahnya ke lubang nikmat Bi Asih yang kini terbuka menganga. Tetapi itil Bi Asih yang mencuat di sela lubang memeknya pun ikut diobok-oboknya. Dijilat dan sesekali dicerucupi dan dihisap-hisapnya.

Tubuh Bi Asih jadi mengejang. Rupanya, tak tahan menahan nikmat oleh hisapan mulut Wiwin pada itilnya, kerjaan dapurnya jadi diabaikan. Tempe goreng yang masih ada di penggorengan tak sempat diangkatnya dan dibiarkan gosong.

“Aahh … enak bangat Mas Wiwin. Iya terus hisap itil Bibi, ahh… ssshhhh…. ooohhhh,” ia melenguh sambil memegangi kepala anak majikannya dan berusaha menekan ke selangkangannya.

Aku makin panas dingin melihat adegan yang tengah berlangsung. Terlebih ketika Bi Asih mulai meremasi sendiri kedua teteknya sambil merasakan nikmatnya aksi obok-obok mulut anak sang majikan pada memeknya. Aku jadi makin kelabakan. Risleting celanaku terpaksa kupelorotkan agar penisku leluasa mengembang karena celana jins yang kupakai memang cukup ketat. Kurasakan penisku kian tegang dan mengeras.

Wiwin akhirnya menghentikan aksinya menghisapi memek wanita itu setelah mulutnya basah oleh lendir yang keluar dari dalam memek Bi Asih. Kalau diteruskan, pasti Bi Asih memperoleh orgasmenya di atas mulut Wiwin. “Bi, bibi ambil kasur kecil dulu deh di gudang,” kata Wiwin.

“Kita mainnya di sini? Kan ada teman Mas Wiwin. Nanti kalau dia ke dapur gimana?”
“Nggak bakalan Bi. Tadi dia udah tidur kok. Ayo dong Bi, udah kepengen nih,” kata Wiwin lagi sambil mengusap-usap memek Bi Asih dan membelai jembutnya.

Saat Bi Asih keluar mengambil kasur di gudang, Wiwin menghampiriku yang bersembunyi di balik almari tempatku mengintip.

“Gimana Did, tubuh Bi Asih benar-benar mantap kan? Memeknya juga enak banget dientotin,” ujarnya.

Menurut cerita Wiwin, nafsu Bi Asih sebenarnya sangat tinggi. Namun Mang Sarno yang seharian mengayuh becak, saat pulang agaknya sudah kecapaian hingga kurang memiliki tenaga untuk memuaskan sang istri. Wiwin mengaku, ia berhasil meniduri sang pembantu setelah sempat mengajaknya nonton film BF di kamarnya beberapa bulan lalu.

Permainan panas itu berlanjut setelah Bi Asih menggelar kasur di lantai dapur. Tadinya Bi Asih bermaksud merebahkan tubuh dan mengangkang setelah kasur tergelar. Mungkin karena nafsunya yang sudah memuncak. Namun Wiwin mencegah. Ia meminta Bi Asih berjongkok dan Wiwin langsung menyorongkan penisnya ke mulut wanita itu.

Bi Asih tahu, anak majikannya ingin meneruskan pemanasan sebelum permainan yang sebenarnya berlangsung. Maka diawali dengan menjilat-jilat ujung penis Wiwin yang tegak mengacung, Bi Asih akhirnya memasukkan penis Wiwin ke dalam mulutnya. Menghisap dan menjilat-jilatkan ujung lidahnya ke kepala penis Wiwin.

Bahkan tidak hanya itu, biji-biji pelir penis Wiwin juga tak luput dari jilatan dan cerucupan mulut Bi Asih. Lidah wanita itu terus meliar, mengusap dan menjelajahi setiap inchi kemaluan anak majikannya. Tubuh Wiwin tampak mengejang. Mungkin menahan nikmat yang tak tertahan.

Dari tempatku mengintip, adegan yang dipertontonkan Wiwin dan pembantunya membuat nafsuku kian terbakar. Betapa tidak, Bi Asih yang tengah mengulum penis Wiwin, posisinya berjongkok menghadap padaku. Hingga aku bisa melihat dengan jelas bagian paling pribadi miliknya yang terbuka. Memek Bi Asih benar-benar menganga dengan itil yang kemerahan mencuat menantang. Ah, nikmat benar kalau diberi kesempatan membenamkan penisku di lubang nikmat itu. Rasanya gimana ya? Begitu aku membatin sambil mengelus penisku yang telah mengeras meminta penyaluran.

Payudara wanita separo baya yang bentuknya seperti buah pepaya agak menggelantung itu juga terlihat bergoyang-goyang seiring dengan gerakakkan tubuh pemiliknya. Alhasil birahiku kian tak terbendung dan tubuhku menjadi panas dingin menahan syahwat yang makin menggelegak.

Puncaknya, Wiwin meminta Bi Asih menghentikan kuluman dan hisapan pada penisnya. Lalu ia mengambil posisi terlentang di kasur yang telah tergelar di lantai dapur. Maka Bi Asih tahu, sang anak majikan meminta dirinya berada di posisi atas dalam puncak persetubuhan yang hendak dilakukan.

Bi Asih pun mengambil ancang-ancang. Dengan kedua kaki berada di antara tubuh Wiwin, ia berdiri tepat di atas pinggul anak laki-laki majikannya. Saat ia menurunkan tubuh dan nyaris dalam posisi berjongkok, wanita berpantat lebar itu terlihat menggenggam dan mengelus penis Wiwin yang tegak mengacung. Lalu kepala penis Wiwin diusap-usapkan ke lubang memeknya yang menganga. Akhirnya,… bless penis Wiwin masuk membenam ke liang nikmat Bi Asih seiring dengan diturunkannya pantat wanita itu.

Mungkin merasa nikmat oleh adanya penis Wiwin yang melesak di dalam lubang memeknya, menjadikan Bi Asih terdiam sesaat. Ia mengerang perlahan. Sementara Wiwin, sambil merasakan nikmatnya jepitan memek pembantunya kedua tangannya mulai bergerilya. Payudara wanita seusia ibunya itu diremas-remasnya dan sesekali puting-putingnya dipelintir dengan jari-jerinya. Ulahnya itu membuat Bi Asih kelojotan dan merintih menahan nikmat.

“Bi, Mang Sarno suka ngisep tetek bibi nggak,” ujar Wiwin sambil terus meremasi susu Bi Asih.
“Ih Mas Wiwin kok nanya-nanya begituan sih,”
“Ah pengen tahu saja. Jawab dong Bi?” Kata Wiwin lagi.
“Dia mah kalau lagi tidur sama bibi suka langsung. Boro-boro pegang atau ngisep tetek bibi. Mungkin karena kecapaian narik becak,” jawab Bi Asih.

Mendengar jawaban itu Wiwin kian meningkatkan remasannya pada buah dada Bi Asih. Bahkan sambil tetap telentang, tangannya juga meliar ke bawah perut wanita itu dan mengusap memeknya yang tengah tertembus batang zakar miliknya. Dirangsang sedemikian rupa, gairah Bi Asih kian memuncak. Wanita itu mulai menggoyang-goyangkan pantatnya hingga penis Wiwin yang ada di dalam memek Bi Asih serasa diperah oleh jepitan otot-otot memek wanita pembantunya.

Sesekali Bi Asih juga merubah gerakannya. Masih dalam posisi di atas, ia menaik-turunkan pantatnya. Dalam posisi gerakan seperti itu, nafsuku benar-benar kian terbakar. Betapa tidak , aku bisa melihat dengan jelas gelambir daging yang keluar dari memek Bi Asih saat wanita itu mengangkat tubuhnya dan tertarik oleh penis Wiwin. Batang penis Wiwin dan memek Bi Asih terlihat sangat basah oleh cairan yang keluar hingga menimbulkan bunyi ceplok.. ceplok yang sangat merangsang. Apalagi tetek gede wanita itu juga ikut bergoyang indah. Ah ingin rasanya ikut bergabung untuk meremasi susu yang menantang itu.

Gairah keduanya kuyakin kian mendekati puncaknya ketika gerakan yang dilakukan makin tak teratur. Gerakan naik turun tubuh Bi Asih makin cepat dan dengus nafasnya kian keras terdengar diiringi erangan-erangan tertahan. Sementara Wiwin mengimbangi dengan membuat gerakan memutar pada bagian bawah tubuhnya. Hingga hunjaman penisnya ke memek Bi Asih menjadi semakin cepat.

“Ssshhhh …ahhh…ahh .. Memek bibi enak banget disogok penis Mas Wiwin. Auhh… terus mas sogok terus. Ahh.. ahh bibi nggak tahan,”
“Wiwin juga suka banget ngentot sama bibi. Memek bibi kayak ngisep. Terus goyang pantatnya bi. Iya bi … akkhhh…. ssshhh ..aakhhh enak baanget bi, oohhh,” timpal Wiwin sambil mengobok-obok memek Bi Asih dan mencongkel-congkel kelentitnya hingga membuat wanita itu kian kelabakan dan suara rintihannya makin menjadi.

Puncaknya, Bi Asih mengangkat lebih tinggi tubuhnya dan lalu kembali menjatuhkannya dengan gerakan lebih cepat. Setelah penis Wiwin kembali menerobos masuk ke lubang nikmatnya, ia menggoyang pantatnya dengan goyangan memutar yang sangat kencang. Sekejap setelah itu, tubuhnya tampak tergetar menandakan ia telah mencapai orgasmenya.

“Auuuww… aohh… ohhh bibi keluar mas. Enak banget mas,… aahh.. sshhh… shhh …. ohhhh,”
“Saya juga hampir nyampai bi. Ayo bibi terus goyang, ah .. ahhh… shh,”

Rupanya, Bi Asih masih menikmati sisa-sisa puncak kenikmatan dari orgasme yang baru diperolehnya hingga ia tak segera merespon permintaan anak majikannya. Hal itu membuat Wiwin makin kesetanan. Ia terus menggerak-gerakan bagian bawah tubuhnya sambil meremasi tetek wanita pembantunya.

Merasa respon yang diharapkan tak kunjung didapat, Wiwin membalikan tubuh hingga Bi Asih terguling. Saat itulah, saat wanita pasangannya terbaring mengangkang di kasur yang digelar di lantai dapur, dengan buas Wiwin langsung menerkamnya. Penisnya diarahkan ke lubang memek Bi Asih yang kian basah oleh lendir yang membanjir. Maka sekali genjot amblaslah batang penis Wiwin di kedalaman meme Bi Asih.

“Auw.. jangan kenceng-kenceng mas. Memek bibi sakit.. nih,”

Tepi Wiwin tak peduli. Gerakan naik turun tubuhnya di atas tubuh Bi Asih bukannya melemah tetapi makin dipercepat. Bahkan tiap ujung penisnya hendak masuk ke lubang memek wanita itu, ia sengaja menyentaknya hingga terobosan di lubang memek ibu yang telah melahirkan dua anak itu seakan menghujam cepat.

Perubahan terjadi pada diri Bi Asih. Ia yang sebelumnya memprotes karena merasa sakit pada lubang memeknya, nampaknya mulai terbangkitkan kembali gairahnya. Sambil menikmati sogokan penis anak majikannya ia mulai menggoyang-goyang dan memutar-mutar pantatnya. Maka kembali Wiwin merasakan penisnya diperah oleh jepitan memek istri Mang Sarno.

“Iya bi… aahh…ah..ah… ssshhhh…. enak banget bi. Terus goyang bi…aahhh …sshhh…shhh … akkhhhh … saya hampir nyampai bi, aahhhh,”
“Iya Mas Wiwin,… tapi jangan dikeluarin dulu. Memek bibi juga mulai enak dan hampir nyampai lagi. Tahan dulu ya.. aakkkhhh …. ssshhh… shhh… ahhhhh… ahhhh,” Bi Asih mulai merintih dan mengerang lagi.

Pergumulan pasangan yang usianya berbeda cukup jauh itu kian tak terkendali. Tubuh keduanya terlihat basah, banjir oleh peluh yang keluar. Sampai akhirnya, kedua kaki Bi Asih terlihat membelit ke pinggang Wiwin yang terus menghujam dan menusukkan batang penisnya di lubang memek wanita pembantunya. Lalu pantat Bi Asih membuat gerakan memutar yang sangat kencang. Saat itulah kudengar erangan cukup keras dari mulut Wiwin dan Bi Asih yang sangat keras dan dalam waktu yang hampir bersamaan. Rupanya keduanya telah sama-sama mendapatkan puncak kenikmatannya hingga tubuh Wiwin ambruk ke dalam pelukan Bi Asih.

Tadinya aku berniat kembali menyelinap ke kamar Wiwin. Tapi karena Wiwin buru-buru bangkit dan langsung masuk ke kamar mandi, aku jadi mengurungkan niatku itu. Bi Asih yang akhirnya bangkit dan tengah berusaha membereskan kasus yang habis dipakainya untuk bersebadan kubuat kaget oleh kemunculanku yang tiba-tiba telah berada di hadapannya.

“Ee… maaf bi… bibi lagi ngeberesin kasur. Mas Adid mau kemana?” Kata Bi Asih sambil berusaha menutupi memeknya.
“Saya mau ambil minum bi. Wiwinnya mana,” ujarku sambil terus menatapi tubuh telanjang wanita paro baya yang masih sangat merangsang tersebut.

Bi Asih benar-benar menjadi salah tingkah di hadapanku. Tapi karena baju dan kain panjangnya cukup jauh dari jangkauannya ia tak berani mengambil untuk menutupi tubuhnya yang telanjang bugil. Ia baru merasa terbebas setelah aku mengambil sebotol air dari kulkas beserta gelas dan kembali ke kamar Wiwin. Hanya seulas senyum yang sengaja kutebar, pastilah membuat ia bertanya-tanya.