cerita sex

CERITA MESUM JADI KESAYANGAN TANTE GIRANG

Tante Dinda yang memang keturuan china wajah oriental ini berumur 40an tahun sama dengan tante Helena dia juga seumuran, bedanya tante Helena ditinggal suaminya yang rupanya sudah memliki istri kedua tanpa sepengetahuan tante Helena, dari segi wajah mending tante Dinda karena masih kencang ketimbang tante Helena, mungkin juga kebanyakan pikiran jadi tante Helena.

Saat itu aku yang sedang jalan jalan di sebuah mall unutk mencari makanan dan kongkow tak menyangka bertemu dengan tante Helena yang mana disaat itu juga ada tante Dinda , tante Helena mengenalkanku dengan tante Dinda sebgai ponakan yang jauh. Kami pun bertemu kemudian kita makan bersama.

Setelah habis dari makan tante Helena mengajak jalan jalan untuk melihat pakain di dalam mall, aku hanya mengikuti dia dari belakang entah apa yang dibicarakan mereka berdua dia berbisik bisik dan senyum senyum aku lihat lirikan tante Dinda yang genit mencuri curi perhatiannku tak lama kemudian setelah jalan jalan di mall tante Dinda pulang duluan karena sudah sore.

“Oke, Mil. Aku pulang dulu ya, hampir sore nih. Sampai ketemu lagi Herry” kata Tante Dinda sambil tersenyum penuh arti kepadaku yang membuat aku tambah bingung dan dia melenggang menuju carcall untuk memanggil sopirnya.

Sepeninggal Tante Dinda kami menuju food court untuk membeli minum dan istirahat. “Her, menurut kamu Tante Dinda gimana?” tanye Tante Helena padaku setelah membeli minum dan duduk ditempat yang agak memojok dan meminum minumannya.

“Mmm.. gimana apanya Tante?” jawabku bingung mendengar pertanyaan Tante Helena sambil menyedot minuman ringan yang aku pesan.

“Ah kamu ini, pura-pura nggak ngerti apa emang nggak ngerti? Ya sifat orangnyalah, bodynyalah, facenyalah dan lain-lainnyalah” jawab Tante Helena agak sewot.

“Oo, kalo sifatnya sih saya belum tau bener, kan baru sekali ketemu, tapi keliatannya orangnya baik dan ramah, terus kalo face dan bodinya mm.. biasa-biasa aja tuh” jawabku sambil tersenyum.

“Emang kenapa Tante, kok Tante tanya gitu? Bikin aku bingung aja. Terus tadi ngomongin apa sih? Kok pake bisik-bisik terus Tante Dinda jadi aneh sikapnya” tanyaku pada Tante Helena.

“Her, kamu tahukan kalo Tante Dinda itu sudah lama hidup sendiri sejak pisah sama suaminya. Nah tadi waktu Tante Dinda  lihat kamu dia langsung tertarik sama kamu, dan dia nanyain tentang kamu terus ke Tante sebab dia nggak percaya kalo kamu itu keponakan jauh Tante, jadi Tante terpaksa cerita dech kedia siapa kamu sebenernya.

Kamu jangan marah ya, abis Tante Dinda itu suka maksa kalo keinginannya belum kesampaian” jawab Tante Helena.

“Terus.. mm.. dia pengen sama kamu Her.. gimana? Kamu mau nggak?” tanya Tante Helena dengan wajah serius.

“Wah gimana ya, repot juga nich kalo sampai dia ngomong-ngomong ke orang lain, bisa tercemar nama Tante. Kalo menurut Tante dia bisa jaga rahasia kita dengan cara gitu ya sudah, saya akan layani dia” jawabku serius juga.

“Tapi nanti kamu jangan lupain Tante ya kalo sudah dekat sama dia” kata Tante Helena was-was.

“Ah Tante ini ada-ada saja, nggak mungkinlah saya lupa sama Tante, sayakan kenal Tante dulu baru Tante Yo” jawabku menghibur Tante Helena yang terlihat agak sedih dari ekspresi mukanya.

“Yah.. sapa tahu kamu bisa dapet lebih dari Tante Dinda dan lupain Tante deh” katanya lagi sambil menghembuskan nafas.

“Jangan kuatir Tante, saya bukan tipe orang yang gampang ngelupain jasa baik orang kepada saya, jadi Tante tenang saja” jawabku kemudian.

“Okelah kalo gitu nanti Tante hubungi Tante Dinda, biar dia nanti hubungi kamu” kata Tante Helena kemudian. Setelah itu Tante Helena lebih banyak diam entah apa yang ada dalam pikirannya dan tak lama kemudian kamipun pulang.

Malamnya Tante Dinda menghubungi aku lewat telepon. “Hallo Herry, ini Tante Dinda masih ingatkan?” tanya Tante Dinda dari seberang.

“O iya masih, kan baru tadi siang ketemu, ada apa Tante?” jawabku sambil bertanya.

“Tadi Tante Helena sudah cerita belum sama kamu tentang Tante?” tanyanya lagi.

“Sudah sih, mm.. memang Tante serius?” tanyaku lagi pada Tante Dinda.

“Serius dong, gimana kamu okekan?” tanya Tante Dinda lagi.

“Kalo gitu oke dech” jawabku singkat. Lalu kami bercakap-cakap sebentar dan kami akhirnya kami janjian besok pagi dilobby hotel “XX” didaerah jakarta barat dan dia akan datang lebih awal karena akan check-in dulu, setelah itu teleponpun ditutup.

Keesokannya seperti biasa aku memakai baju rapi seperti orang kerja supaya tidak terlalu menyolok dan aku menunggu di lobby hotel tersebut karena aku juga datang lebih awal, tak lama aku menunggu teleponku berdering.

“Hallo Herry, ini Tante Dinda. Tante sudah ada diatas, kamu langsung naik aja di kamar 888 oke? Tante tunggu ya” kata Tante beritahukan kamarnya.

“Oke Tante saya segera kesana, saya juga sudah di lobby” jawabku singkat dan menutup pembicaraan. Setelah mematikan teleponku agar tidak diganggu, aku naik lift menuju kamar Tante Dinda. Sampai didepan pintu kutekan bel dan Tante Dinda membukakan pintu.

“Ayo masuk, udah daritadi Tante sampai dan langsung check-in. O ya, kamu mau minum atau mau pesan makan apa? tadi sih Tante sudah pesan makan dan minum untuk dua orang, tapi kalau kamu mau pesan yang lain pesan saja, jadi sekalian nanti diantarnya” kata Tante Dinda sambil mempersilahkan aku masuk dan menutup pintu.

“Yah sudah kalau Tante sudah pesan, nggak usah pesan lagi, nanti kebanyakan makanan malah bingung” jawabku.

“Kok bingung kan buat gantiin tenaga kamu he he he” jawab Tante Dinda bercanda. Kemudian Tante Dinda duduk di sofa besar yang ada didalam kamar itu dan aku duduk di sebelahnya, kami berbincang-bincang sambil menonton TV lalu aku mendekati Tante Dinda dan memeluk pundaknya, kemudian Tante Dinda merebahkan kepalanya kepundakku, kubelai rambutnya dan kukecup kening Tante Dinda.

“Mmm.. kamu romantis ya Her, pantes Helena suka sama kamu. hh.. sudah lama Tante nggak merasakan suasana romantis seperti ini” kata Tante Dinda sambil menghembuskan nafas. “Ya sudahlah Tante, yang penting hari ini Tante akan merasakan hangat dan romantisnya cinta, karena hari ini aku milik Tante sepenuhnya” jawabku menghibur dia sambil kukecup lagi keningnya.

Tante Dinda menatapku sendu sambil tersenyum. “Terima kasih sayang” kata Tante Dinda. Dan kutatap matanya yang sendu dalam-dalam lalu kukecup bibirnya. Kecupanku dibibirnya perlahan berubah menjadi ciuman lembut yang dibalas Tante Dinda dengan lembut juga, sepertinya Tante Dinda benar-benar ingin merasakan nikmatnya berciuman yang sudah lama tidak dirasakannya.

Kami saling cium, saling kulum, dan saling memainkan lidah kemulut pasangan kami. Kugelitik lidah Tante Dinda dengan lidahku dan kusapu langit-langit mulutnya sambil kupeluk tubuhnya dan kuraba wajah dan tengkuk serta lehernya dengan tanganku yang lainnya.

“Ahh sayang, aku suka sekali ciuman kamu, mm.. ciuman kamu lebut dan merangsang, mm.. kamu memang pintar berciuman, ahh.. ayo sayang beri Tante yang lebih dari ini” kata Tante Dinda disela-sela ciuman kami dan berciuman lagi. Markas Cerita Mesum

Tanganku mulai bergerak meremas kedua payudara milik Tante Dinda bergantian. Tapi aksi kami terganggu oleh pelayan yang mengantar makanan yang dipesan oleh Tante Dinda . Setelah pelayan keluar dan Tante Dinda memberikan tip, tiba-tiba Tante Dinda menabrak aku dan mendorong aku hingga terjatuh diatas tempat tidur dan dengan buas dia langsung memelorotkan celana dan celana dalamku, hingga penisku yang masih tidur terbebas dari sarangnya dan langsung diterkam olehnya.

Disedot, dikulum dan digigitnya penisku yang mulai bangkit dengan napsu dan buas, dan kedua tangannya tak henti-henti mengocok dan memainkan kedua bolaku. “Ahh Tante.. pelan-pelan Tante.. ahh.. enak sekali Tante.. ohh” desahku menahan nikmat yang diberikan oleh Tante Dinda padaku.

Tanganku hanya bisa meremas rambut Tante Dinda dan seprei kasur yang sudah mulai berantakan, tak lama kemudian kulepaskan kepala Tante Dinda dari penisku, kuangkat Tante Dinda dan kurebahkan dikasur.

“Sekarang giliranku, Tante diam saja dan nikmati permainan ini ya” kataku sambil mengecup bibir Tante Dinda dan mulai mencumbu Tante Dinda sementara Tante Dinda hanya diam saja sambil menatapku dengan sendu.

Kumulai cumbuanku dengan menciumi bibirnya dan perlahan turun kelehernya sambil kubuka kancing baju Tante Dinda satu persatu sambil terus turun kedadanya. Setelah kancing bajunya terbukan semua.

Kuraih pengait BH yang ada dibelakang dan kubuka sehingga ikatan BHnya terbuka dan ku lepaskan BH Tante Dinda lewat kedua tangannya tanpa melepas baju Tante Dinda, setelah lepas langsung kuciumi kedua payudara Tante Dinda.

Kuciumi seluruhnya kecuali putingnya yang sudah berdiri mengacung minta dikulum tapi tidak pernah kukulum, setiap kali ciuman dan jilatanku sudah dekat dengan putingnya ciuman dan jilatanku turun lagi kepangkal payudaranya dan terus turun sampai ke perut dan bermain-main dipusar sambil kujilati lubang pusar Tante Dinda lalu naik lagi terus berulangkali, kusingkap rok yang dipakai oleh Tante Dinda kemudian tanganku mulai bekerja meraba-raba paha dan lutut Tante Dinda lalu mulai melepaskan celana dalam yang dipakai oleh Tante Dinda.

Ketika permainan mulutku mencapai perutnya kutarik celana dalam Tante Dinda, dan Tante Dinda mengangkat pantatnya sehingga celana dalamnya dengan mudah lepas dari tempatnya. Kupelorotkan celana dalam Tante Dinda sampai sebatas lutut lalu ciumanku naik lagi kearah payudaranya.

Dan ketika jilatanku mendekati puting Tante Dinda tangankupun mendekati vagina Tante Dinda dan ketika bibir dan lidahku mulai memainkan puting Tante Dinda tangan dan jari-jariku juga mulai bermain dibibir vagina Tante Dinda yang ternyata sudah basah.

Ketika kukulum puting Tante Dinda yang sudah berdiri dari tadi kumainkan juga kelentitnya dengan jari-jari tanganku yang seketika itu juga membuat tubuh Tante Dinda melengkung keatas.

“Akhh.. Herry.. kamu benar-benar gila sayang, kamu kejam sekali mempermainkan Tante.. akhh.. Herry enak sekali sayang.. akhh.. gila.. kamu bener-bener gila sayang” teriak Tante Dinda histeris sambil tangannya meremas seprei dan rambut kepalaku bergantian.

Tak kuhiraukan teriakan Tante Dinda dan aku terus mengulum kedua puting dan menjilati kedua payudara Tante Dinda bergantian. Tak lama kemudian kurasakan vagina Tante Dinda bertambah basah dan tubuhnya mulai bergetar keras yang disertai erangan-erangan, akhirnya Tante Dinda mendapatkan orgasme pertamanya.

Pada saat tubuhnya mulai tenang, kulepaskan cumbuanku di payudaranya dan langsung kuangkat kedua kakinya sehingga kepalaku dengan mudah menuju kevaginanya dan langsung kujilat dan kukulum serta kusedot-sedot vagina dan kelentit Tante Dinda.

“Akhh.. ahh.. gila.. ini namanya penyiksaan kenikmatan.. ahh.. kamu memang gila sayang.. ahh.. aku nggak kuat lagi sayang.. ahh.. terus sedot yang kuat sayang.. ahh.. tusuk dengan jarimu sayang.. ahh.. tusuk yang kuat.. ahh sayang.. Tante mau.. ahh.. mau dapet lagi sayang.. ahh.. kamu benar-benar gila” teriak Tante Dinda histeris memohon, lalu tubuhnya mulai bergetar lagi merasakan orgasme kedua yang datang menghampirinya.

Kuturuti permintaanya dengan menusukan jariku dan kumainkan jariku dengan menyentuhkan jariku kedinding vaginanya yang berkedut-kedut sambil terus bibir dan lidahku memainkan perannya dikelentit Tante Dinda.

Tubuh Tante Dinda bergetar keras dan pinggulnya bergoyang-goyang mengikuti irama tusukan jariku sambil tak henti-hentinya menjerit-jerit histeris sambil kedua tangannya meremas dan menjambak-jambak rambutku.

“Ahh.. Herry.. sayang.. ahh.. enak sayang.. ahh.. sodok yang keras sayang.. ahh.. sedot itilku yang kuat.. ahh.. yang kuatt..

” jerit histeris Tante Dinda mengantar orgasmenya yang kedua itu. Dan ketika tubuh Tante Dinda sudah hampir tenang lagi, kuhentikan juga semua aktivitasku dan kulepas celana dalam Tante Dinda yang masih sebatas lulut sehingga lepas semua.

Lalu kuatur posisiku dan kutusukkan penisku kedalam lubang vagina Tante Dinda. “Okhh.. jangan dulu sayang.. jangan.. ahh.. stop sayang.. stop.. biar Tante istirahat dulu” pinta Tante Dinda padaku, tapi aku tidak menghiraukan permintaanya sambil terus kutusukan penisku sampai masuk seluruhnya dan mulai kugoyang, kuputar dan kukocok penisku dalam vagina Tante Dinda.

Tak lama kemudian kuangkat tubuh Tante Dinda hingga posisi Tante Dinda kini dalam pangkuanku, dan dalam posisi Tante Dinda sedang menaik turunkan pantat dan menggoyangkan pinggulnya kulepas baju Tante Dinda yang masih melekat dan kulemparkan entah kemana lalu kubuka pengait dan resleting rok Tante Dinda dan kulepas rok Tante Dinda dari atas dan kulemparkan juga entah kemana hingga kini tidak ada selembar benangpun yang menempel ditubuh Tante Dinda lalu akupun melepaskan bajuku sendiri dan kulemparkan sembarangan.

Setelah melepaskan baju mulai kuputar-putar pantatku hingga penisku lebih menggesek dinding vagina Tante Dinda. “Akhh.. sayang.. ahh.. kamu memang gila sayang.. ahh.. kamu.. ahh.. kamu memang gila.. ohh.. penis kamu benar-benar.. ahh.. kamu pintar sekali sayang.. pintar dan gila.. ahh.. Tante mau.. ahh.. mau keluar lagi.. ahh.

Tante nggak kuat lagi sayang.. ahh” jerit Tante Dinda  histeris dan tubuhnya mulai bergetar mendapat orgasmenya yang ketiga, kurasakan cairan diliang vagina Tante Dinda bertambah banyak dan kurasakan juga kedutan-kedutan dari dinding vagina Tante Dinda.

Lalu kurebahkan tubuh Tante Dinda dan terus kugenjot penisku didalamnya yang sekali-kali kuputar-putar pinggulku, tubuh Tante Dinda tambah bergetar dengan kencang, goyangan dan kocokan penisku juga tambah kencang.

Lalu kumainkan tanganku dikelentitnya sambil kurebahkan kepalaku kedadanya dan kusedot dan kukulum dengan kuat juga kedua puting Tante Dinda bergantian dan kedutan-kedutan dinding vagina Tante Dinda juga bertambah kuat sehingga penisku merasakan sensasi yang membuat aku merasakan sesuatu yang akan segera meledak keluar.

“Akh.. Tante aku mau keluar Tante.. akhh.. aku keluar Tante” kataku disela-sela kuluman mulutku diputingnya sambil terus mengocok penisku dengan cepat dan kuat dalam liang vagina Tante Dinda.

“Ahh.. iya sayang.. ahh.. keluarkan saja.. ahh.. Tante juga.. ahh.. sudah nggak kuat lagi.. ahh” teriak Tante Dinda dan memelukku dengan erat sambil tubuhnya terus bergetar, kurasakan kuku-kukunya mencakar punggungku.

Lalu meledaklah cairan kenikmatan yang kukeluarkan dalam vagina Tante Dinda yang sudah basah sehingga bertambah basah lagi, ketika kenikmatanku meledak dan tubuhku bergetar kenikmatan kukocok dengan keras dan kuat penisku dalam vagina Tante Dinda sehingga ada cairan yang keluar dari dalam vagina Tante Dinda yang kurasakan dari tanganku yang basah karena masih memainkan kelentit Tante Dinda . Markas Cerita Mesum

Tubuh kami sama-sama bergetar dengan kencang, keringat kami bersatu dan seluruh ruangan dipenuhi oleh suara erangan dan jeritan kenikmatan yang kami dapatkan pada saat bersamaan.

Setelah tubuhku dan Tante Dinda mulai tenang kembali, kulepaskan penisku dari vaginanya yang sudah sangat basah, lalu kubersihkan vagina yang penuh dengan cairan kenikmatan kami berdua dengan sedotan dan jilatanku, kujilati sampai bersih dan sayup-sayup kudengan erangan pelan Tante Dinda yang memejamkan matanya merasakan kenikmatan yang baru saja dia dapatkan.

Setelah bersih kurebahkan tubuhku disamping Tante Dinda, lalu kupeluk dia dan kukecup pipi Tante Dinda. “Ahh.. terima kasih sayang.. terima kasih daun mudaku.. uhh.. rasanya tubuhku ringan sekali bagaikan kapas yang masih terbang diawang-awang, ahh.. nikmat sekali tadi kurasakan, kamu memang pintar sayang, baru sekali ini kurasakan orgasme beruntun seperti tadi, sampai lemas tubuh Tante” kata Tante Dinda sambil membuka matanya dan tersenyum padaku.

“Ah Tante Dinda bisa aja.. aku juga tadi nikmat sekali, kedutan dinding vagina Tante Dinda membuat penisku merasakan seperti diremas-remas, nikmat sekali” balasku sambil kuusap keringat yang ada di keningnya dan kukecup kening Tante Dinda , lalu aku bangkit dan menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuh yang penuh dengan keringat dan disusul oleh Tante Dinda dan kamipun saling membersihkan tubuh.

Selesai membersihkan tubuh dan dalam keadaan masih bugil kami lalu menyantap makanan yang tadi dipesan oleh Tante Dinda sambil bercakap-cakap dan bercanda, sedangkan tangan Tante Dinda tidak pernah lepas dari selangkanganku.

Selesai makan kami melanjutkan percakapan kami diatas tempat tidur sambil saling memeluk hingga akhirnya kamipun tertidur untuk memulihkan tenaga yang akan membuat pertarungan berikutnya lebih seru lagi. Dan mulai sejak itu jadilah aku daun muda kesayangan Tante Dinda dan Tante Helena.

Post Terkait

89total visits,3visits today