cerita sex

Cerita Bokep Cewek Amoy Bisa Di Booking Ke Hotel

Sejenak aku melirik jam tangan, terlihat jam satu kurang beberapa menit saja dan kuputuskan untuk masuk. Seperti halnya salonsalon biasa, suasana salon ini normal tidak ada yang luar biasa dari tata ruangnya serta kegiatannya.

Certa Bokep Pada pertama kali aku masuk, aku langsung menuju ke tempat meja reception dan di sana aku mengatakan niat untuk potong rambut. Dikatakan oleh wanita cantik yang duduk di balik meja reception agar aku menunggu sebentar sebab sedang sibuk semua.

Sambil menunggu, aku mencoba untuk melihatlihat sekitar siapa tahu ada temanku, tapi tidak terlihat ada temanku di antara semua orang tersebut. Mungkin dia belum datang, pikirku. Kuakui bahwa hampir semua wanita yang bekerja di salon ini cantikcantik dan putih dengan postur tubuh yang proporsional dan aduhai.

Kalau boleh memperkirakan umur mereka, mereka berumur sekitar 2030 tahun. Aku jadi teringat dengan omongan temanku, Hanni, bahwa mereka bisa diajak kencan. Namun aku sendiri masih ragu sebab salon ini benarbenar seperti salon pada umumnya.

Setelah beberapa menit menunggu, aku ditegur oleh reception bahwa aku sudah dapat potong rambut sambil menunjuk ke salah satu tempat yang kosong. Aku pun menuju ke arah yang ditentukan. Beberapa detik kemudian seorang wanita muda nan cantik menugur sambil memegang rambutku.

Mas, rambutnya mau dimodel apa? katanya sambil melihatku lewat cermin dan tetap memegang rambutku yang sudah agak panjang.

Mmm.. dirapiin aja Mbak! kataku ********

Lalu seperti halnya di tempat cukur rambut pada umumnya, aku pun diberi penutup pada seluruh tubuhku untuk menghindari potonganpotongan rambut. Beberapa menit pertama begitu kaku dan dingin. Aku yang diam saja dan dia sibuk mulai motong rambutku. Sangat tidak enak rasanya dan aku mencoba untuk mencairkan suasana.

Mbak.. udah lama kerja di sini? tanyaku.

 

Kirakira sudah enam bulan, Mas.. ngomongngomong situ baru sekali ya potong di sini? sambungnya sambil tetap memotong rambut.

Iya.. kemarenan saya lewat jalan ini, terus kok ada salon, ya udah dech, saya potong di sini. Ini juga janjian sama temen, tapi mana ya kok belum datang? jawabku sedikit berbohong.

Ooo.. jawabnya singkat dan berkesan cuek.

Hei.. terdengar suara temanku sambil menepuk pundak.

Eh.. elo baru dateng? tanyaku.

Iya nih.. tadi di bawah jembatan macet, mm.. gue potong dulu yach.. jawabnya sambil berlalu.

Ngobrol punya ngobrol, akhirnya kami dekat, dan belakangan aku tahu Siska namanya, 22 tahun, dia kost di daerah situ juga, dia orang Manado, dia enam bersaudara dan dia anak ketiga. Kami pun sepakat untuk janjian ketemu di luar pada hari Senin.

Untuk pembaca ketahui setiap hari Senin, salon ini tutup. Setelah aku selesai, sambil memberikan tips sekedarnya, aku menanyakan apakah ia mau aku ajak makan. Dia menyanggupi dan ia menulis pada selembar secarik kertas kecil nomor teleponnya.

Sambil menunggu Hanni, aku ngobrol dengan Siska, aku sempat diperkenalkan oleh beberapa temannya yang bernama Susi, Icha dan Yana. Ketiganya cantikcantik tapi Siska tidak kalah cantik dengan mereka baik itu parasnya juga tubuhnya.

Susi, ia berambut agak panjang dan pada beberapa bagian rambutnya dicat kuning. Icha, ia agak pendek, tatapannya agak misterius, dadanya sebesar Siska namun karena postur tubuhnya yang agak pendek sehingga payudaranya membuat ngiler semua mata lakilaki untuk menikmatinya.

Sedangkan Yana, ia tampak sangat merawat tubuhnya, ia begitu mempesona, lingkar pinggangnya yang sangat ideal dengan tinggi badannya, pantatnya dan dadanyapun sangat proporsional.

Akhirnya kami ketemu pada hari Senin dan di tempat yang sudah disepakati. Setelah makan siang, kami nonton bioskop, filmnya Jennifer Lopez, The Cell. Wah, cakep sekali ini orang, batinku mengagumi kecantikan Siska yang waktu itu mengenakan kaos ketat berwarna biru muda ditambah dengan rompi yang dikancingkan dan dipadu dengan celana jeans ketat serta sandal yang tebal. Kami serius mengikuti alur cerita film itu,

Hingga akhirnya semua penonton dikagetkan oleh suatu adegan. Siska tampak kaget, terlihat dari bergetarnya tubuh dia. Entah ada setan apa, secara reflek aku memegang tangan kanannya. Lama sekali aku memegang tangannya dengan sesekali meremasnya dan ia diam saja.

Singkat cerita, aku mengantarkan dia pulang ke kostnya, di tengah jalan Siska memohon kepadaku untuk tidak langsung pulang tapi putarputar dulu. Kukabulkan permintaannya karena aku sendiri sedang bebas, dan kuputuskan untuk naik tol dan putarputar kota Jakarta. Sambil menikmati musik, kami saling berdiam diri, hingga akhirnya Siska mengatakan,

Mmm.. Will, aku mau ngomong sesuatu sama kamu, memang semua ini terlalu cepat, Will.. aku suka sama kamu.. katanya pelan tapi pasti.

Seperti disambar petir mendengar katakatanya, dan secara reflek aku menengok ke kiri melihat dia, tampaknya dia serius dengan apa yang barusan ia katakan. Dia menatap tajam.

Apa kamu sudah yakin dengan omonganmu yang barusan, Tel? tanyaku sambil kembali konsentrasi ke jalan.

Aku nggak tau kenapa bahwa aku merasa kamu nggak kayak lakilaki yang pernah aku kenal, kamu baik, dan kayaknya perhatian and care. Aku nggak mau kalo setelah aku pulang ini, kita nggak bisa ketemu lagi, Will. Aku nggak mau kehilangan kamu, jawabnya panjang lebar.

Mmm.. kalo aku boleh jujur sich, aku juga suka sama kamu, Tel.. tapi kamu mau khan kalo kita nggak pacaran dulu? tegasku

Ok, kalo itu mau kamu, mm.. boleh nggak aku sun kamu, bukti bahwa aku nggak mainmain sama omonganku yang barusan? tanyanya.

Wah rasanya seperti mau mati, jantungku mau copot, nafas jadi sesak. Edan ini anak, seperti benarbenar! Sekali lagi, aku menengok ke kiri melihat wajahnya yang bulat dengan bola mata yang berwarna coklat, dia menatapku tajam dan serius sekali.

Sekarang? tanyaku sambil menatap matanya, dan dia menganguk pelan.

OK, kamu boleh sun aku, jawabku sambil kembali ke jalanan.

Beberapa detik kemudian dia beranjak dari tempat duduknya dan mengambil posisi untuk memberi sebuah sun di pipi kiriku. Diberilah sebuah ciuman di pipi kiriku sambil memeluk. Lama sekali ia mencium dan ditempelkannya payudaranya di lengan kiriku.

Ooh, empuk sekali, mantap!Payudaranya yang cukup menantang itu sedang menekan lengan kiriku. Edan, enak sekali, aku jadi terangsang nih. Secara otomatis batang kemaluanku pun mengeras. Dengan pelan sekali, Siska berbisik, Will, aku suka sama kamu, dan ia kembali mencium pipiku dan tetap menekan payudaranya pada lengan kiriku.

Konsentrasiku buyar, sepertinya aku benarbenar sudah terangsang dengan perlakuan Siska, dan beberapa kendaraan yang melaluiku melihat ke arahku menembus kaca filmku yang hanya 50%. Kamu terangsang ya, Will? tanyanya pelan dan agak lirih.

Aku tidak menjawab. Tangan kirinya mulai mengeluselus badanku dan mengarah ke bawah. Aku sudah benarbenar terangsang. Sekali lagi Siska berbisik, Will, aku tau kamu terangsang, boleh nggak aku lihat punyamu? punya kamu besar yach! aku mengangguk.

Dibukalah celana panjangku dengan tangan kirinya, seperti ia agak kesulitan pada saat ingin membuka ikat pinggangku sebab dia hanya menggunakan satu tangan. Aku bantu dia membuka ikat pinggang setelah itu aku kembali memegang setir mobil.

Dieluselus batang kemaluanku yang sudah keras dari luar. Tidak lama kemudian ditelusupkan telapak kirinya ke dalam dan digenggamlah kemaluanku. Ooohh.. desahku pelan. Sedikit demi sedikit wajahnya bergerak.

Pertama, ia cium bibirku dari sebelah kiri lalu turun ke bawah. Ia cium leherku, dan ia sempat berhenti di bagian dadaku, mungkin ia menikmati aroma parfum BULGARIku. Ia makin turun dan turun ke bawah. Beberapa kali Siska melakukan gerakan mengocok kemaluanku.

Pertamatama dijilatinya pangkal batang kemaluanku lalu merambat naik ke atas. Ujung lidahnya kini berada pada bagian biji kejantananku. Salah satu tangannya menyelinap di antara belahan pantatku, menyentuh anusku, dan merabanya.

Siska melanjutkan perjalanan lidahnya, naik semakin ke atas, perlahanlahan. Setiap gerakan nyaris dalam beberapa detik, teramat perlahan. Melewati bagian tengah, naik lagi. Ke bagian leher batangku. Kedua tanganku tak kusadari sudah mencengkeram setir mobil.

Ujung lidahnya naik lebih ke atas lagi. Pelanpelan setiap jilatannya kurasakan bagaikan kenikmatan yang tak pernah usai, begitu nikmat, begitu perlahan. Setiap kali kutundukkan wajahku melihat apa yang dilakukannya setiap kali itu pula kulihat Siska masih tetap menjilati kemaluanku dengan penuh nafsu. Cerita Sex

Sesaat Siska kulihat melepaskan tangannya dari kemaluanku, ia menyibakkan rambutnya ke samping tiga jarinya kembali menarik bagian bawah batang kemaluanku dengan sedikit memiringkan kepalanya. Siska kemudian mulai menurunkan wajahnya mendekati kepala kejantananku.

Ia mulai merekahkan kedua bibirnya, dengan berhatihati ia memasukkan kepala kemaluanku ke dalam mulutnya tanpa tersentuh sedikitpun oleh giginya. Kemudian bergerak perlahanlahan semakin jauh hingga di bagian tengah batang kemaluanku. Saat itulah kurasakan kepala kejantananku menyentuh bagian lidahnya.

Tubuhku bergetar sesaat dan terdengar suara khas dari mulut Siska. Kedua bibirnya sesaat kemudian merapat. Kurasakan kehangatan yang luar biasa nikmatnya mengguyur sekujur tubuhku. Perlahanlahan kemudian kepala Siska mulai naik.

Bersamaan dengan itu pula kurasakan tangannya menarik turun bagian bawah batang tubuh kejantananku hingga ketika bibir dan lidahnya mencapai di bagian kepala, kurasakan bagian kepala itu semakin sensitif.

Begitu sensitifnya hingga bisa kurasakan kenikmatan hisapan dan jilatan Siska begitu merasuk dan menggelitik seluruh uraturat syaraf yang ada di sana. Kuraba punggungnya dengan tangan kiriku, kuelus dengan lembut lalu mengarah ke bawah.

Kudapatkan payudara sebelah kanan. Kubuka telapak tanganku mengikuti bentuk payudaranya yang bulat. Kuremas dengan lembut. Kubuka satu persatu kancing rompinya, dan kembali aku membuka tepak tangan mengikuti bentuk payudaranya.

Sambil tetap mengulum, tangan kanannya bergerak menyentuh tanganku, ia tarik baju ketatnya dari selipan celana panjangnya. Dipegangnya tanganku dan diarahkannya ke dalam. Di balik baju ketatnya, aku meremasremas payudaranya yang masih terbungkus BH. Kuremas satu persatu payudaranya sambil mendesah menikmati kuluman pada kemaluanku.

Kuremas agak kuat dan Siska pun berhenti mengulum sekian detik lamanya. Kueluselus kulit dadanya yang agak menyembul dari BHnya dengan sesekali menyelipkan salah satu jariku di antara payudaranya yang kenyal.

Aghh.. desahku menikmati kuluman Siska yang makin cepat. Aku turunkan BHnya yang menutupi payudara sebelah kanan, aku dapat meraih putingnya yang sudah mengeras. Kupilin dengan lembut.

Ooh.. esst.. desahnya melepas kuluman dan terdengar suara akibat melepaskan bibirnya dari kemaluanku.

Menjilat, menghisap, naik turun. Ia begitu menikmatinya. Begitu seterusnya berulangulang. Aku tak mampu lagi melihat ke bawah. Tubuhku semakin lama semakin melengkung ke belakang kepalaku sudah terdongak ke atas. Kupejamkan mataku.

Siska begitu luar biasa melakukannya. Tak sekalipun kurasakan giginya menyentuh kulit kejantananku. Gila, belum pernah aku dihisap seperti ini, pikirku. Pikiranku sudah melayanglayang jauh entah ke mana. Tak kusadari lagi sekelilingku oleh gelombang kenikmatan yang mendera seluruh urat syaraf di tubuhku yang semakin tinggi.

Aku berhenti sejenak meraba payudaranya. Kutengok ke bawah, tangan kanannya menggenggam dengan erat persis di bagian leher batang kemaluanku, dan ia terlihat tersenyum kepadaku. Kamu luar biasa, Tel, bisikku sambil menggelenggelengkan kepala terkagumkagum oleh kehebatannya. Siska tersenyum manis dan berkesan manja.

Eh, bisa keluar aku kalo kamu kayak gini terus, bisikku lagi merasakan genggaman tangannya yang tak kunjung mengendur pada kemaluanku. Siska tersenyum.

Kalo kamu udah nggak pengen keluar, keluarin aja, nggak usah ditahantahan, jawabnya dan setelah itu menjulurkan lidahnya keluar dan mengenai ujung batang kemaluanku. Rupanya ia mengerti aku sedang berjuang untuk menahan ejakulasiku.

Aaghh.. desahku agak keras menahan rasa ngilu. Bukan kepalang nikmat yang kurasakan, tubuhnya bergerak tidak karuan, seiring dengan gerakan kepalanya yang naik turun, kedua tangannya tak hentihenti meraba dadaku, terkadang ia memilin kedua puting susuku dengan jarinya, terkadang ia melepaskan kuluman untuk mengambil nafas sejenak lalu melanjutkannya lagi.

Semakin lama gerakannya makin cepat. Aku sudah berusaha semaksimal untuk menahan ejakulasi. Kualihkan perhatianku dari payudaranya. Aku meraba ke arah bawah. Kubuka kancing celananya. Agak lama kucoba membuka dan akhirnya terlepas juga. Pelanpelan kuselipkan tangan kiriku di balik celana dalamnya.

Aku dapat rasakan rambut kemaluannya tipis. Mungkin dipelihara, pikirku dalam hati. Kuteruskan agak ke bawah. Siska mengubah posisinya. Tadinya ia yang hanya bersangga pada satu sisi pantatnya saja, sekarang ia renggangkan kedua kakinya.

Dengan mudah aku dapat menyentuh kemaluannya. Beberapa saat telunjukku bermainmain di bagian atas kemaluannya. Aku naikturunkan jari telunjukku. Ugh, nikmat sekali nih rasanya, pikirku. Sesekali kumasukkan telunjukku ke dalam lubang kemaluannya.

Aku jelajahi setiap milimeter ruangan di dalam kemaluan Siska. Aku temukan sebuah kelentit di dalamnya. Kumainkan klitoris itu dengan telunjukku. Ugh, pegal juga rasanya tangan kiriku. Sejenak kukeluarkan jariku dari dalam. Lalu aku menikmati setiap kuluman Siska. Rasanya sudah beberapa tetes spermaku keluar. Aku benarbenar dibuat mabuk kepayang olehnya.

Kembali kumasukkan jariku, kali ini dua jari, jari telunjuk dan jari tengahku. Pada saat aku memasukkan kedua jariku, Siska tampak melengkuh dan mendesah pelan. Semakin lama semakin cepat aku mengeluarmasukkan kedua jariku di lubang kemaluannya dan Siska beberapa menghentikan kuluman pada batang kemaluanku sambil tetap memegang batang kemaluanku.

Entah sudah berapa orang yang melihat kegiatan kami terutama para supir atau kenek truk yang kami lewati, namun aku tidak peduli. Kenikmatan yang kurasakan saat itu benarbenar membiusku sehingga aku sudah melupakan segala sesuatu.

Kembali Siska menjilat, menghisap dan mengulum batang kemaluanku dan entah sudah berapa lama kami melakukan ini.

Kutundukkan kepalaku untuk melihat yang sedang dikerjakan Siska pada kemaluanku. Kali ini Siska melakukan dengan penuh kelembutan, ia julurkan lidahnya hingga mengenai ujung kepala kemaluanku lagi. Ia memutarmutarkan lidahnya tepat di ujung lubang kemaluanku.

Sungguh dashyat kenikmatan yang kurasakan. Beberapa kali tubuhku bergetar namun ia tetap pada sikapnya. Sesekali ia masukkan semua batang kemaluanku di dalam mulutnya dan ia mainkan lidahnya di dalam. Ooh.. Tel.. enakk.. desahku sambil melepaskan tangan kiriku dari lubang kemaluannya. Kupegang kepalanya mengikuti gerakan naik turun.

Siska, aku sudah nggak tahann.. kataku agak lirih menahan ejakulasi. Namun gerakan Siska makin cepat dan beberapa kali ia buka matanya namun tetap mengulum dan terdengar suarasuara dari dalam mulutnya.

Aaagghh.. desahku keras diiringi dengan keluarnya sperma dari dalam batang kemaluanku di dalam mulutnya. Keadaan mobil kami saat itu sedikit tersentak oleh pijakan kaki kananku. Aku menikmati setiap sperma yang keluar dari dalam kemaluanku hingga akhirnya habis. Siska tetap menjilati kemaluanku dengan lidahnya.

 

Dapat kurasakan lidahnya menyapu seluruh bagian kepala kemaluanku. Ugh, nikmat sekali rasanya. Setelah membersihkan seluruh spermaku dengan lidahnya, Siska bergerak ke atas. Kulihat dia, tampak ada beberapa spermaku menempel di sebelah kanan bibirnya dan pipi kirinya.

Aku mulai bergerak memperbaiki posisi dudukku, perlahanlahan. Sambil tetap digenggamnya batang kemaluanku yang sudah lemas, Siska beranjak ke atas melumat bibirku, masih terasa spermaku. Sekian detik kami bercumbu dan aku memejamkan mata.

Akhirnya ia merapikan posisinya, ia duduk dan merapikan pakaiannya. Aku pun merapikan pakaianku sekedarnya. Aku kenakan celana panjangku namun tidak kumasukkan kemejaku.

Beberapa hari setelah itu, aku main ke kost Siska dan pada saat itu pula kami mengikat tali kasih. Awal bulan Maret lalu Siska kembali dari Manado setelah 2 minggu ia berada di sana dan ia tidak kembali lagi bekerja di salon itu.

Sekarang kami hidup bersama di sebuah tempat di daerah Grogol, sekarang ia diterima sebagai operator di salah satu perusahaan penyedia jasa komunikasi handphone. Sedangkan aku tetap sebagai animator yang bekerja di sebuah perusahaan di daerah Kedoya tapi aku harus meninggalkan kostku.

Setelah kami hidup seatap, Siska mengakui padaku bahwa selama enam bulan ia bekerja di salon itu, ia pernah melayani pelanggannya dan ia mengatakan bahwa semua pekerja yang bekerja di salon itu juga pekerja seks. Siska tidak mengetahui bagaimana asal mulanya.

Siska sendiri tidak tahu apakah salon merupakan sebuah kedok atau seks adalah sebuah tambahan. Dia mengatakan bahwa untuk mengajak keluar salah satu karyawati di situ, seseorang harus membayar di muka sebesar Rp 500.000.

Rasanya Jakarta hanya milik kami berdua, tiap malam setelah mandi sepulang dari kerja atau setelah makan malam, kami melakukan hubungan seks. Entah sampai kapan semua ini akan berakhir. Kami sungguh menikmati setiap hari yang akan kami lalui dan telah kami lalui bersama. Cerita Dewasa

Aku sungguh tidak peduli dengan asalusulnya pekerjaan Siska sebab makin hari aku makin terbius oleh kenikmatan seks dan mataku seolahseolah tertutup oleh rasa sayangku pada dia.

Post Terkait

21total visits,1visits today