cerita sex

Majalah Bokep Erma Gadis Sensual dan Erotis Dambaanku

Majalah Bokep Erma Gadis Sensual dan Erotis Dambaanku Sudah sore waktunya jam pulang kantor aku rasa capek sekali badanku, banyak tugas yang harus aku selesaikan, walaupun belum selesai semuanya aku teruskan untuk hari esok, sudah pukul setengah enam sore aku bergegas menuju ke parkiran untuk mengambil mobilku, aku lihat dari kejauhan jalanan sudah macet sekali, kira kia 2 km. Kaca mobil kututup kunyalakan AC dan kuputar siaran radio di mobil, caricari channel nggak ada yang bagus, akhirnya ketemu channel musik slowrock, wah asyik juga daripada bengong.
Lokasi kantorku kebetulan deket dengan jajaran pabrikpabrik, dan jam segitu rupanya macet angkutan umum yang mencari penumpang, tibatiba ditengah kemacetan jalanan kulihat didepan sebuah toko ada seorang perempuan yang manis sekali, kulitnya putih, Tingginya sekitar 165 cm dengan menggunakan seragam pabrik birubiru ditutup blazer hitam terbuka yang kelihatan ketat terlihat dadanya begitu menyesakkan baju seragamnya, untuk ukuran karyawan pabrik, cewek itu terlalu cantik, Meski bajunya begitu sederhana tidak sebanding dengan kecantikannya. Kuperhatikan dengan seksama, dia kelihatan memandangku dan tersenyum tipis menatapku, akupun tersenyum memandangnya, tibatiba aku dikagetkan suara klakson mobil dibelakangku, cepatcepat kutancap mobilku berhubung jalan didepan sudah lancar sekitar 30 meter ke depan.
Menyesal sekali aku tidak bisa berhenti waktu itu, kulihat di spion perempuan itu naik angkot di tiga mobil dibelakangku.. Seandainya saja?
Sekira 200 meter jalan lancer, tibatiba kemacetan datang lagi, makin sumpek aja aku, akhirnya kulihat didepan ada toko kecil dengan tempat parkir yang agak luas, akhirnya lampu sent mobil kunyalakan kekiri dan aku berhenti, meski masih ada rokok, kuniatkan beli lagi sambil beli minuman ringan, sambil berharap perempuan di angkot belakang bisa ketahuan lagi jejaknya.
Alamak.. Sambil minum teh botol dingin, tibatiba saja angkot dibelakang yang membawa perempuan itu berhenti, aku berharap.. Tibatiba benar saja perempuan itu turun kemudian membayar ongkos ke sopir di depan.

Wah memang benar kalau sudah jodohku nih.. Kulihat perempuan itu masuk juga ke dalam toko, sambil tersenyum tipis dia menuju ke penjual toko itu dan kulihat membeli lima buah indomie, susu dancow dan kopi instant lima sachet.
Lho rumahnya dimana Mbak? tanyaku sambil tersenyum.
Oh saya kos dibelakang toko ini, Mas, jawabnya sambil mencari dompet dari dalam tasnya.
Nama saya Adi, boleh kenalan Mbak? tanyaku sambil menjulurkan tangan buat bersalaman.
Saya Erma, Mas, jawabnya sambil senyum dan menjabat tanganku..
Busyet tangannya mulus sekali dan hangat sekali agak berkeringat.
Berapa Mbak? kata Erma pada penjual toko sambil mengeluarkan dompetnya.
Dua puluh sembilan ribu limaratus Mbak jawab penjual toko itu.
Ini saja Mbak, sekalian teh botol satu dan rokok dua bungkus kataku sambil ngeluarin uang seratus ribu ke wanita penjaga toko.
Nggak usah Mas, saya ada kok kata Erma sambil ngeluarin dualembar uang duapuluh ribuan.
Ya sudah gini aja, uang ini bawa dulu, tapi saya minta dibikinin kopi dulu, sekalian kalau boleh main ke kosmu sambil nunggu macet, boleh nggak? Kataku sambil ngembaliin uangnya.
Baiklah kalau begitu terima kasih, tapi tempatnya jelek lho Mas, kata Erma sambil tersenyum.
Ah jangan gitu, saya malah nggak enak nih ngrepotin minta kopi segala Kataku sambil nerima kembalian dari penjaga toko.
Mbak, saya titip mobil ya, sekalian ini buat parkirnya, sambil kukasih wanita penjaga toko uang limaribu
Wah makasih ya Mas kata penjaga toko.
Erma tersenyum dan mengajakku berjalan di gang sebelah toko itu, jalannya kecil cuman satu meter lebarnya, jadi kalau jalan nggak bisa bareng, harus satusatu, Erma jalan di depan dan aku dibelakangnya.
Kuperhatikan selain dadanya yang membusung, ternyata pinggul dan pantat Erma benarbenar montok habis, sampaisampai rok yang dipakainyapun membungkus ketat pantat indah itu serasi sekali dengan pinggul yang ramping, ditambah bau tubuhnya yang wangi meski kutahu itu bau parfum biasa.
Kirakira duapuluh meter jalan, Erma berhenti dan membuka pagar besi kecil disebuah rumah tanpa halaman dan ternyata didalamnya berjajar kamarkamar kontrakan dengan pembatas tembok satu meter antar kamarnya.
Disini Mas, kamarku paling ujung, dekat dengan kamar mandi, silahkan masuk dulu Mas, aku mau panasin air sebentar buat bikin kopi kata Erma nerocos.

Kamarnya ternyata cukup bersih, di ruang tamu ada karpet biru, meja kecil ditengahnya dan diujung TV 14 inch terpasang rapi ditambah hiasan manikmanik yang bagus, tak sempat kulihat kamar tidurnya, tapi melihat ruang tamunya tertata rapi aku yakin kamar tidurnya pasti bersih juga.
Kuambil remote TV dan kunyalakan, pas berita sore, kuikuti perkembangan pencalonan presiden dari para politikus negeri ini, tapi aku lebih tertarik melihat foto dibelakangku ternyata foto Erma menggunakan kebaya dan samping, cantik sekali.. Tidak dandan saja dia cantik, apalagi dalam foto itu belahan dada kebaya agak rendah, sehingga sembulan payudara putihnya kelihatan seksi dan erotis sekali.
Itu fotoku waktu di kampung bulan lalu Mas, waktu acara kawinan sepupuku kata Erma sambil membawa dua gelas kopi.
Memangnya kampungmu dimana? Dan lagi jadi apa waktu acara itu? Tanyaku sambil membantu nurunin gelas kopi ditaruh di meja.
Kampungku di Cianjur Mas, waktu itu aku kebagian ngisi nari Jaipongan, yah ginigini aku penari Jaipongan Mas, meski hanya sebatas acara di kampung aja Kata Erma sambil tersenyum manis.
Pantesan tapi cantik juga kamu baju kebaya ya, lebih sensual dan menarik Kataku sambil memandang wajah cantiknya.
Pantesan apa Mas? Masak orang kampung gini dibilangin sensual dan menarik Kata Erma.
Pantesan tubuh kamu bagus dan terawat itu karena rajin jaipongan ya
Ah Mas, bisa aja, katanya sambil mencubit tanganku.
Silahkan Mas diminum kopinya, aku tinggal sebentar ya mau mandi dulu, udah gerah banget nih rasanya
Erma masuk ke dalam kamarnya dan mengambil peralatan mandi, letak kamar mandi kontrakan itu ada di luar tapi masih dekat dengan kamar Erma mungkin cuma sekitar 4 meter saja dari pintu kamarnya.
Tunggu sebentar ya Mas, silakan diminum kopinya Erma berjalan dengan berkalungkan handuk putih dipundaknya, sementara rambutnya diikat ke belakang, terlihat cantik dan alami sekali.
Sekitar sepuluh menit Erma di dalam kamar mandi, kudengar suara, waduh gimana nih bajunya basah gini, akhirnya aku mendekat kamar mandi dan berteriak.
Ada apa Ti? Ada yang bisa saya santu? kataku sedikit cemas dan heran.
Nggak apaapa kok Mas, bajuku pada jatuh dan basah, Mas apa diluar ada orang lain? Tanya Erma sambil teriak.
Ntar aku lihat dulu, ke pintu depan kataku sambil berjalan ke pagar dan gang kecil menuju rumahnya.
Nggak ada siapasiapa Kataku sambil mendekat ke pintu kamar mandi.
Tibatiba pintu kamar mandi terbuka dan kulihat Erma hanya berbalut handuk putihnya, kulihat pundaknya putih sekali, sementara payudaranya yang montok sedikit menyembul dan pahanya yang putih dan mulus sekali terlihat tertutup handuk kirakira 20 cm diatas lututnya, wah aku jadi kaget sekali dan tibatiba Erma menengok dari belakang pintu dan berlari menuju kamarnya.
Sorry ya Mas, bajuku pada basah semua, aku ganti baju dulu ya, kata Erma sambil berlari dengan tubuh mulus terbalut handuk.
Melihat pemandangan yang menggairahkan itu, mengakibatkan otot dalam celanaku berdenyutdenyut, dan sedikit mengembang, gile bener, tubuhnya montok bener. Kataku dalam hati, sambil masuk ke kontrakannya dan melihatlihat lagi foto sensualnya.
Maaf ya Mas, sebenarnya aku malu tadi, kata Erma sambil duduk di sampingku, Erma sore itu memakai kaos kuning dan bawahan celana strit hitam ketat sebatas lutut, namun kaos panjangnya menutupi bagian bawah sampai 10 cm diatas lutut.
Malam itu kita hanya ngobrol saja sampai jam delapan malam, dari obrolan itu kutahu kalau Erma sudah hampir setahun bekerja, pernah kuliah D1 bagian Sekretaris dan sekarang bekerja di bagian administrasi keuangan sebuah pabrik, dan kutahu bahwa Erma sudah punya pacar di kampungnya, namun orangtuanya kurang setuju.
Jangan kapok main ya Mas, kata Erma berharap.
Justru aku yang berharap boleh main kesini lagi kalau kamu nggak keberatan, kataku sambil memakai sepatu, sambil berjalan pulang kuberikan kartu namaku.
Kalau ada apaapa telpon aja, kataku sambil bersalaman, perlahan kuremas tangan halusnya dan Erma kelihatan malu dan tertunduk.
Daah aku pamitan dan Erma mengantarkan aku sampai ke tempat parkir.
Setelah perkenalan itu, kurang lebih dua bulan, kami hanya bersahabat saja, bahkan Erma menyatakan kekaguman karena aku nggak pernah bertindak tidak sopan, meski kami sering pulang sampai jam 10 malam, paling hanya berpegangan tangan saja, entahlah mungkin lamakelamaan dia mulai sayang, meski sudah kuceritakan bahwa aku sudah beristri dan punya seorang anak. Hingga suatu hari, aku masih ingat itu hari Rabu, dia menelpon ke HPku,
Mas, aku pengen ngobrol bisa nggak, sore ini jemput aku ya? kata Erma di telepon.
Oke, emangnya ada apa? Tanyaku.
Yah pokoknya nanti aja deh, aku mau cerita, udah dulu ya, sampai nanti di tempat biasanya, Erma menutup telponnya.

Tepat jam 16.30 aku meninggalkan kantor, kulihat dari kejauhan Erma sudah menunggu dan sedikit melambaikan tangan kegirangan. Erma masuk ke mobilku dan tersenyum.
Mas, kita jangan pulang dulu ya, aku pengen cerita banyak dan menenangkan hatiku, kata Erma sambil menatapku.
Oke, kita jalanjalan ke Ciater aja ya, disana kita bisa berendam air panas sambil ngobrol, ajakku sambil terpikir ada kolam renang yang memang cukup nyaman untuk berendam di malam hari.
Oke, kayaknya asyik juga tuh, Kata Erma mengiyakan.
Aku menelepon ke rumah, dan bilang ada pekerjaan di kantor yang harus diselesaikan, kalau ada apaapa ngebel aja ke kantor, kebetulan aku sudah setting teleponku tiga kali kring diforwardkan ke HPku.
Kamu ada masalah apa, kok kelihatan kusut begitu? kataku sambil mencubit dagu Erma.
Nggak tahu kenapa aku pengen cerita masalahku ke Mas, kayaknya aku tenang kalau udah ada di sampingmu Mas, kata Erma sambil memegang lenganku. Majalah Bokep
Posisi mobilku memang agak susah untuk berdekatan, hingga akhirnya Erma hanya bisa memegang lenganku saja. Sambil sedikit berkacakaca, Erma menceritakan bahwa pacarnya di kampung sudah memutuskan hubungan dengannya. Selama di perjalanan aku banyak kasih nasehat dan pengertian kepadanya, dan diapun kelihatan lebih tenang. Sampai di Ayam Goreng Brebes, Lembang aku memarkirkan mobilku.
Kita makan dulu yuk, ajakku.
Berhubung tempat parkirnya penuh, aku agak jauh memarkir mobilku, dan baru kali ini Erma berani berjalan disampingku sambil memeluk pinggangku, akupun akhirnya merapatkan tubuh dan memeluk pundaknya sambil menuju ke tempat makan.
Menuju ke Ciater, diperjalanan Erma memandangku terus dan tibatiba saja bibirnya mengecup pipiku, aku agak gugup namun menikmati juga, sambil sesekali kuremas tangan halusnya. Wah mau nggak mau banyaknya rangsangan selama perjalanan mulai mempengaruhi adrenalinku juga.
Dan sesampai di Ciater ternyata suasananya hujan agak deras, jam sudah menunjukkan jam delapan malam, berendam di kolam renang rasanya nggak mungkin, pulang juga sudah telanjur, akhirnya kutawarkan ke Erma.
Gimana kalau kita berendamnya di kamar aja?
Aku agak khawatir Erna keberatan, tapi katanya, Ya terserah Mas aja kata Erma.
Di front room hotel, aku booking satu kamar yang ada bathtub buat berendam air panas, didepan meja frontroom Erma masih memeluk pinggangku, kali ini terasa kelembutan dadanya menyentuh badanku, dan ini mau nggak mau berpengaruh pada otot pejal didalam celana dalamku.
Malam itu Ciater dingin banget, kabut turun tebal banget setelah hujan, hingga perjalanan menuju ke kamarpun harus perlahan, petugas hotel sudah menunggu di depan kamar dan membukakan pintu kamar.
Silahkan Pak, silahkan Bu, apa ada yang dipesan? kata petugas hotel ramah, mengira kami pasangan suami istri.
Sementara belum Mas, nanti saja kalau perlu saya telpon dari kamar, kataku sambil memberi sedikit tips buat petugas hotel.
Erma masuk ke kamar dan aku masih duduk di ruang TV, sambil mencaricari chanel yang bagus, sambil melepas penat dua jam lebih di belakang kemudi. Tibatiba Erma keluar dari kamar, alamak Erma sudah berganti baju dengan celana pendek pink ketat dan kaos senam ketat putih polos pendek hingga kelihatan pusarnya, kulihat bayangan puting payudaranya yang kecoklatan, tanpa dibungkus beha, pahanya putih dan mulus menantang, sementara pantatnya yang bahenol tercetak ketat di celananya dan dadanya benarbenar montok menantang.
Ayo Mas, katanya mau berendam? Jangan liatin gitu dong, Kata Erma sambil duduk disampingku.
Oke, tapi aku nggak bawa baju berendam nih, kataku sambil membuka baju kerjaku, aku yang sudah tidak kuat melihat pemandangan yang memancing birahi itu.

Mas, badanmu kekar juga ya, kata Erma sambil memeluk lenganku dari samping, terasa payudara montoknya melekat erat di lenganku.
Perlahan kuusap paha putih Erma dan tibatiba Erma berdiri dan duduk di pangkuanku, akhirnya tubuh montok itu kupeluk sambil kuangkat kakinya kuletakkan pahanya yang putih, mulus dan hangat itu diatas pangkuanku.
Perlahan Erma menatap mataku, kemudian memelukku erat sekali, terasa sekali kekenyalan payudara montoknya, meski terhalang kaos tipis yang dipakainya, cukup lama Erma menyembunyikan wajahnya di bahuku, kemudian dia berkata lirih.
Mas, aku sayang kamu, aku takut kehilangan kamu Mas, kubelai perlahan rambutnya, kurenggangkan pelukannya dan kutatap mata Erma, dalam hitungan detik, bibir kami saling melumat pertama agak perlahan, sambil kunikmati kelembutan bibirnya, cukup lama kami beratraksi dengan bibir kami dan makin lama pagutan dan ciumannya makin buas, dan kamipun saling melumat bibir.
Perlahan ciuman kami agak melemah, lembut kuciumi lehernya, belakang telinga dan pundaknya, kukecup lembut tanpa suara, tangan kananku mendarat perlahan di dadanya, begitu padat, kenyal dan kencang, sementara tangan kiriku pelahan mengangkat kaos ketatnya.
Erma menengadahkan wajahnya dan membusungkan dadanya sambil mengangkat tangannya, dan segera kulepas kaos ketatnya, betulbetul keindahan payudara seorang wanita yang kulihat didepanku, kulitnya yang putih bersih tanpa cacat, ditambah sepasang payudara yang montok, padat dan menantang, perlahan kujelajahi dan kusapu lembut gunung indah nan menantang itu, dan perlahan kuusap putingnya yang menonjol keras kecoklatan, mungkin dia sudah terangsang.
Mas, pantatku kayak ada yang mengganjal nih, dibuka celananya ya Mas, biar nggak sakit, kata Erma.
Aku berdiri dan Erma membuka reslutingku, melepas ikat pinggangku dan menurunkan celanaku.
Apa itu Mas? kata Erma sambil menutup matanya dengan jari yang masih terbuka.
Otot pejalku yang sudah membesar dan mengeras sekali, tercetak jelas pada celana pendek katun yang ketat, perlahan kutarik tangan Erma, kutempelkan tangannya menyusuri bonggol keras dari luar celana pendekku, perlahan dan lamalama Erma berinisiatif meremas kontolku dari luar celana pendekku.
Kubiarkan Erma mengelus dengan jemarinya dan sesekali meremas, kadang pelan kadang agak kuat, mungkin dia mulai menikmati mainan barunya, sementara kunikmati aliran kenikmatan, sambil kulihat ekspresinya.
Gimana Ti? kataku sambil menatap matanya.
Mas, aku belum pernah melakukan seperti ini, tadinya malu sekali aku melihatnya, ternyata kemaluan cowok bisa segede ini ya? katanya sambil tersipu.
Kalau kamu mau, kamu boleh buka celanaku kataku.
Perlahan tangan halus itu menurunkan celana pendekku dan tibatiba kontolku yang sudah tegak dan berdiri keras seolah miniatur tugu monas, Erma menatap tak berkedip melihat kemaluanku, pelan jarinya mengelus batangku yang tegang seperti kayu, uraturat yang menonjol dia telusuri perlahan, alamak nikmat sekali, dan garis urat di tengahtengah bagian belakang ditelusurinya perlahan, kontolku berkedutkedut dan tibatiba diremasnya kantong pelirku, sungguh kenikmatan yang luar biasa.
Kutarik Erma untuk berdiri, kebelai pinggul indahnya, berputar kebelakang meremas bongkahan pantatnya yang bahenol, kupeluk dan kuusap erat punggungnya, perlahan kukecup lehernya, belakang telinganya dan pundaknya, kulihat dan kurasakan kulitnya merinding,
Erma mempererat pelukannya dan menempelkan ketat dadanya yang padat membusung ke dadaku, paduan antara kehangatan dan aliran birahi yang mengalir lewat kulitnya.
Erma yang hanya tinggal memakai celana dalam tipis warna pink, menggoyangkan dan menempelkan ketat kemaluanku yang sudah tegang membesar ke daerah bukit venusnya, meski masih terpisahkan celana dalamnya, namun kurasakan ada kelembaban dari balik celana dalamnya.
Kulihat mata sendu Erma menikmati foreplay yang panjang malam itu, kelihatan dia sudah terangsang sekali, dari sorotan matanya dan pelupuk matanya yang agak sembab, serta payudaranya yang kencang menantang dengan puting yang mengeras.
Kuraba celana dalamnya dan kuturunkan, Erma membantu menurunkan celana dalamnya dan melempar dengan ujung kakinya, sambil kucium dan kulumat bibir seksinya, kujamah dan kuremas payudara montoknya, dan serta merta kuangkat tubuh telanjang nan mulus itu ke kamar dan kutidurkan diatas kasur bersprei putih bersih.
Sambil tetap menciuminya, aku tidur merapatkan ke tubuhnya, kaki kuangkat dan kegesekgesekkan diatas paha putihnya, sementara tanganku kembali meremas dadanya yang kian montok dan menggunung dengan puting susunya yang menonjol kecil kecoklatan.
Perlahan aku turun menciumi lehernya dan memutarmutarkan lidahku ke gunung kembarnya bergantian, kusapu hingga basah dengan menyisakan puting, pada bagian akhir nanti, sementara tanganku menjelajah ke pangkal pahanya, menyibak rambut kemaluannya yang halus menghitam itu, kuusap bibir vaginanya dan Erma menggelinjangkan pinggulnya.
Kuperhatikan Erma memejamkan matanya menikmati sentuhan dan rangsangan yang kuberikan, sementara tanpa sadar kontolku yang tegak dan keras, diremasnya perlahan dan kadang menguat saat rangsangan datang menguat.
Kumainkan ujung jariku menyapu bibir vaginanya yang sudah membasah dan kusapu pelan belahan lubang vaginanya yang membasah, sambil kujilati putingnya dengan ujung lidahku bersamaan kuputar perlahan kelentitnya dengan ujung jari telunjukku, seirama antara jilatan lidahku di ujung putingnya dan usapan ujung jari telunjukku di ujung kelentitnya
Serta merta Erma menggoyangkan pantat dan pinggulnya, menggeleparkan dan membuka lebar pahanya dan membusungkan dadanya hingga kelihatan merangsang sekali, sambil menutup matanya dengan bibir yang membasah dan sedikit terbuka, sementara tangannya menggenggam erat sekali kemaluanku yang masih mengeras dan berdenyutdenyut.
Uuff mmaas, kau apakan tubuhku ini, mulut Erma mengerang menahan kenikmatan.
Tubuhnya menggelinjang keras sekali, pahanya bergetar hebat dan kadang menjepit tanganku dengan erat saat jariku masih menyentuh kelentitnya, dan tibatiba kontolku dicengkeram dengan keras seolah mengajak untuk menikmati orgasmenya dalam foreplay itu.
Kuremas dengan irama perlahan payudaranya yang tambah mengeras dan membusung itu dengan tangan kiriku, sementara tangan kananku terjepit diantara kedua paha mulusnya, kemaluanku diremasnya dan tangan satunya memelukku erat sementara paha dan kakinya menggelepar keras sekali hingga sprei putih itu berserakan tak karuan, orgasme pertama sudah dirasakannya.
Tanpa berhenti kumainkan pelan tanpa henti kelentitnya, dan mungkin sekarang Erma sudah terangsang kembali.
Mas, tolong masukkan, aku ingin merasakannya sayang, katanya sambil menghiba dan meringis menahan kenikmatan tiada tara yang dirasakannya. Salam Pramuka
Perlahan aku menaiki tubuhnya, pahaku menempel erat dipahanya yang mengangkang dan kepala kontolku menempel di kelentitnya menggantikan ujung jari telunjukku.
Sambil kuciumi leher putihnya, pundak dan belakang telinganya, kepala kontolku bergerakgerak mengelilingi bibir memeknya yang hangat dan basah, kulihat Erma merem melek menikmati benda pejal di bibir memeknya
Lidahnya menyapu bibirnya hingga membasah, dan wajahnya memerah dengan mata merem melek tak beraturan. Dengan perlahan akhirnya sedikit demi sedikit kumasukkan batang kontolku ke dalam vaginanya, saat kucoba menyelipkan kepala kontolku ke mulut vaginanya rasanya peret dan sulit sekali, kulihat Erma sedikit meringis dan membuka mulutnya dan sedikit menjerit.
Aah,
Namun akhirnya kepala kontolku sudah mulai masuk dan mulai kurasakan kehangatan vaginanya, perlahan kumasukkan sesenti demi sesenti, pada sekitar centimeter ke 4 menuju ke 5, Erma tibatiba berteriak dan menjerit.
Aduh Mas sakit sekali, katanya, Seperti ada yang menusuk dan nyerinya sampai ke perut, katanya.
Aku cabut aja ya?
Jangan, biarkan dulu kutahan rasa sakit ini,
Aku yang sudah merasa kenikmatan yang luar biasa dan sedikit demi sedikit mulai kumasukkan lagi batang kontolku. Kulihat Erma meneteskan air mata, namun tibatiba dia menggoyangkan pantatnya dan tentunya akhirnya kontolku hampir seluruhnya masuk, kenikmatan yang belum pernah kurasakan, kontolku serasa digigit bibir yang kenyal, hangat, agak lembab dan nikmat sekali.
Akhirnya kamipun mulai menikmati hubungan badan ini.
Mas rasa sakitnya sudah agak berkurang, sekarang keluar masukkan kontolmu Mas, rasanya nikmat sekali
Perlahan aku mulai mengayun batang kontolku keluar masuk ke vagina Erma, kulihat tangannya diangkat dan memegang eraterat kepalanya dan akhirnya menarik sprei tempat tidurnya, sementara pahanya dia kangkangin lebarlebar dan mencaricari pinggulku, hingga akhirnya kakinya melingkar di pantatku dan seolah meminta kontolku untuk dimasukkan dalamdalam ke vaginanya.
Beberapa kali ayunan, akhirnya aku agak yakin dia sudah tidak begitu merasakan sakit di vaginanya, dan kupercepat ayunan kontolku di vaginanya. Erma berteriakteriak dan tiba merapatkan jepitan kakinya di pantatku, kepala menggelenggeleng dan tangannya menarik kuatkuat sprei tempat tidurnya, mungkin dia mau orgasme, pikirku.
Tibatiba tangannya memelukku eraterat dan kakinya makin merapatkan jepitannya di pantatku, kurasakan payudara besarnya tergencet dadaku, rasanya hangat dan kenyal sekali, aku diam sejenak dan kubenamkan kontolku seluruhnya di dalam vaginanya.
Oh, mmas aku keluar.. Ahh.. Ahh.. Ahh,
Aku merasakan nikmat yang amat sangat, kontolku berdenyutdenyut, rasanya aliran darah mengalir kencang di kontolku, dan aku yakin kontolku sangat tegang sekali dan begitu membesar di dalam vagina Erma, sepertimya aku juga akan mengeluarkan air kejantananku.
Beberapa saat kemudian, kubuka sedikit jepitan kaki Erma dipantatku, sambil kubuka lebarlebar paha Erma, kulihat ada cairan kental berwarna kemerahmerahan dari vagina Erma, kontolku rasanya licin sekali dialiri cairan itu, dan akhirnya dengan cepat aku kayuh kontolku keluar masuk dari vagina Erma, nikmat sekali rasanya. Ada mungkin delapan sampai sembilan kayuhan kontolku di vagina Erma, tibatiba kurasakan ada sesuatu yang akan meledak dari dalam kontolku dan akhirnya..
Croot.. Croot.. Croot.. Croot..
Vaginanya berdenyutdenyut menikmati aliran maniku yang hangat, sementara kurasakan batangku masih berdenyutdenyut nikmat, kubenamkan batangku dalam kehangatan vaginanya yang basah. Kupandang wajahnya yang berkeringat, perlahan kusapu dengan tanganku dan kuciumi dengan penuh rasa sayang, akhirnya kamipun terkulai lemas dan Erma memeluk tubuhku erat, tanpa mempedulikan cairan yang merembes keluar dari lubang kenikmatannya.
Ada lebih sejam kami tertidur dalam kenikmatan, dan selanjutnya berdua kita berendam dengan air hangat di bathtub, hingga badanpun terasa segar kembali.
Setelah menikmati makan malam di cafeteria, akhirnya kamipun kembali ke kamar jam 12.00 malam, mengulangi permainan dengan lebih ganas hingga jam 1 dinihari, kamipun tertidur tanpa busana, dan kupeluk tubuh telanjangnya dalam kehangatan selimut.
Hingga esoknya kuputuskan untuk mengambil cuti sehari dan sebelum checkout jam 12 siang, kami masih menyisakan dua kali permainan di kamar tidur dan di bathtub. Lain kali akan kuceritakan pengalamanku dengan Erma di kampungnya saat aku mengantarnya mudik. Majalah Bokep

POKER | BANDARKIU | DOMINO QQ | SPORTSBOOK | TOGEL

Post Terkait

10total visits,1visits today