cerita sex

Cerita Hot ABG Hawa Nafsu Birahi Dhea Yang Membara

Saat itu aku masih ingat hubungan Dhea dan Aga sudah membaik setelah sekian dia bertikai dalam hal pacaran, bahkan aku dengar dengar dia sudah bertunangan dan akan segera melangsungkan pernikahannya, aku dan mereka satu tempat kost suatu ketika saat Aga ada tugas kantor yang memaksa dia harus tinggal disana selama 6 bulan. Sebagai bekas teman dan atasan Dhea, aku memang pernah dikenalkan dengan Aga. Aga ternyata begitu cemburuan. Memang harus aku akui kalau Dhea memang cantik, bahkan terlalu cantik untuk ukuran Aga itu. Padahal kalau menurutku sih, adalah hal yang biasa kalau seorang lelaki yang penampilan fisiknya biasa saja, ternyata memiliki seorang pacar yang cantik. Aku mengatakan Dhea cantik, bukan merupakan penilaianku yang subyektif. Banyak temantemanku lain yang juga berpendapat begitu. Bahkan beberapa diantaranya berpendapat sama, bahwa Dhea memiliki sex appeal yang luar biasa tinggi.
Bagi kaum lelaki, jika memandang mata Dhea, boleh jadi langsung akan berfantasi macammacam. Percaya atau tidak, mata Dhea begitu sayu seolaholah pasrah ditambah lagi dengan bibirnya yang seksi dan suka digigitgigit, kalau Dhea sedang gemes. Sungguh suatu ciptaan Tuhan yang sangat eksotis dan sensual.

Ketika aku sempat mengobrol dengan Aga minggu sebelumnya, secara tidak sengaja kami menemukan suatu peluang bisnis yang mungkin bisa dikerjakan bersama antara kantorku dengan kantornya. Pikiran dagangku segera jalan dan aku menjanjikan untuk menitipkan sebuah proposal kepada Aga untuk dibahas oleh tim kantornya di Malang.
Siang itu, sehabis meeting dengan salah satu klienku di sebuah kantor di daerah Kuningan, aku berencana untuk mampir ke rumah kost Aga ? yang juga rumah kost Dhea untuk menitipkan proposal yang aku janjikan.
Aku mengendarai mobil menuju tempat kost Aga. Sesampainya di sana, aku melihat garasi tempat mobil Aga biasa diparkir dalam keadaan kosong yang menandakan Aga sedang keluar. Namun aku tidak mengurungkan niatku untuk bertemu dengan Aga.
Setelah aku memarkir mobil di depan halaman rumah kost itu, aku masuk menuju ruang tamu yang pada saat itu pintunya dalam keadaan terbuka, dan langsung menuju ke kamar Aga. Di dalam rumah itu ada 4 kamar dan kamar Aga yang paling pojok, berhadapan dengan kamar Dhea.
Masingmasing kamar kelihatan tertutup pertanda tidak ada kehidupan di dalam rumah itu. Aku ingin menulis pesan di pintu kamar Aga karena memang aku sangat perlu dengannya.
Sementara aku sedang menuliskan pesan, samarsamar terdengar suara televisi dari dalam kamar Dhea, di depan kamar Aga, pertanda ada seseorang di dalam kamarnya. Aku memastikan kalau yang di dalam kamar itu adalah Dhea, bukannya orang lain.
Aku mengetuk pintu perlahan sambil memanggil nama Dhea. Tidak beberapa lama kemudian pintu dibuka kirakira sekepalan tangan dan aku melihat wajah Dhea tampak dari celah pintu yang terbuka.
Eh, Mas.. cari Mas Aga yaa.. Tadi pagi sih ditungguin, tapi Mas Aga buruburu berangkat Mas, jawabnya sebelum aku bertanya.
Entah mengapa, ketika menatap mata Dhea yang sayu itu, pikiranku jadi teringat masamasa indah yang pernah kami alami dulu.
Aku sambil tersenyum menatapnya seraya bertanya, Kamu nggak ke kantor hari ini?
Lagi kurang enak badan nih, Mas, tadi Dhea bangunnya kesiangan, jadi males banget ke kantor, jawabnya singkat, sambil menggigit bibir bawahnya. Ada rasa menyesal kenapa dia harus membolos ke kantor hari ini.
Terus, Aga biasanya jam berapa pulangnya, Dhea?, tanyaku sekedar berbasabasi.
Mestinya sih jam 5 nanti, tapi mungkin bisa lebih lama, soalnya Mas Aga hari ini ada tugas kelompok bersama temanteman trainingnya, jawabnya agak kesal.

Saat itu kirakira jam 1 siang berarti Aga pulang kirakira 4 atau 5 jam lagi, pikiranku mulai nakal.
Aku mencoba mencari bahan pembicaraan yang kirakira bisa memperpanjang obrolan kami agar aku bisa lebih dekat dengan Dhea. Agak lama aku terdiam. Aku memandang matanya, memandang bibirnya yang basah. Bibirnya yang dipoles warna merah menambah sensual bentuknya yang tipis dan memang sangat indah itu. Semakin lama aku melihatnya semakin aku berfantasi macammacam. Sungguh, jantungku degdegan saat itu. Mata Dhea tidak berkedip sekejap pun membalas tatapan mataku. Sebuah desiran hangat mengalir keras di dadaku, dan aku sungguh yakin Dhea pun masih memiliki getar rasa yang sama denganku.
Setelah agak lama kami terdiam, Temanteman kamarmu yang lain lagi pada kemana semua, Dhea?, dengan mata menatap sekeliling aku bertanya sekenaku, menanyakan keberadaan anakanak kost yang lain.
Mas ini mau nyari Mas Aga atau.., katakatanya terputus tapi aku bisa menerjemahkan kelanjutan kalimatnya dari senyuman di bibirnya.
Akhirnya aku memutuskan untuk to the point aja.
Aku juga pengin ketemu denganmu, Dhea!, jawabku berpurapura.
Dia tertawa pelan, Mas, kenapa, sih?, ia memandangku lembut.
Boleh aku masuk, Dhea? Ada sesuatu yang ingin kubicarakan denganmu,, jawabku lagi.
Sebentar, ya.. Mas, kamar Dhea lagi berantakan nih!
Dhea lalu menutup pintu di depanku. Tidak beberapa lama berselang pintu terbuka kembali, lalu dia mempersilakan aku masuk ke dalam kamarnya. Aku duduk di atas kasur yang digelar di atas lantai. Dhea masih sibuk membereskan pakaianpakaian yang bertebaran di atas sandaran kursi sofa. Aku menatap tubuh Dhea yang membelakangiku. Saat itu dia mengenakan kaos ketat warna kuning yang memperlihatkan pangkal lengannya yang mulus. Aku memandang pinggulnya yang ditutup oleh celana pendek. Tungkainya panjang serta pahanya bulat dan mulus.
Kejantananku menjadi tegang memandang semua keindahannya, ditambah dengan khayalanku dulu, ketika aku memiliki kesempatan membelaibelai lembut kedua pangkal pahanya itu. Kemudian Dhea duduk di sampingku. Lututnya ditekuk sehingga celananya agak naik ke atas membuat pahanya semakin terpampang lebar. Kali ini tanpa malumalu aku menatapnya dengan sepengetahuan Dhea. Dia mencoba menarik turun agak ke bawah ujung celananya untuk menutupi pahanya yang sedang aku nikmati.
Mas, mau bicara apa, sih?, katanya tibatiba.
Saat itu otakku berpikir cepat, aku takut kalau sebenarnya aku tidak punya bahan pembicaraan yang berarti dengannya. Soalnya dalam pikiranku saat itu cuma ada khayalankhayalan untuk bercinta dengannya.
Mmm.. Dhea.. aku beberapa hari ini sering bermimpi,, kataku berbohong. Entah dari mana aku mendapatkan kalimat itu, aku sendiri tidak tahu tetapi aku merasa agak tenang dengan pernyataan itu.
Mimpi tentang apa, Mas?, kelihatannya dia begitu serius menangapiku dilihat dari caranya memandangku.
Tentang kamu, Dhea, jawabku pelan.
Bukannya terkejut, malah sebaliknya dia tertawa mendengar bualanku. Sampaisampai Dhea menutup mulutnya agar suara tawanya tidak terdengar terlalu keras.
Emangnya Mas, mimpi apa sama aku?, tanyanya penasaran.
Ya.. biasalah, kamu juga pasti tahu, jawabku sambil tertunduk.
Tibatiba dia memegang tanganku. Aku benarbenar terkejut lalu menoleh ke arahnya.
Mas ini adaada saja, Mas kan sekarang sudah punya yang di rumah, lagian aku juga kan sudah punya pacar, masa masih mau mimpimimpiin orang lain?
Makanya aku juga bingung, Dhea. Lagian kalaupun bisa, aku sebenarnya nggak ingin bermimpi tentang kamu, Dhea, jawabku purapura memelas.
Kami samasama terdiam. Aku meremas jemari tangannya lalu perlahan aku mengangkat menuju bibirku. Dia memperhatikanku pada saat aku melabuhkan ciuman mesra ke punggung tangannya. Aku menggeser posisi dudukku agar lebih dekat dengan tubuhnya.
Aku memandangi wajahnya. Mata kami berpandangan. Wajahku perlahan mendekati wajahnya, mencari bibirnya, semakin dekat dan tibatiba wajahnya berpaling sehingga mulutku mendarat di pipinya yang mulus. Kedua tanganku kini bergerak aktif memeluk tubuhnya.
Tangan kananku menggapai dagunya lalu mengarahkan wajahnya berhadapan dengan wajahku. Aku meraup mulutnya seketika dengan mulutku. Dhea menggeliat pelan sambil menyebutkan namaku. Salam Pramuka

Mas.., cukup mas!, tangannya mencoba mendorong dadaku untuk menghentikan kegiatanku.
Aku menghentikan aksiku, lalu purapura meminta maaf kepadanya.
Maafkan aku, Dhea.. aku nggak sanggup lagi jika setiap malam memimpikan dirimu, aku purapura menunduk lagi seolaholah menyesali perbuatanku.
Aku mengerti Mas, aku juga nggak bisa menyalahkan Mas karena mimpimimpimu itu.
Bagaimanapun juga, kita pernah merasa deket Mas, sepertinya Dhea memaafkan dan memaklumi perbuatanku barusan.
Aku menatap wajahnya lagi. Ada semacam kesedihan di wajahnya hanya saja aku tak tahu apa penyebabnya. Pipinya masih kelihatan memerah bekas cumbuanku tadi.
Aku juga ingin membantu Mas agar tidak terlalu memikirkanku lagi, tapi.. kalimatnya terputus.
Dalam hati aku tersenyum dengan kalimat ingin membantu.. yang diucapkannya.
Dhea, aku cuma ingin pergi berdua denganmu, sekali saja.., sebelum kamu benarbenar menjadi milik Aga. Agar aku bisa melupakanmu, kataku memohon.
Kita kan samasama sudah ada yang punya, Mas.., nanti kalau ketahuan gimana?
Nah, kalau sudah sampai disini aku merasa mendapat angin. Kesimpulannya dia masih mau pergi denganku, asal jangan sampai ketahuan sama Aga.
Seandainya ketahuan.. aku akan bertanggung jawab, Dhea, setelah itu aku memeluknya lagi.
Dan kali ini dia benarbenar pasrah dalam pelukanku. Malah tangannya ikut membalas memeluk tubuhku. Telapak tanganku perlahan mengelus punggungnya dengan mesra, sementara bibirku tidak tinggal diam menciumi pipi lalu turun ke lehernya yang jenjang. Dhea mendesah. Aku menciumi kulitnya dengan penuh nafsu. Mulutku meraup bibirnya. Dhea diam saja. Aku melumat bibirnya, lalu aku menjulurkan lidahku perlahan seiring mulutnya yang seperti mempersilakan lidahku untuk menjelajah rongga mulutnya. Nafasnya mulai tidak teratur ketika lidahku memilin lidahnya. Kesempatan ini aku gunakan untuk membelai payudaranya. Perlahan telapak tanganku aku tarik dari punggungnya melalui ketiaknya. Tanpa berhenti membelai, telapak tanganku kini sudah berada pada sisi payudaranya. Aku benarbenar hampir tidak bisa menguasai birahiku saat itu. Apalagi aku sudah sering membayangkan kesempatan seperti saat ini terulang lagi bersamanya. Kini telapak tanganku sudah berada di atas gundukan daging di atas dadanya. Tidak terlalu besar dan tidak terlalu kecil, justru yang seperti ini yang paling indah menurutku. Pada saat tanganku mulai meremas payudaranya yang sebelah kanan, tangan Dhea mencoba menahan aksiku. Payudaranya masih kencang dan padat membuatku semakin bernafsu untuk meremasremasnya.

Mas, jangan sekarang Mas.. Dhea takut.., katanya berulang kali.
Aku juga merasa tindakanku saat itu betulbetul nekat, apalagi pintu kamar masih terbuka setengah. Janganjangan ada orang lain yang melihat perbuatan kami. Wah, bisa gawat jadinya. Aku akhirnya berdiri dari tempat dudukku untuk menenangkan suasana. Aku bukanlah tipe lakilaki yang suka terburuburu dalam berbagai hal, khususnya dalam masalah percintaan. Aku kini duduk di kursi sofa menghadap Dhea, sedangkan Dhea masih di atas kasur sambil memperbaiki rambut dan kaosnya kuningnya yang agak kusut.
Mas, mau ngajak Dhea ke mana, sih, Dhea menatap wajahku.
Pokoknya tempat di mana tidak ada orang yang bisa mengganggu ketenangan kita, Dhea, jawabku sambil memandang permukaan dadanya yang baru saja aku remasreMas.
Dhea duduk sambil bersandar dengan kedua tangan di belakang untuk menahan tubuhnya. Payudaranya jadi kelihatan menonjol. Aku memandang nakal ke arah payudaranya sambil tersenyum. Kakinya diluruskan hingga menyentuh telapak kakiku.
Tapi kalau ketahuan.. Mas yang tanggung jawab, yaa.., katanya mencoba menuntut penjelasanku lagi, Aku mengangguk.
Terus kapan jalanjalannya, Mas?,
Gimana kalo besok sore jam 4, besok kan Jumat, bisa pulang lebih awal kan?, tanyaku.
Ketemu di mana?, tanyanya penasaran.
Kamu telepon aku, kasih tahu kamu lagi dimana saat itu, lalu aku akan menjemputmu di sana, gimana?, tanyaku lagi.
Dia tersenyum menatapku, Wah, Mas ternyata pintar banget untuk urusan begituan., Aku tertawa.
Tapi aku nggak mau kalau Mas nakalin aku kayak dulu lagi!!,, tegasnya.
Aku terkejut namun purapura mengiyakan, soalnya tadi aku merasa besok aku sudah bisa menikmati kehangatan tubuh Dhea seperti dulu lagi. Makanya besok sengaja aku memilih waktu sore hari karena aku ingin mengajaknya menginap, kalau dia mau. Namun aku diam saja, yang penting dia sudah mau aku ajak pergi, tinggal penyelesaiannya saja. Lagian ngapain dia mesti minta tanggung jawab, seandainya aku tidak berbuat apaapa dengannya, pikirku lagi. Ah, lihat besok sajalah. Pukul 3 siang, akhirnya aku harus kembali ke kantorku, di samping memang Dhea juga meminta aku segera pulang karena dia juga takut kalau tibatiba Aga memergoki kami sedang berdua di kamar.
Namun sebelum pulang aku masih sempat menikmati bibir Dhea sekali lagi waktu berdiri di samping pintu. Aku malah sempat menekan tubuh Dhea hingga punggungnya bersandar di dinding. Kesempatan ini aku gunakan untuk menekan kejantananku yang sedari tadi butuh penyaluran ke selangkangannya. Tetapi hal itu tidak berlangsung lama karena situasinya memang tidak memungkinkan.
Di kantor.., di rumah.. aku selalu gelisah. Kejantananku senantiasa menegang membayangkan apa yang telah dan akan aku lakukan terhadap Dhea nanti.

Keesokan harinya, disaat aku menunggu tibanya saat bertemu, aku merasa waktu berjalan begitu lambat. Hingga pukul 5 sore, seperti waktu yang telah kami sepakati kemarin, aku sedang menantinanti telepon dari Dhea. Aku mulai gelisah ketika 15 menit telah lewat, namun Dhea belum juga meneleponku. Aku mulai menghitung detikdetik yang berlalu hingga hampir setengah jam, dan tibatiba handphoneku berbunyi. Seketika aku mengangkat telepon itu.Dari seberang sana aku mendengar suara Dhea yang sangat aku nantinantikan. Dhea meminta maaf sebelumnya, karena kesibukannya hari itu tidak memungkinkan baginya untuk pulang dari kantor lebih awal. Banyak pekerjaannya yang menumpuk, karena kemarin ia tidak masuk ke kantor. Saat itu ia memintaku untuk menjemputnya di sebuah wartel dekat pertigaan di seberang kantornya. Aku langsung menyambar kunci mobil, lalu keluar dari kantorku dan bergegas menuju wartel tempat di mana Dhea sedang menungguku. Aku memarkir mobil di depan wartel itu, dan tak lama berselang aku melihat Dhea keluar dari wartel, dengan memakai kaos ketat warna orange bertuliskan Mickey Mouse (tokoh favoritnya) di bagian dadanya, dipadukan celana jeans warna abuabu. Blazer kerjanya telah ia lepas, dan ditenteng bersama tas kerjanya. Aku masih ingat, ia memang selalu tampil ke kantor dengan pakaian casual setiap hari Jumat. Dhea langsung naik ke atas mobilku, setelah memastikan tidak ada orang lain yang mengenalinya di tempat itu. Aku tersenyum memandangnya. Dhea kelihatan begitu cantik hari ini. Bibirnya tidak dipoles dengan lipstik merah seperti biasanya. Ia hanya menyapukan lipsgloss tipis, yang membuat jantungku semakin degdegan. Aku segera menancap gas menuju tol ke arah Ancol.

Selama di perjalanan, aku dan Dhea bercerita tentang berbagai hal, termasuk Aga dan kehidupan keluargaku. Sesampainya di Ancol aku mengajak Dhea untuk makan di sebuah rumah makan di tepi laut yang nuansa romantisnya sangat terasa. Tanpa canggung lagi aku memeluk pinggang Dhea, pada saat kami memasuki rumah makan tersebut. Dhea juga melingkarkan tangannya di pinggangku. Setelah memesan makanan dan minuman, aku memeluknya lagi. Tanganku bergerilya di sekitar pinggangnya yang terbuka. Suasana lesehan di rumah makan itu, yang ruangannya disekatsekat menjadi beberapa tempat dengan pembatas dinding bilik yang cukup tinggi, membuat aku bisa bertindak leluasa kepada Dhea.
Tadi malam mimpi lagi, nggak?, tanyanya memecah keheningan.
Nggak, tapi aku sempat gelisah nggak bisa tidur karena terus membayangkanmu, jawabku tanpa malumalu.
Dhea tertawa, sambil tangannya mencubit pinggangku. Hari sudah menjelang malam ketika kami meninggalkan tempat itu. Setelah berputarputar di sekitar lokasi pantai, akhirnya aku memutuskan untuk menyewa sebuah kamar pada sebuah cottages di kawasan Ancol. Semula Dhea menolak, karena dia takut kalau kami tidak bisa menahan diri. Aku akhirnya meyakinkan Dhea bahwa sebenarnya aku cuma ingin berdua saja dengannya, sambil memeluk tubuhnya, itu saja. Akhirnya Dhea mengalah. Ketika kami telah berada di dalam kamar cottages itu, Dhea tampak jadi pendiam. Dia duduk di atas kursi memandang ke arah laut, sementara aku rebahan di atas tempat tidur. Aku mencoba mencairkan suasana, dengan kembali bertanya mengenai kesibukan pekerjaannya hari itu. Selama aku bertanya kepadanya, ia cuma menjawab singkat dengan katakata iya dan tidak. Hanya itu yang keluar dari mulutnya.
Mas, pasti kamu menganggap aku cewek murahan, yaa.. kan?, akhirnya Dhea mau mulai membuka pembicaraan juga. Ternyata, dengan mengingat statusnya saat ini sebagai tunangan Aga, Dhea masih belum bisa menerima perlakuanku yang membawanya ke dalam cottages ini. Namun aku tidak menyesal karena dalam pikiranku sebenarnya dia sudah tahu apa yang akan terjadi, sejak kejadian kemarin siang di kamarnya. Tinggal bagaimana caranya aku bisa mengajaknya bercinta tanpa ada pemaksaan sedikitpun. Dhea, aku sudah bilang sejak kemarin kalau aku ingin berduaan saja bersamamu, sebelum Aga benarenar menikahi kamu. Aku hanya ingin memelukmu tanpa ada rasa takut, itu saja. Dan aku rasa di sinilah tempatnya, jawabku mencoba memberikan pengertian kepadanya.
Tetapi, apa Mas sanggup untuk tidak melakukan yang lebih dari itu?, Dhea menatapku dengan sorotan mata tajam.
Kalau kamu gimana?, aku malah balik bertanya.
Aku tanya, kok malah balik nanya ke aku sih?, ia bertanya dengan nada agak ketus.
Aku sanggup, Dhea, tegasku.
Akhirnya dia tersenyum juga. Dhea lalu berjalan ke arahku menuju tempat tidur lalu duduk di sampingku. Aku lalu merangkul tubuhnya dan membaringkan tubuhnya di atas kasur.
Janji ya, Mas..!, ujarnya lagi. Aku mengangguk. Kini aku memeluk tubuh indah Dhea dengan posisi menyamping, sedang Dhea rebah menghadap ke atas langitlangit kamar. Aku mencium pipinya, sambil jemariku membelaibelai bagian belakang telinganya. Matanya terpejam seolah menikmati usapan tanganku. Aku memandangi wajahnya yang manis, hidungnya yang mancung, lalu bibirnya. Aku tidak tahan untuk berlamalama menunggu, sehingga akhirnya aku memberanikan diri untuk mencium bibirnya. Aku melumat bibir tipis itu dengan mesra, lalu aku mulai menjulurkan lidahku ke dalam mulutnya. Mulutnya terbuka perlahan menerima lidahku. Cukup lama aku mempermainkan lidahku di dalam mulutnya. Lidahnya begitu agresif menanggapi permainan lidahku, sampaisampai nafas kami berdua menjadi tersengalsengal tidak beraturan. Sesaat kemudian, ciuman kami terhenti untuk menarik nafas, lalu kami mulai berpagutan lagi.. dan lagi.. Tangan kiriku yang bebas untuk melakukan sesuatu terhadap Dhea, kini mulai aku aktifkan. Aku membelai, meremasi pangkal lengannya yang terbuka. Aku membuka telapak tanganku, sehingga jempolku bisa menggapai permukaan dadanya sambil tetap membelai lembut pangkal lengannya. Bibirku kini turun menyapu kulit putih di lehernya seiring telapak tanganku meraup bukit indah payudaranya. Dhea menggeliat bagai cacing kepanasan terkena terik mentari. Suara rintihan berulang kali keluar dari mulutnya, disaat lidahku menjulur, menjilat, membasahi, menikmati batang lehernya yang jenjang.
Mas, jangan..!, Dhea mencoba menarik telapak tanganku yang kini sedang mereMas, menggelitik payudaranya. Aku tidak peduli lagi. Lagi pula dia juga tampaknya tidak sungguhsungguh untuk melarangku. Hanya mulutnya saja yang seolah melarang, sementara tangannya cuma sebatas memegang pergelangan tanganku, sambil tetap membiarkan telapak tanganku terus mengelus dan meremas buah dadanya yang mulai mengeras membusung. Salam Pramuka

Suasana angin pantai yang dingin di luar sana, sangat kontras dengan keadaan di dalam kamar tempat kami bergumul. Aku dan Dhea mulai merasa kegerahan. Aku akhirnya membuka kaosku sehingga bertelanjang dada.
Dhea, Mas sangat ingin melihat payudaramu, yang.., ujarku sambil mengusap bagian puncak puting payudaranya yang menonjol. Dhea kembali menatapku tajam. Mestinya aku tidak perlu memohon kepadanya karena saat itupun aku sudah membelai dan meremasremas payudaranya.
Tetapi entah mengapa aku lebih suka jika Dhea yang membuka kaosnya sendiri untukku. Tapi janji Mas yaa.., cuma yang ini aja, katanya lagi. Aku cuma mengangguk, padahal aku tidak tahu apa yang mesti aku janjikan lagi. Dhea akhirnya membuka kaos ketat warna orangenya di depan mataku. Aku terkagumkagum ketika menatap dua gundukan daging di dadanya, yang masih tertutup oleh sebuah berwarna bra berwarna hitam.
Payudara itu begitu membusung, menantang. Bukitbukit di dada Dhea naik turun seiring dengan desah nafasnya yang memburu. Sambil berbaring Dhea membuka pengait bra di punggungnya. Punggungnya melengkung indah. Aku menahan tangan Dhea ketika dia mencoba untuk menurunkan tali branya dari atas pundaknya. Justru dengan keadaan branya yang longgar karena tanpa pengait seperti itu, membuat payudaranya semakin menantang. Payudaranya sangat putih kontras dengan warna branya, sangat terawat dan sangat kencang, seperti yang selama ini selalu aku bayangbayangkan.
Payudaramu masih tetap bagus sekali. Dhea, kamu pintar merawat, yaa.., aku mencoba mengungkapkan keindahan pada tubuhnya.
Pantes si Aga jadi tergilagila sama dia,, pikirku.
Lalu, perlahanlahan aku menarik turun cup branya. Mata Dhea terpejam. Perhatianku terfokus ke puting susunya yang berwarna merah kecoklatan. Lingkarannya tidak begitu besar, namun ujungujung puncaknya begitu runcing dan kaku. Aku mengusap putingnya lalu aku memilin dengan jemariku. Dhea mendesah. Mulutku turun ingin mencicipi payudaranya.
Egkhh.., rintih Dhea ketika mulutku melumat puting susunya. Aku mempermainkan dengan lidah dan gigiku. Sekalisekali aku menggigit lembut putingnya, lalu aku hisap kuatkuat sehingga membuat Dhea menarik, menjambak rambutku. Puas menikmati buah dada yang sebelah kiri, aku mencium buah dada Dhea yang satunya, yang belum sempat aku nikmati. Rintihanrintihan dan desahan kenikmatan silih berganti keluar dari mulut Dhea. Sambil menciumi payudara Dhea, tanganku turun membelai perutnya yang datar, berhenti sejenak di pusarnya lalu perlahan turun mengitari lembah di bawah perut Dhea. Aku membelai pahanya sebelah dalam terlebih dahulu sebelum aku memutuskan untuk meraba bagian kewanitaannya yang masih tertutup oleh celana jeans ketat yang dikenakan Dhea. Secara tibatiba, aku menghentikan kegiatanku, lalu berdiri di samping ranjang.
Dhea tertegun sejenak memandangku, lalu matanya terpejam kembali ketika aku membuka pantalon warna hitam yang aku kenakan. Sengaja aku membiarkan lampu kamar cottage itu menyala terang, agar aku bisa melihat secara jelas detil dari setiap inci tubuh Dhea yang selama ini sering aku jadikan fantasi seksualku.

Aku masih berdiri sambil memandang tubuh Dhea yang tergolek di ranjang, menantang. Kulitnya yang putih membuat mataku tak jemu memandang. Perutnya begitu datar. Celana jeans ketat yang dipakainya telihat terlalu longgar pada pinggangnya namun pada bagian pinggulnya begitu pas untuk menunjukkan lekukan pantatnya yang sempurna. Puas memandangi tubuh Dhea, lalu aku membaringkan tubuhku di sampingnya. Aku merapikan untaian rambut yang menutupi beberapa bagian pada permukaan wajah dan leher Dhea. Aku membelai lagi payudaranya.
Aku mencium bibirnya sambil aku masukkan air liurku ke dalam mulutnya. Dhea menelannya. Tanganku turun ke bagian perut lalu menerobos masuk melalui pinggang celana jeansnya yang memang agak longgar. Jemariku bergerak lincah mengusap dan membelai selangkangan Dhea yang masih tertutup celana dalamnya. Dhea menahan tanganku, ketika jari tengah tanganku membelai permukaan celana dalamnya tepat diatas kewanitaannya. Dia telah basah.. Aku terus mempermainkan jari tengahku untuk menggelitik bagian yang paling pribadi pada tubuh Dhea. Pinggul Dhea perlahan bergerak ke kiri.., ke kanan.. dan sesekali bergoyang untuk menetralisir ketegangan yang dialaminya.
Mas, nanti kita terlalu jauh, Mas.., ujarnya perlahan sambil menatap sayu ke arahku. Matanya yang sayu ditambah dengan rangsangan yang tengah dialaminya, menambah redup bola matanya. Sungguh, aku semakin bernafsu melihatnya. Aku menggeleng lalu tersenyum, bahkan aku malah menyuruh Dhea untuk membuka celana jeans yang dipakainya. Tangan kanan Dhea berhenti pada permukaan kancing celananya. Ia kelihatan raguragu. Aku lalu berbisik mesra ke telinganya, kalau aku ingin memeluknya dalam keadaan telanjang seperti yang selama ini senantiasa aku mimpikan.
Dhea lalu membuka kancing dan menurunkan reitsliting celana jeansnya. Celana dalam hitam yang dikenakannya begitu mini sehingga rambutrambut pubis yang tumbuh di sekitar kewanitaannya hampir sebagian keluar dari pinggir celana dalamnya. Aku membantu menarik turun celana jeans Dhea. Pinggulnya agak dinaikkan ketika aku agak kesusahan menarik celana jeans itu. Posisi kami kini samasama tinggal mengenakan celana dalam. Tubuhnya tampak semakin seksi saja. Pahanya begitu mulus. Memang harus aku akui tubuhnya begitu menarik dan memikat, penuh dengan sex appeal. Dhea menarik selimut untuk menutupi permukaan tubuhnya. Aku beringsut masuk ke dalam selimut lalu memeluk erat tubuh Dhea. Kami berpelukan. Aku menarik tangan kirinya untuk menyentuh kepala kejantananku. Dia tampak terkejut ketika mendapatkan kejantananku yang tanpa penutup lagi. Memang, sebelum aku masuk ke dalam selimut, aku sempat melepaskan celana dalamku tanpa sepengetahuan Dhea. Aku tersenyum nakal.
Occhh.., Dhea semakin kaget ketika tangannya menyentuh kejantananku yang telah tegak menegang.
Kenapa, Dhea?, aku bertanya purapura tidak mengerti. Padahal aku tahu dia pasti terkejut karena merasakan betapa telah kuat dan kokohnya kejantananku saat ini. Dhea tersenyum malu. Sentuhan kejantananku di tangannya membuat Dhea merasa malu, tetapi hati kecilnya mau, ditambah sedikit rasa takut, mungkin.. Kini, Dhea mulai berani membelai dan menggenggam kejantananku. Belaiannya begitu mantap menandakan Dhea begitu piawai dalam urusan yang satu ini.
Tangan kamu semakin pintar yaa.., Dhea, ujarku sambil memandang tangannya yang mulai mengocokngocok lembut sekujur kejantananku.
Ya, mesti dong..,kan Mas yang dulu ngajarin Dhea!, jawabnya sambil cekikikan.
Mendapat jawaban pertanyaan seperti itu, entah mengenapa hasrat birahiku tibatiba menjadi semakin liar. Namun aku tetap berusaha bertahan untuk sementara waktu, sebelum aku merasakan ia benarbenar siap untuk berpaducinta denganku.
Sambil meresapi kenikmatan usapanusapan yang aku rasakan di sepanjang kulit batang kejantananku, jarijemariku yang nakal mulai masuk dari samping celah celana dalam Dhea. Telapak tanganku langsung menyentuh bibir kewanitaannya yang sudah merekah basah. Jari telunjukku membelaibelai sejumput daging kecil di dalam lepitan celahnya, sehingga Dheapun semakin merasakan nikmat semata.
Kamu mau mencium kejantananku nggak, Dhea?, tanyaku tanpa malumalu lagi.
Dhea tertawa sambil mencubit batang kejantananku. Aku meringis.
Kalau punya Mas yang sekarang, kayaknya Dhea nggak bisa?, ujarnya.
Kenapa memangnya, apa bedanya punya Mas yang dulu dengan yang sekarang?, tanyaku penasaran.
Yang sekarang kayaknya nggak muat di mulutku, soalnya rasanya tambah besar dari yang dulu.., selesai berkata demikian Dhea langsung tertawa kecil.
Kalau yang dibawah, gimana?, tanyaku lagi sambil menusukkan jari tengahku ke dalam lubang kewanitaannya.
Dhea merintih sambil menahan tanganku. Tetapi jariku sudah terlanjur tenggelam ke dalam liang senggamanya. Aku merasakan liang kewanitaannya berdenyut menjepit jariku. Oooch.., pasti nikmat sekali kalau saja kejantananku yang diurut, pikirku. Tibatiba, matanya memandang tajam ke arahku, dengan muka yang agak berkerut masam.
Kenapa, Dhea, ada apa yang?, aku bertanya sambil menarik tanganku dari liang kewanitaannya.
Aku tahu dia marah, tetapi apa sebabnya..?
Anak ini, kok aneh banget, jual mahal lagi, pikirku. ..atau dia ingat Aga, sehingga tibatiba ia merasa bersalah? ..terus ngapain dia mau aku cumbu sejak kemarin?, aku masih penasaran dengan sikapnya yang tibatiba berubah.
Mas kan sudah janji untuk tidak melakukannya, kan?, tibatiba Dhea berbicara. Aku terdiam.
Aku tadinya nggak mau kita masuk ke kamar ini, karena aku takut kita nggak bisa menahan keinginan untuk melakukannya lagi, Mas, tambahnya memberikan pengarahan kepadaku.
Bagaimanapun juga khusus untuk yang satu ini, Dhea tidak dapat memberikan buat Mas lagi. Bukan hanya Mas yang nggak tahan, aku juga sebenarnya sudah nggak tahan.. Aku nggak munafik, Mas. Tapi.. kumohon, please.. Mas mau mengerti posisiku sekarang, sambil berkata demikian Dhea mencium keningku.

Aku tidak tahu harus berbuat apa saat itu. Dalam posisi yang sudah samasama telanjang, kecuali Dhea yang masih mengenakan celana dalamnya, berdua di dalam sebuah kamar di tepi laut yang romantis, dapat dibayangkan apa sebenarnya yang bakal terjadi.
Tetapi kali ini tidaklah demikian. Bayanganku tentang kenikmatan saat bercinta dengan Dhea sirna sudah, atau setidaknya tidak dapat aku rasakan saat ini. Tapi sampai kapan? Aku jadi berpikiran untuk memaksanya saja melakukan persetubuhan, tetapi hal itu bertentangan dengan hati nuraniku. Akhirnya aku cuma bisa pasrah dan diam.
Kejantananku yang tadi aku rasakan telah tegang menantang, tibatiba menjadi lemas dalam genggaman tangan Dhea. Dhea meminta maaf kepadaku, menyadari kalau aku kecewa dengan pernyataannya. Aku merasa sudah tidak mungkin bisa untuk melanjutkan permainan cinta lagi. Aku akhirnya meminta ijin kepada Dhea untuk mandi. Sungguh,.. aku merasa kecewa sekali.
Di dalam kamar mandi, aku lama terdiam. Aku memandang tubuhku di depan cermin. Kemudian aku guyur tubuhku dengan air yang mengalir deras dari shower di atas kepalaku.
Aku ingin mendinginkan suhu tubuhku. Tibatiba, aku merasakan ada orang lain yang memelukku dari arah belakang. Aku terkejut, namun cuma sesaat setelah menyadari, ternyata Dhealah yang ada di belakangku. Dia tersenyum memandangku.
Ecchh.. kamu Dhea, jangan deketdeket acchh.., aku masih kesel nih!!, gumamku berpurapura sambil mencoba membalas senyumannya.
Aku ingin mandi bersamamu, Mas,.. boleh?, pintanya manja.
Aku tidak menjawab permintaannya. Aku langsung menarik tubuhnya untuk berhadapan denganku. Masih di bawah guyuran air yang mengalir dari shower, aku menangkap lengannya, lalu memandang tajam ke arahnya. Berulang kali tanganku mencoba mengusap wajah cantik sensualnya dari guyuran air. Rambutnya yang basah semakin menambah keerotisan wajahnya.
Dengan perlahan tanganku menangkap payudaranya dan mengusap, meremas kuat. Dhea meringis. Bukannya melarang, Dhea malah mengambil sabun, dan mulai menyabuni tubuhku. Mulamula dari dada, ke belakang punggung lalu menuju ke bawah, ke batang kejantananku.
Aku merasa aneh atas sikapnya yang berubahubah dan suka menggoda. Diusapnya lembut batang kejantananku yang sedikit demi sedikit mulai mengeras kembali. Tangannya yang penuh dengan busa sabun, begitu lembut mengocok batang kejantananku sehingga aku merasa sangat nikmat.
Aku tidak tinggal diam, aku membalas menyabuni sekujur tubuh Dhea. Aku mengikuti setiap gerakan yang dibuatnya terhadap tubuhku lalu aku mempraktekkan kepadanya. Aku membalikkan tubuh Dhea, sehingga kini ia membelakangiku.
Sengaja aku memposisikan tubuhnya berada di depanku, agar aku dapat melihat bagian depan tubuhnya pada permukaan cermin di depannya. Aku melihat ekspressi wajah Dhea pada permukaan cermin.

Mata kami beradu pandang, sementara tanganku membelaibelai payudaranya yang mulai mengeras. Aku mempermainkan puncakpuncak putungnya dengan jemariku, sementara tanganku yang satunya mulai meraba bulubulu lebat di sekitar liang kewanitaan Dhea.
Dengan sedikit membungkukkan tubuh, aku meraba permukaan bibir kewanitaan Dhea. Jari tengahku mempermainkan klitorisnya yang mengeras terkena siraman air. Batang kejantananku yang kini sudah siap tempur, berada dalam genggaman tangan Dhea.
Sementara aku merasakan, celah kewanitaan Dhea juga sudah mulai mengeluarkan cairan cinta yang meleleh melewati jemari tanganku yang kini sedang menyusuri lorong di dalamnya.
Aku membalikkan tubuh Dhea kembali, sehingga kini posisinya berhadaphadapan denganku. Aku memeluk tubuh Dhea sehingga batang kejantananku menyentuh pusarnya. Tanganku membelai punggungnya, lalu turun meraba bukitbukit pantatnya yang membulat indah.
Dhea membalas pelukanku dengan melingkarkan tangannya di pundakku. Kedua telapak tanganku meraih pantat Dhea. Aku meremas dengan sedikit agak kasar, lalu aku mengangkat agak ke atas, agar batang kejantananku berada tepat di depan gerbang kewanitaannya.
Kaki Dhea kini tak lagi menyentuh permukaan lantai kamar mandi. Kaki Dhea dengan sendirinya mengangkang ketika aku mengangkat pantatnya. Meski agak susah namun aku tetap berusaha agar batang kejantananku bisa masuk merasakan jepitan liang kewanitaan Dhea.
Aku merasakan kepala kejantananku sudah menyentuh bibir kewanitaan Dhea. Aku menekan perlahan, seiring dengan menarik buah pantatnya ke arah tubuhku. Dhea menggeliat. Aku merasa kesulitan untuk memasukkan batang batang kejantananku ke dalam liang kewanitaan Dhea, karena kejantananku yang terusterusan basah terkena air shower.
Akhirnya, aku mengangkat tubuh Dhea ke luar dari kamar mandi. Bagaimanapun juga aku tidak boleh menyianyiakan kesempatan ini, apalagi terbukti tadi, Dhea hanya diam saja ketika aku berusaha menyusupkan batang kejantananku ke liang senggamanya.
Pada saat aku membawanya menuju tempat tidur, Dhea melingkarkan kedua kakinya di pinggangku. Aku membaringkan tubuhnya di atas kasur. Lalu, dengan hatihati tubuhku menyusul menimpa ke atas tubuhnya. Kami tidak mempedulikan butiranbutiran air yang masih menempel di sekujur tubuh kami, sehingga membasahi permukaan kasur.
Aku menciumi lagi lehernya yang jenjang lalu turun melumat puting payudaranya. Telapak tanganku terus membelai dan meremasi setiap lekuk dan tonjolan tubuh Dhea. Aku kembali melebarkan kedua pahanya, sambil mengarahkan batang kejantananku ke bibir kewanitaan Dhea.
Dhea mengerang lirih. Matanya perlahan terpejam. Giginya menggigit bibir bawahnya untuk menahan laju birahinya yang semakin kuat. Aku menatap mata Dhea penuh hasrat nafsu. Bola matanya seakan memohon kepadaku untuk segera memasuki tubuhnya. Cerita Hot ABG

Aku ingin bercinta denganmu, Dhea, bisikku pelan, sementara kepala kejantananku masih menempel di belahan liang kewanitaan Dhea. Katakataku yang terakhir ini ternyata membuat wajah Dhea memerah.
Mungkin, ketika bersama Aga, dia jarang mendengar permintaan yang terlalu to the point begitu. Aku bisa memastikan, Dhea agak malu mendengarnya.
Aku berhenti sesaat untuk menunggu jawaban permohonanku kepadanya, karena bagaimana pun aku tidak mau melakukan persetubuhan tanpa memperoleh persetujuan darinya. Aku bukan tipe lakilaki yang demikian.
Bagiku berpaducinta adalah kesepakatan, sepakat berdasarkan kesadaran tanpa adanya unsur pemaksaan. Dhea menatapku sendu lalu mengangguk pelan sebelum memejamkan matanya. Bukan main rasa senangnya hatiku. Akhirnya.. ..yes!. Aku berjanji akan memperlakukannya dengan hatihati sekali, begitu yang ada dalam fikiranku.
Kini aku berkonsentrasi penuh dengan menuntun batang kejantananku yang perlahan mulai menyusup melesak ke dalam liang kewanitaan Dhea. Mulamula terasa seret memang, namun aku malah semakin menyukainya.
Perlahan namun pasti, kepala kejantananku membelah liang kewanitaannya yang ternyata begitu kencang menjepit batang kejantananku. Dinding dalam kewanitaan Dhea ternyata sudah begitu licin, sehingga agak memudahkan kejantananku untuk menyusup lebih ke dalam lagi. Dhea memeluk erat tubuhku sambil membenamkan kukukukunya di punggungku, hingga aku agak kesakitan. Namun aku tak peduli.
Mas, gede banget, occhh.., Dhea menjerit lirih. Tangannya turun menangkap batang kejantananku.
Pelan maas.., ujarnya berulang kali, padahal aku merasa aku sudah melakukannya dengan begitu pelan dan hatihati. Mungkin karena lubang kewanitaannya tidak pernah lagi dimasuki batang kemaluan seperti milikku ini. Soalnya aku tahu pasti ukuran kejantanan Aga, pacar Dhea tidaklah sebesar yang aku miliki. Makanya Dhea agak merasa kesakitan.
Akhirnya batang kejantananku terbenam juga di dalam kewanitaan Dhea. Aku berhenti sejenak untuk menikmati denyutandenyutan yang timbul akibat kontraksi otototot dinding kewanitaan Dhea.
Denyutan itu begitu kuat, sampaisampai aku memejamkan mata untuk merasakan kenikmatan yang begitu sempurna. Aku melumat bibir Dhea sambil perlahanlahan menarik batang kejantananku,.. untuk selanjutnya aku benamkan lagi, masuk.., keluar.., masuk.., keluar..
Aku meminta Dhea untuk membuka kelopak matanya. Dhea menurut. Aku sangat senang melihat matanya yang semakin sayu menikmati batang kejantananku yang keluar masuk di dalam kewanitaannya.
Aku suka kewanitaanmu, Dhea, kewanitaanmu masih tetap rapet, yang, ujarku sambil merintih keenakan. Sungguh, liang kewanitaan Dhea masih terasa enak sekali.
Icchh.. Mas ngomongnya sekarang vulgar banget, balasnya sambil tersipu malu, lalu ia mencubit pinggangku.
Tapi enak kan, yang?, tanyaku, yang dijawab Dhea dengan sebuah anggukan kecil.
Aku meminta Dhea untuk menggoyangkan pinggulnya. Dhea langsung mengimbangi gerakanku yang naik turun dengan goyangan memutar pada pinggangnya.
Suka batang kejantananku, Dhea?, tanyaku lagi. Dhea hanya tersenyum. Batang kejantananku terasa seperti diremasreMas. Masih ditambah lagi dengan jepitan liang senggamanya yang sepertinya punya kekuatan magis untuk menyedot meluluh lantakkan otototot kejantananku.
Makin pintar saja dia menggoyang, batinku dalam hati.
Occhh.., aku menjerit panjang. Rasanya begitu nikmat. Aku mencoba mengangkat dadaku, membuat jarak dengan dadanya, dengan bertumpu pada kedua tanganku. Dengan demikian aku semakin bebas dan leluasa untuk mengeluarmasukkan batang kejantananku ke dalam liang senggama Dhea.
Aku memperhatikan dengan seksama kejantananku yang keluar masuk lincah di sana. Dengan posisi seperti ini aku merasa begitu jantan. Dhea semakin melebarkan kedua pahanya, sementara tangannya melingkar erat di pinggangku. Gerakan naik turunku semakin cepat mengimbangi goyangan pinggul Dhea yang semakin tidak terkendali.
Dhea.. enak banget, yang, kamu makin pintar, yang.., ucapku merasa keenakan.
Kamu juga, Mas.., Dhea juga enakk.., , jawabnya agak malumalu.
Dhea merintih dan mengeluarkan eranganerangan kenikmatan. Berulang kali mulutnya mengeluarkan katakata, aduh..occhh.., yang diucapkan terputusputus. Aku merasakan liang senggama Dhea semakin berdenyut sebagai pertanda Dhea akan mencapai puncak pendakiannya.
Aku juga merasakan hal yang sama dengannya. Namun aku mencoba bertahan dengan menarik nafas dalamdalam, lalu menghembuskannya pelanpelan, untuk menurunkan daya rangsangan yang aku alami. Aku tidak ingin segera menyudahi permainan ini dengan tergesagesa.
Aku mempercepat goyanganku ketika aku menyadari Dhea hampir mencapai orgasmenya. Aku meremas payudaranya kuatkuat, seraya mulutku menghisap dan menggigiti puting susu Dhea. Aku menghisap dalamdalam.
Occhh.. Mas.., jerit Dhea panjang.

Aku membenamkan batang kejantananku kuatkuat ke liang senggamanya hingga mencapai dasar rongga yang terdalam. Dhea mendapatkan kenikmatan yang sempurna. Tubuhnya melengkung indah dan untuk beberapa saat lamanya tubuhnya mengejang. Kepalaku ditarik kuatkuat hingga terbenam di antara dua bukit payudaranya. Pada saat tubuhnya menghentakhentak, ternyata aku merasa tidak sanggup lagi untuk bertahan lebih lama.
Dhea.. aakuu.. mau keluaarr.. saayang.. occhh.. hh.., jeritku.
Aku ingin menarik keluar batang kejantananku dari dalam liang senggamanya. Namun Dhea masih ingin tetap merasakan orgasmenya, sehingga tubuhku serasa dikunci oleh kakinya yang melingkar di pinggangku.
Saat itu juga aku merasa hampir saja memuntahkan cairan hangat dari ujung kejantananku yang hampir meledak. Aku merasakan tubuhku bagaikan layanglayang putus yang melayang terbang, tidak berbobot. Aku tidak sempat menarik keluar batang kejantananku lagi, karena secara spontan Dhea juga menarik pantatku kuat ke tubuhnya, berulang kali.
Mulutku yang berada di belahan dada Dhea menghisap kuat kulit putihnya, sehingga meninggalkan bekas merah pada disana. Telapak tanganku mencengkram buah dada Dhea. Aku meraup semuanya, sampaisampai Dhea merasa agak kesakitan.
Aku tak peduli lagi. Hingga akhirnya.. plash.. plash.. plash.. (8X), spermaku akhirnya muncrat membasahi lubang sorganya. Aku merasakan nikmat yang tiada duanya ditambah dengan goyangan pinggul Dhea pada saat aku mengalami orgasme.
Tubuhku akhirnya lunglai tak berdaya di atas tubuh Dhea. Batang kejantananku masih berada di dalam liang kenikmatan Dhea. Dhea mengusapusap permukaan punggungku.
Kamu menyesal, Dhea?, ujarku sambil mencium pipinya. Dhea menggeleng pelan sambil membalas membelai rambutku. Aku tersenyum kepadanya. Dhea membalas.
Aku meyandarkan kepalaku di dadanya. Jam telah menunjukkan pukul 21:00 dan aku mesti cepat pulang ke rumah, karena tadi aku tidak sempat membuat alasan untuk pulang terlambat. Begitu pula dengan Dhea, yang saat itu telah memiliki kebiasan baru selayaknya calon pasangan suami istri, yaitu makan malam bersama Aga di rumah kost mereka.

Post Terkait

8total visits,1visits today