Cerita Sex

Kubiarkan Bulu Ketiakku Melebat

Aku yakin, tiada yang salah dengan diriku. Aku tak merasa menyimpang, meskipun mungkin berbeda dari mayoritas wanita masa kini. Wanita karier. Wanita pembaca Cosmopolitan & Kosmopolitan. Wanita pembaca Cita & Cinta.

Aku beruntung. Alam memberiku tulang bagus, tubuh kencang, kulit terang, binar mata membelalak,dan campuran exotic-asiatic chinese-jawa-ceko. Tinggiku 167 cm. Beratku 48 kg.

Breast-ku memang di bawah 34, tapi aku yakin masih kencang, karena dalam usiaku yang ke 35 ini aku belum melahirkan, belum menyusui. Mungkin tak akan melahirkan, tak akan menyusui, karena pernikahan bukan sebuah cita-cita bagiku.

Rambutku lurus, kupotong pendek setengkuk. Ada bulu halus kepirang-pirangan di leherku, di punggungku. Ada pula bulu halus kehitaman, lembut, di tanganku. Akan tetapi anehnya, di kakiku tak banyak tumbuh bulu. Memang ada, tetapi masih dalam batas kewajaran. Tanpa kubalut dengan stocking pun bulu itu tak kentara.

Baca Juga: Cerita Sex Abg SMA Ngeseks Di Kelas Terbuka Dengan Rok

Saat awal kematangan remaja menjemputku, di bawah lenganku tumbuh bulu, yang selalu kupangkas, dengan lady shaver. Ketika usiaku 24 tahun, bulu itu rasanya kian menebal dan kaku, tak lagi tipis. Maka setiap akhir pekan aku pun harus mencabutinya. Sudah kucoba ke salon untuk dimatikan. Baik dengan lilin maupun listrik. Tapi pada bulan ketiga tumbuh lagi, tipis, tak selebat dulu. Maka aku pun kembali kepada metode pencabutan sepekan sekali.

Lama-lama aku merasa terjajah dengan ritus pencabutan yang kadang menyakitkan itu. Memang dengan ketiak licin bersih aku merasa lebih cemerlang, lebih percaya diri, terutama di kolam renang, ruang senam, dan fitness centre. Lebih percaya diri ketika hadir di resepsi dengan gaun tanpa lengan. Putih kulitku seolah tak bercacat, tak bernoda.

Pada umur 30 tahun sampailah aku kepada suatu kesadaran. Bahwa apapun keadaan tubuhku itu sepenuhnya hakku untuk mengaturnya. Andaikan saja aku gembrot, dan dokter tak melarangnya, maka aku menjalani hidup dengan tubuh melar. Andaikan tubuhku kurus kering, dengan berat cuma 35 kg, dan dokter menyatakan aku sehat, maka aku akan menikmatinya.

Pernah terpikir olehku sebelumnya, terutama saat remaja sampai usia 29 tahun, untuk memiliki payudara di atas ukuran 36, tanpa usaha untuk memperbesarkannya tapi itu hanya sebatas khayalan.

Dalam usia 30 tahun itulah aku sadar dan bersyukur, bahwa kecil bukitku tak mengubah pesona kewanitaanku. Aku sadar bahwa aku tetap sexy dengan ukuran segitu. Tubuhku adalah milikku.Itulah kesadaran baruku. Maka sejak itulah kubiarkan bulu ketiakku tumbuh alami, seperti tanaman bersulur mencari jalannya sendiri. Sepanjang-panjangnya bulu ketiak dia takkan menjulur sampai ke siku. Bila kuukur, maka julurkan bulu ketiakku, yang lurus, hitam, dan rapat itu,mencapai 7-9 cm. Alangkah indahnya, alangkah naturalnya. Tapi aku tak membanggakannya, dengan menunjukkannya secara demonstratif, baik di kolam renang, ruang fitness, maupun senam. Orang lain melihat, menatap, karena ada saat lenganku harus terangkat. Jadi bukan karena aku, tanpa alasan, mengangkat lengan agar mata lain menatap lama.

Aku tak munafik. Ada sedikit rasa nakal, dan sejumput kebanggaan, saat seorang ABG di kolam renang menatap takjub bulu ketiakku, waktu aku berjemur di kursi kolam, pada sebuah hotel di Bali. Ibunya jengah, akhirnya menggamit anak itu.

Aku tahu beberapa lelaki dewasa kadang mencuri pandang ke arah semak belukar di bawah lenganku.Baik di kolam renang maupun fitness. Suatu malam, di kafe, saat perayaan ultah temanku, aku menyadari sekian banyak pasang mata menatap rumput yang menyembul dari baju you can see-ku.

Yach, aku bukan exhibitionist. Tapi akupun tak pernah menutup-nutupi bulu ketiakku. Tampak atau tak tampak, kubiarkan wajar apa adanya. Bila ada orang lain terhibur oleh bulu ketiakku, itu karunia buat mereka. Bila ada orang lain terganggu dan risih oleh bulu ketiakku, itu masalahmereka sendiri, bukan urusanku.

Mereka tak pernah menyatakan opininya terus terang. Hanya teman-teman senam yang berkomentar, “Gileee, lebat amat…”
Mereka terbagi dua. Ada yang bilang, “Lu terlalu deh. Emang nggak risih miara bulu ketek selebat itu?”
Yang lain menyatakan, “Adduhhh… kalo gue laki apa lesbi, udah gue terkam ketek lu!” Atau, “Gue pingin tuh kayak lu, tapi bulu gue dikit, padahal laki gue paling demen ama bulu ketek dan bulu bawah.. Kalo doi ngeliat lu, bisa-bisa gue cemburu, soalnya doi pasti akan ereksi..”

Bagaimana dengan pria yang pernah intim denganku? Ada yang risih, dan menghindari pandang dari ketiakku saat kami bercumbu. Tapi ada juga, beberapa orang (sayang semuanya putus, karena aku nggak cocok), yang jadi menyala, berkobar-kobar, kalau menatap ketiakku, menciumi bulunya, bahkan menjilatinya.

Aku sendiri merasa nikmat ketika pasanganku bisa mengapresiasi, kadang dengan nafsu meluap, kepada bidang sempit yang berbulu, saat lenganku terentang itu. Aku tak terlalu tergantung kepada lelaki. Aku tak butuh suami. Maka ketika hubungan putus aku pun tak menderita berkepanjangan. Tetapi sebagai wanita normal, ada kalanya aku butuh penuntasan hasrat, yang meronta dan memberontak dari dalam tubuhku.

Sama seperti wanita normal lainnya, maka ketika saat menggelisahkan itu datang, kala hasrat itu begitu menguat, maka aku pun melakukan cara yang naluriah, secara sendirian, untuk melepaskan ketegangan. Ketika kedua tanganku menjelajahi semua sudut tubuhku yang bisa memacuku menuju titik didih, ketika itu pula aku menciumi bulu ketiakku. Kadang kujilati sendiri. Leherku yang jenjang seolah memudahkanku untuk mengantar lidahku menjelajahi ujung bulu ketiak.

Beberapa kali terjadi, saat hasrat begitu memuncak, dan ketegangan begitu meninggi, aku melayani diriku di depan cermin, dengan berdiri, kadang satu kaki bertumpu pada kursi, sambil mengangkat lengan, sambil menjilati ujung bulu ketiak yang panjang, lebat dan lurus itu, sementara tanganku melakukan segala hal yang mungkin untuk mengantarku menuju gerbang kokoh-misterius yang bisa melegakan dan mengendurkan kegelisahan.

Pada awal tulisan ini mulanya aku malu untuk menceritakan bagian lain yang berbulu lebat, di luar ketiakku. Akhirnya, yach.. sekalian saja kubuka.

Menjelang usia 30 tahun, karena pengaruh lingkungan, aku memangkas bulu lurus lebat di bawah itu. Teman-teman buleku, teman-teman Indoku, pada melakukannya, agar bikini line menjadi sempurna, tanpa cacat. Juga agar, katanya, bagian paling pribadi itu lebih higienis.

Pertama kali melakukan, aku tak menghasilkan karya yang rapih. Tapi pada saat kedua, justru terlalu pendek, sehingga menyerupai landak, ujung bulu bisa menyerobot keluar dari baju renangku. Pada kali berikutnya, aku bisa melakukannya lebih rapi, sebulan sekali.

Bersamaan dengan kesadaran untuk menjadi diriku sendiri, pada usia 30 tahun itu, maka trimming itu kuhentikan. Bulu itu tumbuh alami, seperi tanaman bersulur merambat sampai puncak pertumbuhannya. Kini panjangnya tetap, 10-12 cm.

Sudah kubilang, aku bukan exhibitionist. Tetapi kadang ada juga dorongan nakal yang menggodaku.Beberapa kali di kolam renang dan spa, kusengajakan untuk membimbing beberapa helai rumput itu menerobos bagian bawah baju renangku, dan bergaya seolah-olah aku tak menyadarinya. Seolah cuek saja. Tapi dari balik kacamata hitamku, aku bisa mengetahui pelototan mata penuh nafsu dari lawan jenisku. Dari seorang bocah seusia kelas 2 SMP sampai seorang bapak berumur 50-an.Apakah yang mereka bayangkan? Bukan urusanku untuk tahu.

Dalam kehidupan intimku sejak usia 30 tahun, hutan belantara di bawah itu bisa dianggap menggangu oleh pasanganku, bisa pula justru membakar gairah. Pria bule cenderung menyukai hamparan lahan tanpa hutan. Sedangkan pria lokal terbagi dua. Ada yang suka, bahkan bisa blingsatan, kepada rimba belantaraku. Selebihnya, kurang suka tapi bisa mentoleransi.

Begitu lebatnya rain forest-ku, sehingga bila aku berdiri dalam keadaan nude, maka sepasang mata minus 5 (tanpa kacamata), dari kejauhan akan mengiranya aku memakai CD hitam ukuran mini atau tanga.Mulai usia 30 tahun pula aku meng-explore seluruh pesona kewanitaanku. Mungkin telat untuk ukuran rata-rata wanita sebaya. Pada hari senggang, saat aku merawat kuku, menghapus dan mengganti warna cat kuku, dan setelah memasker wajah, maka aku sering duduk dengan posisitertentu (haruskah aku deskripsikan?), dengan mendekati sumber cahaya (jendela maupun lampu berlengan), dengan cermin dua muka (satu normal, satu seperti berlensa pembesar) menghadap ke pusat kewanitaanku.

Kuamati bentuknya. Kucoba memahami mengapa lawan jenisku suka. Kubayangkan banyak hal yang pernah dijalani oleh si mungil dengan banyak tanaman yang mengelilinginya itu. Kadang jemariku memainkan permukaan berkatup, dan titik kecil yang bisa membesar.

Saat nikmat mulai menjemput, saat itu pula cerminku memberikan gambaran tentang perubahan warna permukaan pintu ruang, dan dinding dalam yang terkuak. Cerminku pun mengabarkan liputan pandangan mata, tentang rembesan cairan bening dari lorong, yang menjadikan pintu dan dinding dalam-luar berkilat.

Ketika aku makin gila menakali diriku sendiri, kadang dengan menciumi ujung bulu ketiakku, sementara tanganku mengikuti naluri untuk merambah bagian paling intim, saat itu pula kuperhatikan permukaan cermin. Pucuk-pucuk pohon belantara itu tak rapi lagi, seperti habis terkena hujan badai. Beberapa tajuk pohon saling merapat. Semuanya basah. Dengan bau khas, yang entah kenapa, aku sendiri suka, begitupun para pasanganku. Kadang kucicipi rasa dan aroma khas nakal itu dengan jemariku, yang kuoleskan ke lidahku dan bibirku.

Hari-hari terus berlalu. Usiaku terus merambat. Menjadi tua adalah alami. Tapi mencoba merawat diri, agar tak menjadi wanita berwajah dan bersosok nenek sebelum saatnya, apa salahnya bukan?Terus menikmati kehidupan lajang, dengan segala cara memenuhi hasrat matang kewanitaanku, termasuk dengan memanfaatkan bulu-bulu tubuhku, baik untuk sensasiku sendiri maupun pasanganku, juga wajar bukan?

Kujalani hari-hari menyenangkan sebagai lajang dengan bulu ketiak lebat dan bulu rahasia yangtebal. Wahai para wanita, kalau suka, kalian bisa meniruku. Bila tak suka, aku pun tetap menghargai pilihan kalian. Sama seperti aku mengharapkan kalian menghargai jalan berbuluku.

Post Terkait