Cerita Sex

Eko di jakarta

Eko adalah seorang pemuda berumur sembilan belas tahun dengan tinggi badan 175cm, berkulit sawo matang, dan berwajah lumayan ganteng khas suku jawa. Dengan potongan rambut spike ala anak muda masa kini, si Eko semakin kelihatan gagah dan tampan.

Setelah menamatkan sekolahnya di sebuah SMK swasta di kampungnya, hanya dengan berbekal ijasah SMK itu Eko nekat mencoba mengadu nasib ke kota Jakarta kota metropolitan.

Setelah mendapatkan doa restu dari kedua orangtuanya, berangkatlah Eko hari itu ke Jakarta dengan berbekal uang secukupnya dan beberapa potong pakaian yang dia taruh di dalam tas ransel coklat yang digendongnya, serta secarik kertas berisikan alamat yang akan di tujunya sesampainua dia di kota jakarta. Ke Jakarta Eko menggantungkan harapan dan cita cita untuk kehidupan yang lebih baik.

“Mbak Santi…” Guman Eko sambil melihat kertas beriskan alamat yang akan di tujunya, sambil mengingat2 bagaimana tampang santi sekarang yang sudah selama empat tahun tak pernah ketemu lagi.

Sudah selama hampir empat tahun mbak Santi tidak pernah lagi pulang kampung. Hanya melalui surat dan telefon mbak Santi kadang memberikan kabar tentang keadaannya kepada kedua orangtuanya di kampung.

Mbak Santi inilah nantinya yang akan menampung Eko sementara sebelum dia mendapatkan pekerjaan dan bisa membiayai hidupnya sendiri selama mengembara di jakarta.

Santi, wanita yang di panggil mbak oleh Eko ini adalah wanita muda berusia duapuluh lima tahunan. Fisik dan penampilan mbak Santi biasa saja. wajahnya tidak jelek tapi juga tidak terlalu cantik. Semuanya serba biasa biasa saja tapi manis khas perempuan jawa. Itulah sedikit gambaran terakhir yang bisa Eko ingat tentang mbak Santi.

Setelah melalui perjalanan kereta api semalaman, akhirnya Eko sampai juga di Jakarta, kota di mana dia menggntungkan cita cita dan mimpinya setinggi langit.

” Jatinegara jatinegara…. ” Suara pedagang asongan memberitahukan bahwa kereta sudah sampai di setasiun jatinegara.

Di setasiun ini Eko harus turun dari kereta, baru setelah itu dia bisa melanjutkannya dengan menggunakan angkutan umum menuju tempat mbak Santi.

” wahh…. akhirnya nyampe juga ” batin Eko sambil melihat jam tangannya yang menunjukkan pukul 08:20, yang berarti sudah hampir jam setengah sembilan.

Eko kemudian langsung turut larut ikut berdesak desakan dengan penumpang kereta yang lain untuk keluar dari kereta MATARMAJA yang membawanya dari kampung halamannya di sebuah kota kecil di jawa timur yang terletak di pesisir selatan pulau jawa dan berbatasan langsung dengan Provinsi jawa tengah ke kota metropolitan Jakarta.

Sekeluarnya dia dari peron setasiun, dia langsung mencari taksi untuk mengantarkannya menuju alamat mbak Santi. inilah pengalaman pertamanya berada jauh dari rumah, dan pengalaman pertamanya juga naik taksi.

Eko memang sesosok pemuda yang cerdas supel dan mudah membaur. Walaupun ini merupakan pengalaman pertamanya di kota besar, tapi dia tidak kelihatan kampungan ataupun kiku berada di kota sebesar ini untuk pertama kalinya.

Setelah beberapa saat menunggu, akhirnya Eko memberhentikan sebuah taksi berlogo kosti jaya yang sedang melintas di depan stasiun Jatinegara.

” mau kemana mas? ” Tanya sang sopir taksi yang di berhentikan Eko.

” bisa antar saya ke alamat ini pak? ” jawab Eko dengan logat jawanya yang kental sambil menyerahkan secarik kertas alamat mbak Santi.

” oh, iya mas bisa. silahkan masuk. ” Jawab sang bapak sopir taksi sambil menyerahkan kebali kertas yang di berikan Eko.

Eko kemudian langsung masuk kedalam taksi tersebut dan dia memilih duduk di kursi depan samping pak supir. Taksipun kemudian mulai berjalan sesaat setelah Eko masuk ke dalam.

Setelah menempuh perjalanan sekitar setengah jam menerobos padat dan macetnya jalanan ibu kota, akhirnya sampai juga taksi yang Eko tumpangi itu di alamat yang di tuju.

” sudah sampai mas. alamat yang mas cari masuk ke gang itu. ” Kata si bapak sopir taksi sambil menunjuk ke arah sebuah gang di seberang jalan.

” oh iya pak terima kasih.”
” taksinya berapa mas?” Tanyanya sambil merogoh dompet di kantongnya.

” dua puluh lima ribu mas.” Jawab sang sopir sambil menunjukkan angka yang tertera di argo taksinya.

Setelah membayar ongkos dan keluar dari taksi itu, Eko lalu menyeberang dan berjalan masuk menyusuri gang yang tadi di tunjukkan si bapak sopir taksi.
sambil berjalan menyusuri gang sempit yang hanya muat untuk dua motor itu, Eko mengeluarkan lagi secarik kertas yang berisi alamat mbak Santi.

” Rt 5, Rw 3, kontrakan bercat hijau punya Pak Said.”

Setelah berjalan dan bertanya sana sini, akhirnya Eko menemukan juga kontrakan yang di carinya.

” tapi kok sepi ya, mbak santi kemana?” batin Eko sambil melangkah masuk ke halaman kontakan yang berderet ada 8 pintu itu.
” kontrakan mbak Santi pintu yang mana ya.” batin Eko lagi karena di kertas alamat tidak tertulis pintu berapanya.

Saat Eko sedang melamun karena bingung tiba tiba saja dia di kejutkan oleh sebuah teguran dari arah belakang.

” nyari siapa ya dik?” Suara yang menegur itu.

Eko langsung berbalik kearah suara itu dan ternyata seorang ibu muda memakai daster biru sambil menggendong bayi yang menegurnya.

” nyari kontrakan mbak Santi buk, yang sebelah mana ya?” jawab Eko sambil balik bertanya.

” mbak santinya lagi nggak ada mas, lagi kepasar”
” tadi katanya mau ada saudaranya yang datang dari kampung.”
“kalau boleh tau mas ini siapa ya?” jawab sang ibu berdaster biru sambil juga balik bertanya.

” saya saudaranya mbak Santi yang dari kampung buk.” jawab Eko masih dengan logat medoknya.

” oooo….. nah itu dia mbak Santi.” jawab si ibu berdaster biru lagi sambil menunjuk ke arah perempuan yang sedang menenteng belanjaan.

Eko langsung melihat ke arah yang di tunjuk sang ibu berdaster biru itu.

” Eko… dah lama ko?” tanya si mbak yang menenteng belanjaan yang ternyata adalah mbak Santi itu.

” baru saja mbak.” jawab Eko yang setengah tak percaya kalau wanita itu adalah mbak Santi yang sedang di carinya.

Eko tertegun nenatap sosok mbak Santi yang berada di hadapannya sekarang. Mbak Santi yang sekarang beda dengan yang dia ingat dulu waktu masih di kampung.

Mbak Santi yang sekarang adalah wanita yang manis dan sexy dalam balutan kaos putih ketat yang menonjolkan payudaranya yang montok walau tidak terlalu besar itu.Paduan rok jeans span selutut semakin menambah manis raut mbak Santi. Rupanya Jakarta telah merubah gaya dan penampilannya.

” oh iya buk, kenalin ini Eko saudara saya yang dari kampung.” Kata mbak Santi mengenalkan Eko ke ibu berdaster biru itu.

Eko dan si ibu berdaster biru itu kemudian saling berjabat tangan sambil saling menyunggingkan senyum sopan.

” ayo masuk ko, mari bu.” Kata Santi mengajak eko masuk sambil berpamitan kepada ibu berdaster biru.

Setalah berbasa basi, mbak Santi kemudian berjalan menuju ke sebuah kamar kontrakan yang terletak paling ujung dari deretan kontrakan itu dan di ikuti Eko dari belakang.

” ya beginilah kontrakan mbak ko, alakadarnya.”
” harap maklum lah… namanya juga di perantauan Ko…” Kata mbak Santi menunjukkan keadaan kontrakannya.

Kontrakan mbak Santi adalah kontrakan satu ruangan yang lebih tepat kalau di sebut kos kosan. Kamar mbak Santi ini lumayan luas dengan kamar mandi yang berada di dalam. Perabotan di dalam kamar mbak Santi lumayan lengkap juga. mulai dari tivi, kulkas, springbed ukuran jumbo dan peralatan peralatan rumah tangga yang lainnya.

” trus ntar aku tidurnya dimana .” Batin Eko setelah melihat keadaan ruangan kontrakan mbak Santi ini.

Saat melamun memikirkan akan di mana posisi tidurnya nanti, tiba tiba dia dikagetkan dengan tepuka mbak Santi di punggungnya yang menyuruhnya mandi terus setelah itu beristirahat.

Mendengar itu, Eko kemudian meletakkan tas ransel yang di gendongnya di depan rak tivi sambil mengambil handuk dan peralatan mandinya yang dia simpan di dalam tas ransel itu lalu langsung menuju kamar mandi.

Sesampainya di kamar mandi, Eko kembali bingung dan terkejut dengan keadaan kamar mandi mbak Santi. Karena ternyata kamar mandi di kamar kontrakan mbak Santi ini tidak ada pintunya alias tak berpintu.

” ah bodo amat.” Batinnyakarena dia ingin cepat cepat mandi terus langsung tidur karena sudah sangat capek sehabis perjalanan jauh dari kampung ke Jakarta ini.

Selesai mandi dan berganti pakaian, Eko kemudian pamit ke mbak Santi untuk beristirahat tidur sebentar meluruskan tulang belulangnya yang seakan rapuh itu.

” tidurnya di ranjang mbak aja ko.” Kata mbak santi yang sedang merapikan lemari. Mbak santi merapikan lemarinya untuk memberi ruang menyimpan pakaian Eko.

” iya mbak.” Jawab Eko sambil langsung merebahkan tubuhnya ke spring bed empuk bercover biru muda itu.

Saking kelelahan setelah perjalanan kereta api lebih dari semalam, tak terasa Eko sudah tertidur hampir enam jam lamanya. Dan Eko baru terbangun karena terganggu suara orang yang sedang mandi. sampai sejauh ini Eko belum mempunyai pikiran macam macam terhadap mbak santi.

Setelah selesai mandi dengan hanya menggunakan daster warna ungu, mbak santi kemudian langsung mengajak Eko untuk makan. Mbak Santi juga masih membiarkan rambut sebahunya yang basah belum tersisir. Sekilas Eko bisa mencium aroma harum dari rambut basah mbak Santi.

” ayo makan ko…”
” tadi mbak gak tega mau ngebangunin kamu…”
” kamunya nyenyak banget sih tidurnya.”
” kamu pasti kecapean banget ya..” Kata mbak Santi sambil menyiap nyiapkan makanan.

” iya mbak.”
” ya harap maklum lah mbak…”
” namanya juga baru pertama minggat..” Jawab Eko sambik bercanda.

Mereka berdua kemudian langsung makan masakan mbak Santi yang di masaknya tadi sewaktu Eko sedang tertidur.

Sambil makan mereka menyelinginya dengan bercakap cakap mengakrabkan diri. Tak lupa juga mbak Santi menanyakan tentang keadaan kedua orangtuanya di kampung. maklum saja mbak santi menanyakan itu, karena mbak Santi sendiri sudah empat tahun tidak pernah pulang kampung.

Tak terasa mereka sudah semakin akrab dalam tempo yang sedemikian cepatnya. Saking asiknya mengobrol, sampai tak terasa kalau waktu sudah larut malam.

” aku tidur di mana mbak?” Tanya Eko ketika hendak beranak tidur.

” di mana aja ko, klo mau di kasur bareng mbak juga boleh.” Jawab mbak Santi enteng.

DEG…..
Eko terkejut dengan jawaban dari mbak Santi itu. Eko tidak pernah membayangkan kalau mbak Santi akan berbicara seperti itu.

” aku tidur di bawah aja lah mbak, di depan tivi.” Jawab Eko berusaha menolak tawaran itu.

” terserah kamu aja lah.”
” tapi kalau nanti kamu mau naik ke ranjang naik aja.”
” gak usah malu malu ya…” Kata mbak santi lagi.

Hari berganti minggu, dan minggupun berganti bulan. Tak terasa Eko sudah selama empat bulan berada di Jakarta dan numpang di kontrakan mbak Santi.

Selama empat bulan itu juga Eko selalu sibuk mondar mandir kesana kemari melamar pekerjaan dengan bermodalkan ijasah SMK miliknya. Tapi sayang usaha keras Eko belum membuahkan hasil. Eko belun juga mendapatkan pekerjaan yang di idamkannya.

Selama empat bulan numpang dan tinggal dalam satu kamar kontrakan dengan mbak Santi, diam diam dia menyimpan hasrat terpendam kepada mbak Santi. Walaupun Eko sudah berusaha mati matian menahan rasa itu, tapi makin hari ke hari rasa itu semakin kuat menderanya.

Bagaimana Eko tidak tergoda kalau selama empat bulan ini mereka tinggal berdua di dalam satu kamar kontrakan dengan kamar mandi yang tidak ada pintunya. Bahkan kadang kadang mereka juga tidur seranjang berdua.

Apa lagi semakin di perparah dengan gaya berpakaian mbak Santi yang terbilang berani kalau berada di dalam kontrakan. Mbak Santi paling suka memakai celana hot pants yang super pendek dan ketat di padu dengan kaos ketat atau tank top. Mbak Santi juga paling hobi tidak memakai Bh dengan alasan kegerahan. Yang parah lagi, mbak Santi juga kadang kadang dengan cueknya hanya mengenakan kaos atau kemeja yang kebesaran tanpa bawahan yang bisa mempertontonkan celana dalamnya dengan bebas.

Saat malam hari mbak Santi hobi mengenakan baju tidur berbahan sutra tipis merangsang yang bisa menggambarkan siluet keindahan lekuk tubuhnya.

Rentetan godaan masih belum cukup sampai di situ saja. Posisi kamar mandi yang tak berdaun pintu itu membuat Eko semakin blingsatan menahan konak. Karena pernah beberapa kali eko tanpa sengaja memergoki mbak Santi yang sedang telanjang di kamar mandi begitu pula sebaliknya.

Kalau sudah tak kuat lagi menahan hasrat birahinya, Eko terpaksa melepaskannya dengan diam diam beronani di tengah malam sambil membayangkan dan memperhatikan tubuh mbak Santi yang sedanh tergolek terlelap tidur di ranjang.

Tanpa Eko sadari sebenarnya mbak Santi juga sama seperti dirinya. Diam diam mbak Santi juga sering di landa birahi karena pernah beberapa kali tanpa sengaja memergoki eko yang sedang telanjang bulat di kamar mandi.

Mbak Santi tak pernah bisa melupakan dan selalu terbayang kontol Eko yang lumayan besar dan panjang walau sedang tertidur itu.

Setelah selama empat bulan mereka hanya saling memendam nafsu mereka masing masing dan tanpa ada salah satu yang berani mengungkapkannya, akhirnya pada suatu hari kejadian itu terjadi juga.

Waktu itu di suatu pagi. Jam dinding masih menunjukkan pukul enam pagi. Mbak Santi yang harus berangkat kerja segera bangun dari tempat tidur dan langsung bergegas menuju ke kamar mandi.

Di kamar mandi mbak Santi langsung melepas baju tidur daster sutra tipis berwarna biru muda yang di kenakannya itu sekalian dengan celana dalamnya. Malam ini mbak santi tidak mengenakan Bh penyangga payudara di balik gain tidur sutra yang di kenakannya.

Setelah telanjang bulat, sejenak mbak Santi mematut dirinya di cermin besar yang ada di kamar mandi beberapa saat mengagumi tubuhnya yang montok menggoda.

“ah… sudah terlalu panjang.” Batin mbak Santi setelah melihat bulu bulu kemaluanya yang sudah mulai panjang.

Mbak Santi memang tipe wanita yang tidak terlalu suka atau risih kalau bulu bulu kemaluannya terlalu panjang. Dia lebih suka dengan kemaluannya yang gundul tanpa sehelapuni bulu pubis yang menutupinya. karena dengan begitu gudukan daging kemaluannya yang tebal tembem itu semakin kelihatan dengan belahannya yang masih rapat. Dengan begitu juga clitorisnya yang lumayan besar itu semakin jelas menantang.

Segera mbak santi mengambil silet cukur yang berada di kamar mandi itu. Sambil duduk mengangkang di bak mandi, mbak Santi mulai mencukur habis bulu bulu kemaluannyanya.

Selesai mencukur habis bulu bulu kemaluanya, mbak Santi kemudian membasuh selangkangannya untuk membersihkan bulu bulu yang menempel sehabis di cukur.

Saat menyiram dan membersihkan bulu bulu yang menempel di selangkangannya yang habis di cukur. Tiba tiba saja birahi birahi mulai melandanya.

Di letakkannya gayung yang di pegangnya itu sambil semakin mengangkangkan kakinya. Perlahan mbak Santi mulai meraba raba daerah sekitar selangkangannya sendiri.

Di putar putarkannya jempol tangan kiri di clitaorisnya yang semakin keras dan membesar itu. Jemari tangan kanannya juga mulai beraksi meremas remas dan mempermainkan payudaranya sebelah kiri.
Seiring rangsangan di clitoris itu, perlahan kemaluan mbak Santi mulau basah dengan cairan kawinnya sendiri.

” uuuuuh…… hhhhmmmmm………”
” ooh….sssstttt….. oh… yeah….. ennmakkk…..” Pelan pelan mulai keluar desahan mbak santi.

Jemari tangan kiri yang tadinya bermain di clitoris itu kini sudah berpindah oprasi ke belahan bibir kemaliannya.

Di usap usapnya celah bibir kemaluannya itu sambil sesekali jari tengahnya nakal menyusup menyucuk masuk ke dalam lubang belahan kemaluannya.

Makin lama semakin basah celah kemaluannya itu dan semakin bertambah cepat pula satu jari tengah tangan kirinya menyucuk keluar masuk lubang kemaluannya sendiri. sementara itu jemari tangan kanannya yang tadi bermain di payudara kini beralih berpegangan pada keran air karena takut terjatuh.

” ooooohhhgmmm…… iyyyyy….. eeennakkk……”

Tiba tiba mbak santi menghentikan aktifitas merangsangi diri sendiri itu. Dia sepertinya kurang nyaman dengan posisinya di kamar mandi. Dia ingin merasakan yang lebih nikmat lagi dengan posisi yang lebih nyaman.

Sejenak mbak Santi mengintip ke ruangan kontrakannya memastikan kalau eko masih tidur. Setelah yakin kalau Eko yang sedang tertidur di kasur lantai di depan tivi itu masih terlelap, lalu mbak Santi keluar telanjang bulat dari kamar mandi dan berjalan pelan setengah berjingkat kemudian lansung naik ke atas tempat tidur. Mvak Santi menarik dan menyusup masuk ke bawah badcover untuk menutupi ketelanjangan dan melancarkab kembali aksinya agar tida ketahuan Eko.

Sebelum melanjutkan masturbasinya, mbak Santi mengambil terlebih dahulu sesuatu dari laci yang ada di samping tempat tidur. Ternyata sesuatu yang di ambilnya itu adalah sebuah dildo vibrator.

Setelah memposisikan diri dengan nyaman, mbak santi mulai melanjutkan aksinya kembali. Di arahkannya dildo itu ke lubang kemaluannya yang sudah basah itu. Pertama di usap usapkan dildo yang bergetar itu di belahan kemaluannya. Belahan kemaluan yang sudah basah itu semakin bertambah basah kuyup dengan cairan kawinnya sendiri.

Setelah celah kemaluannya itu semakin basah, pelan tapi pasti dan sambil memejamkan mata dildo itupun mulai merangsek masuk ke dalam lubang kemaluannya. Di diamkan sejenak dildo itu di dalan jepitan lubang kemaluannya itu. Di nikmati sejenak keberadaan benda berbentuk silinder bulat kenyal itu di dalam lubang kemaluannya sebelum mulai di gerakkan keluar masuk.

Mbak Santi mulai mendesah lagi seiring gerakan dildo yang bergetar keluar masuk menyodok dan mengobok obok lubang kemaluannya.

” ssssstttttt……mnmmmmm…….oh oooogh….. yesss……..”
” aaaaagrhg…… ooh…. enak…. nikmat banget…. hhhhuuuug……..”
” memmmek…. enaaaak mmmmeem….ekku…… hiiiiaaaaa…… ggggatttteell…..” Desah mbak Santi yang semakin lama semakin keras dan tak terkontrol lagi.

Tubuhnya menggeliat geliat seperti cacing kepanasan. Masih meresa kurang puas, mbak Santi semakin mempercepat getaran vibrator dildonya.

” ngngngngngng…….” Bunyi vibrator dildo yang bergetar mengobok obok di dalam lubang kemaluannya.

Desahan mbak Santi sekarang semakin bertambah keras. Desahan itu malah bisa di sebut sebagai jeritan jeritan kecil.

Tubuhnya mengeliat geliat dan matanya terpejam menikmati deraan kenikmatan di selangkangannya itu. Karena gerakannya yang semakin liar tak terkendali itu, tanpa di sadari bahwa selimut yang tadi dia pakai untuk menutupi tubuh telanjangnya sekarang telah menghilang entah kemana.

Tanpa selimut penutup itu, tubuh nya yang telanjang bulat dan kakinya yang terkangkang dengan dildo yang bergetar keluar masuk di lubang kemaluannya tak lagi tertutupi.

“oooooohhhh…. aaaaih… mmmmmm……
yyyyeeess….”
“enak bbbanggget mmmmemeeekkkkuuuuhh…..” Desah mbak Santi yang makin dan semakin keras.

Tanpa mbak Santi sadari bahwa suara desahannya yang keras itu telah membangunkan eko dari tidurnya.

Eko yang terbangun dari tidurnya karena desahan mbak Santi yang semakin keras itu lalu melongok melihat ke arah ranjang tempat asalnya suara itu.

Betapa terkejutnya Eko menjumpai mbak Santi yang sedang mengangkang di tempat tidur mendesah desah sambil mencucukan dildo keluar masuk ke dalam lubang kemaluannya.

Sejenak Eko tertegun melihat pemandangan seperti itu sehingga pelan tapi pasti birahi mulai tumbuh menguasainya.

karena sudah tak kuat lagi menahan birahinya, Eko dengan cepat mengeluarkan batang kemaluannya dari celana dan mulai mengocoknya pelan sambil menikmati siaran langsung masturbasi mbak Santi.

Pelan tapi pasti batang kemaluan Eko mulai ereksi dengan sempurna. Merasa masih kurang nyaman dengan celananya, Eko kemudian melepas sekalian celana dan bajunya turut bertelanjang bulat, sambil terus mengurut dan mengocok batang kemaluannya mencari kenikmatannya sendiri.

Bersamaan dengan itu tiba tiba saja mbak Santi membuka matanya. Mata mbak Santi melotot seakan bola mata itu hendak keluar kelopaknya. Mulutnya masih mendesah meracau semakin tidak terkendali.

” oooogghhh….. aaaaaaaaa…… aku utt…. ennnakk…… yeeeeaaa……”
” eeekkk…koo….. huhhuhhuh……. nggggapppaii…..mmmmmm…….
kammmmuuu…..”
” a aaa….. akku keeee…..llu……
ooooooh…… iiiiyyyyyaaaaaaa…….
ekkkkooooo………” Tubuh mbak Santi menggeliat dan bergetar hebat seiring dengan orgasme dahsyat yang menderanya.

“crot…. crot…. crot…. crot…..”

“aaaaaaaaaaaahhhhh…….”

Mbak Santi orgasme dengan dahsyatnya tanpa sanggup dia hentikan walapun dia tahu eko sedang melihatnya orgasme sambil telanjang bulat mengocok ngocik batang kemaluannya.

” hhhhhhg…..” Dengus nafas mbak Santi menikmati sisa sisa orgasmenya sambil mengeluarkan dildo yang masuk ke dalam kemaluannya sambil terpejam dan masih mengangkang.

Entah setan dari mana yang menghinggapinya sehingga dia pelan pelan naik ke atas ranjang dan langsung memposisikan tubuhnya di tengah tengah kangkangan selangkangan mbak Santi.

Begitu tepat memposisikan rubuhnya Eko langsung memegang batang kejantanannya dan di arahkan tepat ke lubang kemaluan mbak Santi yang masih menganga. Tanpa kesulitan dan hanya dengan satu dorongan pasti, langsung batang kejantanan Eko merangsek masuk ke dalam lubang kemaluan mbak Santi yang baru saja di dera gelombang orgasme yang dahsyat itu.

Mbak Santi tersentak merasakan ada sesuatu benda bulat dan kenyal yang kembali menerobos masuk kedalam lubang kemaluannya tanpa izin.

Mbak Santi merasakan sedikit perih dan ngilu di kemaluannya karena Eko memasukkan batang kejantanannya secara cepat dan paksa.

Apa lagi batang kejantanan Eko itu lebih besar dan panjang dari pada dildo yang baru saja di pakai mbak Santi bermasturbasi ria. Bahkan mbak Santi bisa merasakan kalau batang kejantanan Eko itu masuk terlalu jauh dan dalam sampai tembus ke pintu rahimnya.

Mata mbak Santi melotot mencoba meronta dan mendorong tubuh Eko. Tapi usaha mbak Santi itu hanya percuma karena tubuhnya sudah terlalu lemah tanpa daya setelah orgasme dahsyat yang baru menderanya.

Setelah berhasil memasukkan kejantanannya secara paksa ke dalam lubang kemaluan mbak Santi, Eko tidak langsung mengocok dan menggerakkan batang kemaluannya. Eko mendiamkan sebentar kemaluannya terbenam di dalam kemaluan mbak Santi sambil menikmati sesikit sisa sisa kedutan orgasme dinding kemaluan mbak Santi yang masih tersisa.

” Eko…!!! apa yang kamu lakukan ko..??
” cabut…! cabut Ko…. keluarin….!” Hardik mbak Santi sambil berusaha mendorong tubuh Eko.

” gila kamuu u… ko….. cabut ko… please… mbak hhhhmmmmm…… mohoon…” Iba mbak Santi memohon.

Eko tak memperdulikan hardikan dan hiba memohon mbak Santi, pelan pelan Eko malah mulai menggenjot pinggulnya naik turun mengeluar masukkan kejantanannya keluar masuk lubang kemaluan mbak Santi.

Pertama Eko menggoyangkan pinggulnya dwngan pelan, kemudian semakin lama semakin kencang dan semakin lama semakin beringas.

” ooooohhh….. kontolku enak mbak……”
” huuuhhh…… enaaaakkk….. mbaaakkk……
memmmee…… uhhh….sssrrt……” Racau desah kenikmatan Eko.

” stooopppssphhh….. aaaaahhh… hhhhhiih……” kata mbak Santi sambil terus meronta melawan.
“uddddaaaa….aaaaahhhh……. aaaammmpun ko……”
” kontolmu tembus rahhhimku kooo…….”

“plok plok plok plok……”

“clep clep clep clep clep…….” Suara selangkangan meraka beradu bertumbukan dengan liar.

Walau masih tetap meronta, tapi sebenarnya mbak Santi juga merasakan nikmat yang teramat sangat melebihi apa yang baru di dapatnya saat memakai dildo tadi sehingga mbak Santi mulai merasa hampir mendapatkan orgasmenya kembali.

“ooh…. memekmu dahsyaaaatttt mmmmmm……. mbbaaak……”
“ayooooo…… aku mau keluar….. aaaaarrrsgggtttthg…….” Desah eko.

Seketika mbak Santi terkejut, matanya membelalak dan sekuat tenaga dia berusaha mendorong tubuh Eko.

“..jjjjjaaaa…..nggaaaan………..
aaaaaahhhh…….. ssssrr……” Tiba tiba tubuh mbak Santi kembali mengejang.

Tangan dan kakinya malah memeluk Eko dengan erat dan pinggulnya bergetar hebat menandakan mbak Santi kembali di landa orgasme yang semakin dahsyat.

” aaakkuuu…. kelluaaa…… oooorrgghh…” Jerit orgasme mbak Santi sekali lagi.

” Crot crot crot crot crot……….”

Ekopun juga ikut orgasme hampir bersamaan dengan mbak Santi. Eko menyemprotkan spermanya langsung ke rahim mbak santi.

” hhhhii…..uuuuh…… nikmat mbak….” Guman Eko keenakan.

” aaaaah…hhh…… jaangan di dalam…. nanti aku hamil…..” Kata mbak Santi pelan melarang Eko menyemprotkan benihnya di dalam kemaluannya.

Percuma saja, usaha mbak Santi itu sudah terlambat. Eko telah menanamkan benihnya langsung di dalam rahim mbak Santi.

Setelah deraan gelombang dahsyat iru mereda, mereka masih berpelukan dengan kejantanan Eko masih menancap di dalam lubang kemaluan mbak Santi.

” kamu kok tega ama mbak Ko?” Kata mbak Santi pelan.

Eko hanya diam tak menjawab.

Pelan mulai menetes butir bening air mata dari sudut sudut bening mata mbak Santi.

Akhirnya setelah lelah bergulat mengadu birahi, mereka berdua kemudian tertidur berpelukan, dan mbak Santipun tidak jadi berangkat kerja.

Post Terkait