cerita sex

Ngentot Di Taman

Aku seorang lakilaki yang masih menganggur. Umurku 30 tahun, sebut saja namaku Fidel (bukan nama sebenarnya). Begini ceritaku..
Setiap pagi di SMA itu selalu diadakan mata pelajaran Olahraga dan Kesehatan. Seperti lazimnya SMA yang lain, setiap mengadakannya pasti sebelumnya disertai pemanasan terlebih dahulu, dan pemanasan yang dimaksud di sini adalah lari pagi. Setiap kali siswisiswi itu lari aku ajak menumpang di mobilku yang pickup itu (jadi muat banyak penumpang) dan mereka tidak pernah menolak bahkan mereka senang.
Lalu timbullah pikiran kotorku. Aku tahu bahwa ada cewek yang menurutku lumayan sporty, cantik, manis dan juga montok dibandingkan temantemannya yang lain. Sebut saja Damara (bukan nama sebenarnya). Damara lumayan tinggi untuk gadis seumurnya, kulitnya bisa dikatakan sawo matang, tapi benarbenar terang dan keputihputihan. Yang aku tahu Damara masih duduk di kelas 1 di SMA itu.
Aku benarbenar tidak tahan melihat penampilannya yang sporty dan seksi setiap kali dia kelelahan lari dengan jarak yang lumayan jauh itu, dia tampak sangat seksi dengan seragam kaus yang agak ketat, serta bagian bawahnya celana pendek sexy yang agak ketat juga. Aku melihat dengan penuh nafsu keringat yang membasahi menghiasi tubuhnya yang indah itu hingga terlihat agak tembus pandang.
Singkat cerita Damara aku bisiki, agar pada hari Jumat nanti yang merupakan jadwal kelas Damara untuk berolah raga, dia sengaja berlari sendiri jauh dari temantemannya yang lain dengan alasan nanti akan kubelikan es sirup dan juga untuk mengerjai temantemannya agar iri melihatnya naik mobil sambil meminum es sirup. Damara setuju saja karena dia pikir mungkin dengan begitu dia akan dapat mengerjai temantemannya yang lain (padahal diamdiam aku yang akan mengerjainya habishabisan).

Sehari sebelum hari H, aku menyiapkan tempat dan peralatan untuk siswi lugu ini di antaranya minuman energi, obat tidur, tali pramuka secukupnya, lakban, dan spons beserta sprei untuk kasur. Mobil pickupku pun sebelumnya aku persiapkan sedemikian rupa sehingga ruang tengah benarbenar pas untuk spons beserta spreinya.
Hari Jumat pun tiba. Pada pukul 05:30 WIB pun aku berangkat dari rumah dan menunggu mangsa yang satu ini. Kebetulan aku sudah mengetahui nomor HPnya, sehingga aku tinggal missed call dia dari kejuhan dan dia langsung paham maksudku (agar dia tidak lupa dengan janjinya). Acara lari sudah dimulai dan tepat seperti dugaanku dia sudah berlari dengan mengurangi kecepatan untuk menjauh dari temantemannya yang lain (tetapi larinya menurutku sudah telanjur terlalu jauh sekitar 1 km, mungkin ini dimaksudkannya untuk menghindari pengawasan gurunya dari belakang) dan dia juga sudah melihat mobilku dari kejauhan.
Aku langsung menghampiri dan mengajaknya masuk ke mobilku. Dia pun masuk ke mobilku tanpa basabasi. Lalu aku memberinya es sirup yang telah kujanjikan kepadanya (yang tentunya sudah kuberi obat tidur secukupnya). Dia bahkan hanya melihat temantemannya di depan yang mendahuluinya dan sama sekali tidak melihat ke belakang jika ada spon bersprei di sana, diapun saking hausnya langsung meneguk es sirup yang aku sebelumnya sudah campur dengan obat tidur tadi.
Dia benarbenar sudah keringatan karena kelelahan lari hingga semakin merangsangku untuk segera melumatnya. Keringatnya pun sudah tercetak di bajunya. Dia ingin agar aku segera mempercepat mobil dan menghampiri temantemannya untuk menggoda mereka, tapi aku menolaknya dengan alasan bahwa aku akan mengisi bensin dulu. Damara menurutinya karena di dekat sekolahnya memang ada tukang bensin pinggir jalan (sambil aku menunggu obat tidurnya bereaksi). Walau bensin mobilku sebenarnya belum habis tapi aku terpaksa menuju ke tukang bensin itu juga.
Aku turun tetapi bukannya membeli bensin (karena memang masih penuh) tetapi malah membeli koran yang aku bacabaca sebentar di luar mobil. Lalu aku membayar koran itu dan kemudian masuk kembali ke mobil. Aku dapati Damara sudah tertidur pulas, tapi rupanya dia masih sempat membuang bungkus es itu keluar mobil agar tidak mengotori lantai mobilku. Untung saja kepalanya tidak terantuk benda keras di depannya atau barang yang lain karena dia menempatkan tubuhnya di antara kursi depan dan pintu di sudut.
Aku pikir anak ini sudah tidak bisa berbuat apaapa hingga langsung saja aku telentangkan dia di tempat yang sudah aku persiapkan sebelumnya. Hal pertama yang harus aku lakukan adalah menyumpal mulutnya dengan lakban agar dia tidak bisa berteriak ketika tersadar nanti. Aku mulai menjalankan mobilku dengan kencang ke tempat yang benarbenar sepi dari keramaian dan agak rindang. Beruntung dia belum bangun. Aku pun melanjutkan dengan menelanjanginya, melepas pakaiannya satu persatu. Aku melihat tubuhnya benarbenar seksi untuk gadis seusianya dan kulitnya yang sawo matang namun agak keputihputihan itu benar benar mulus juga mengkilat mungkin karena terlalu lelah lari tadi.

Kuteruskan membuka BHnya dan aku melihat pemandangan dua gunung yang lumayan montok untuk gadis seusianya, payudaranya benarbenar kencang. Lalu aku teruskan untuk membuka CDnya yang putih tipis itu dan aku mendapatkan pemandangan yang sungguh indah, sebuah vagina mungil dengan dihiasi bulubulu lembut yang tidak terlalu lebat. Batang kemaluanku sudah mulai tidak bisa diajak berkompromi, maka aku cepatcepat membuka seluruh pakaiannya kecuali sepatu sportnya yang berkaus kaki putih itu karena aku pikir dengan begitu dia akan terlihat benarbenar cantik dan sangat merangsang untuk dinikmati. Lalu aku cepatcepat mengikatnya dengan tali pramuka yang telah kupersiapkan sebelumnya.
Aku ikat kedua tangannya di belakang punggung dengan ikatan yang sangat rapat hingga kedua tangannya menyiku. HP miliknya kuletakkan di kursi depan karena takut terjadi sesuatu yang tidak diinginkan. Lalu terakhir aku memotretnya habishabisan dengan HP berkameraku. Kupotret seluruh tubuhnya dari depan, lalu aku balikkan tubuhnya kemudian memotretnya dari belakang. Untuk sementara tugasku kali ini sudah selesai dan aku tinggal menunggunya sadar, tetapi dia belum sadar juga, padahal obat tidur yang kuberikan tidak terlalu banyak. Ah peduli apa, pikirku. Walau dia belum sadar juga tidak ada salahnya jika dicicil sedikit.
Aku mulai dari kedua payudaranya yang sejak tadi seakan menghipnotisku untuk terus menatapnya. Aku mulai menghisapnya dengan kasar, dan rasanya benarbenar lezat. Aku terus menghisap dan menjilati keduanya sambil sesekali aku gigit saking gemasnya. Dan sewaktu aku mengerjai kedua payudaranya dia sedikit demi sedikit mulai tersadar. Kemudian aku melihat ke arah jam tanganku yang menunjukkan pukul 08:15 WIB, berarti dia tadi tertidur sekitar 1 jam lebih.
Mata Damara langsung terbelalak keheranan karena begitu bangun dia langsung mendapatkan dirinya terikat tanpa pakaian di dalam mobil. Dia mencoba berteriak ketika dia mendapatkan dirinya dalam keadaan seperti itu, tapi itu semua sama sekali hanya membuangbuang tenaganya saja karena aku sudah menutup mulutnya dengan lakban.
Eemmhh..!! Emmhh.. Mm.. Mmhh..!, Damara mencoba bersuara.
Kamu tenang aja Wid.. Gak ada yang bakalan denger meski kamu berteriak sekencang apa pun, mulutmu itu sudah kubungkam dengan lakban dan di sini benarbenar sepi, paling paling yang mendengarmu cuma kambing sama ayam aja.. Ha.. Ha.., jadi sebaiknya simpan tenagamu dan nikmati saja apa yang akan terjadi sama kamu. Simpan tenagamu ya sayang.. Tugasmu masih banyak dan sama sekali belum dimulai, ujarku.
Damara menatapku dengan ketakutan, matanya memerah dan wajahnya jadi semakin pucat. Tapi dia tidak menghiraukan ucapanku tadi, dan dia meronta semakin kuat.
Eemmhh..!! Em..!! Mmhh..!! Mm!! Hmmhh..!! Karena ucapanku tidak diindahkannya, aku langsung mengobokobok vaginanya dengan kasar sambil mengancamnya..
Ayo!! Teriak lebih keras lagi!! Dengan begitu aku bisa lebih kasar lagi menghadapimu! Tugasmu masih banyak tahu!!
Dia dengan sangat ketakutan mengangguk sambil mengucurkan air mata banyak sekali, lalu dia menangis tersedusedu mungkin karena vaginanya terasa sangat kesakitan ketika kuperlakukan dengan kasar tadi. Aku pun melanjutkan dengan menjilati vaginanya yang telah aku obokobok dengan tangan tadi sambil menghisaphisap dengan ganasnya serta kucolokcolokkan lidahku di liang senggamanya. Rasanya benarbenar nikmat sekali, belum pernah aku merasakan hal yang seperti ini sebelumnya. Damara hanya bisa menangis dan mengucurkan air mata. Aku jadi semakin terangsang untuk berbuat lebih ganas lagi. Tapi lamakelamaan aku jadi ingin tahu apa yang akan diucapkannya sedari tadi dan aku membisikinya..
Aku mau membuka lakban yang menutupi mulutmu asal kamu janji tidak akan berteriak, kalo cobacoba teriak aku janji akan membuatmu lebih menderita lagi!! Tahu!! Nampaknya Damara merasa tidak bisa berbuat banyak lagi hingga dia hanya bisa mengangguk saja.
Breet.., setelah aku membukanya, dia segera memakimakiku..
Om benerbener bajingan!! Anjing kamu!! Kenapa Om perlakukan aku seperti ini!! Bajingaann!! Anjiing!! Aku yang tidak terima mendapat makian yang seperti itu hingga langsung menamparnya!! Plaak!! Kemudian Damara membalasku dengan teriakan minta tolong.
Toloong!! Toloong!! Toolong!! Aku membiarkannya untuk membuktikan bahwa di sana memang tidak ada seorang pun yang dapat mendengarnya.
Nah, teriak lebih keras lagi!! Ayo!! Kita lihat siapa yang dapat mendengarmu!!
Setelah lama sekali minta tolong sampai suaranya parau (mungkin karena kelelahan) dan tidak menghasilkan apa pun, akhirnya Damara hanya bisa menangis tersedusedu dengan suara yang serak kemudian dia berkata..
Oomm.. Tolong lepaskan aku.. Pleeassse.. Apa salahku?? Kenapa aku diperlakukan seperti ini??
Kesalahanmu adalah karena beraniberaninya kamu tampil merangsang di depanku selama ini ha.. ha.. ha.. Kamu
tadi ngatain aku anjing kan!? Kita lihat sekarang siapa anjing yang sebenarnya!! Lihat dan rasakan saja!!

Kemudian aku lepas semua pakaianku, lalu dengan kedua tanganku aku membuka kaki Damara lebarlebar ke kanan dan ke kiri sampai benarbenar mengangkang dan terlihat benar vagina itu menjadi semakin siap saji. Kemudian aku menancapkan batangku yang sedari tadi sudah tidak bisa lagi diajak kompromi sedikit pun itu ke vaginanya. Mungkin karena kesakitan saking sempitnya, dia berteriak memelas..
Ammpuun Oom.. Aku jangan diperkosa!! Nanti kalo aku hamil gimanaa!! Pleeassee!! Itu urusanmu!! Yang aku tahu, sekarang kita akan bersenangsenang sepuasnya OK!!
Sepertinya gerakan kakinya mencoba menutupi vaginanya yang sudah tertancap sepertiga batangku dan tampaknya vaginanya juga tidak mau diajak kompromi malah juga mencoba menutupinya sehingga batangku jadi terjepit. Aku yang menjadi agak jengkel lalu membuat kakinya lebih mengangkang lagi lalu dengan ganas kucoba menembus keperawanan Damara hingga dia pun berteriak keras sekali..
Ooaahh!! Aahh!! Ampuunn Oom!! Sakiit.. Sakiit.. Aakkhh.. Mmaahh.. Iikkhh.. Ampuun oomm!! Aku bisa matii oomm!! Sakiitt!! Uoohh!! Toloong!! Mamaa!! Maamaa!!
Nampaknya jika Damara merasa kesakitan dia selalu berteriak memanggil ibunya. Aku yang sudah telanjur basah begini terus melanjutkannya saja dengan mencoba menerobos keperawanannya. Dan akhirnya, crrtt.., aku merasa baru saja seperti ada yang sesuatu yang sobek hingga Damara berteriak dan meronta sekuat tenaga.
Kulihat vaginanya dan ternyata benar, darah segar mengalir dengan derasnya. Aku cepatcepat mengambil CDnya untuk melap darah vaginanya agar tidak mengotori spreiku. Kulihat juga mulut Damara yang terbuka sangat lebar merontaronta dan tampak sangat menderita dengan kedua tangan yang masih terikat erat di belakang dan pakaiannya yang mulai acakacakan, apalagi ditambah dengan sepatu sport dan kaus kaki putihnya hingga semakin merangsangku untuk berbuat lebih ganas.
Kemudian aku menggenjotnya lagi dan kali ini dengan tanpa ampun lagi karena aku sudah benarbenar kesetanan. Kugenjot vagina Damara yang mulai licin itu dengan semakin ganas. Tetapi kupikir ini masih terlalu sulit dilakukan, tetapi peduli setan, aku terus menggenjotnya semakin ganas dengan genjotan liarku, sampaisampai suaranya terdengar, clep, clepp, clepp.., sementara Damara hanya bisa mengerang kesakitan.
Begitu seterusnya sampai suara teriakannya lebih serak dari yang sebelumnya, dan ternyata air mata Damara yang menangis tersedusedu semenjak tadi belum habis juga malah semakin deras sehingga membasahi payudaranya. Sambil menggenjotnya, aku menjilati air mata Damara itu, lalu aku mengulum mulutnya yang semenjak tadi menganga itu sampai dia sulit untuk bernapas sampai akhirnya, crott.. Spermaku kukeluarkan di rahim gadis SMA kelas 1 yang malang itu. Aku pun lalu berkelojotan kenikmatan.
Entah mengapa, mungkin karena Damara kelelahan lari sewaktu berolah raga tadi, ditambah dengan rontaanrontaannya yang hebat dan payudara dan vaginanya yang kuhisap habishabisan hingga membuatnya pingsan seperti orang mati saja. Mungkin karena tubuh Damara menindih kedua tangannya sendiri yang terikat ketat di belakang hingga membuat buah dadanya jadi membubung ke atas. Aku jadi bernafsu lagi melihatnya hingga aku mengerjainya kembali selagi dia pingsan. Kuhisaphisap sambil sedikit kugigit dan menariknya ke atas saking gemasnya hingga akibatnya kedua payudaranya kini jadi memerah, tetapi aku tidak mempedulikannya sama sekali.
Kulihat jam tanganku, waktu telah menunjukkan pukul 12:05 WIB, berarti aku tadi telah mengerjainya selama 4 jam, wajar jika dia sekarang pingsan, mungkin juga pada jam ini Damara sudah seharusnya pulang sekolah karena ini adalah hari Jumat, tapi peduli apa aku.
Aku memutuskan untuk beristirahat dulu sambil minum minuman berenergi yang sudah aku persiapkan dari rumah untuk memulihkan energiku yang sudah lumayan habis dan untuk mempersiapkan diri pada action berikutnya. Karena tali pramuka yang kubawa tidak cuma satu, aku pun mempersiapkan tali pramuka baru yang masih berbentuk gulungan rapi, putih mengkilat, sangat ketat, lumayan besar dan panjang karena yang aku beli adalah tali pramuka berkualitas istimewa, tapi bukannya aku akan menggunakan tali pramuka yang baru itu untuk mengikatnya lebih jauh lagi, melainkan aku menggunakannya sebagai tanda jika dia sudah tersadar nantinya, pasti dia akan meronta. Caranya adalah kumasukkan tali pramuka yang masih berbentuk gulungan itu ke dalam vaginanya dalamdalam. Memang ini agak sulit kulakukan, mungkin karena ukuran vaginanya yang terlalu kecil itu, jadi terpaksa aku memuntirmuntirnya dulu sampai akhirnya masuk walaupun ujungnya masih terlihat sedikit, mungkin ini memang sudah mentok, pikirku.

Untuk sementara aku beristirahat dan mencoba untuk tidur di samping Damara. Aku tidak perlu khawatir dengan halhal yang tidak diinginkan, karena tempat itu benarbenar sepi dan berada di bawah pohon besar yang rindang, lagipula tangan Damara sudah terikat tidak berdaya, dan apabila Damara terbangun atau tersadar nanti dia pasti akan meronta kesakitan karena vaginanya yang telah aku jejali dengan tali pramuka yang masih tergulung itu.
Lalu aku tertidur pulas di samping Damara. Aku tertidur sampai seperti orang mati saja sehingga sewaktu Damara tersadar duluan, aku hanya mendengar erangannya sambil memanggilmanggil mamanya. Aku pikir aku masih dalam keadaan bermimpi saat mendengar suara siapa itu. Dan setelah aku terbangun, aku baru sadar bahwa itu adalah suara Damara yang meronta kesakitan karena tali pramuka yang menyumpal vaginanya. Aku cepatcepat melihat jam tanganku, dan jam menunjukkan telah pukul 15:10 WIB, berarti aku dan Damara tadi telah tertidur sekitar 3 jam.
Aakkhh!! Eengghh!! Mmamaa!! Ahaakkhh!! Mamaa!!
Tenang aja Wid, di sini nggak ada yang bakalan denger apalagi Mama kamu, jadi simpan saja tenagamu karena tugasmu belum selesai.
Karena tenagaku sudah pulih, aku segera saja menuju target yang belum pernah kujamah dari tadi yaitu anusnya. Sebelumnya aku harus membuat tubuh Damara tertelungkup di kursi paling belakang, tapi kakinya tetap berada di bawah yaitu di spons bersprei itu. Tapi sayangnya sudut atau siku kursi mobilku yang paling belakang kurang pas seperti yang kuharapkan untuk posisi doggy style, yaitu kepala Damara yang tertelungkup sudah mentok ke kursi padahal vaginanya belum menyentuh ujung atau siku kursi sehingga kupikir ini pasti tidak akan seperti yang kuharapkan.
Maka kuangkat kepala Damara tengadah, sehingga muka Damara sekarang menghimpit rapat pada sandaran kursi, sampaisampai erangannya terbungkam oleh sandaran kursi di mobilku, untungnya semua jok kursi di mobilku telah kubelikan yang berkualitas bagus sehingga benarbenar empuk. Dan akhirnya posisinya telah kurasa pas untuk melakukan posisi doggy style. Setelah mendapatkan posisi yang tepat, pertama aku menjilati dan menusuknusuk anus Damara dengan lidahku dengan ganasnya dan rasanya benarbenar nikmat sekali. Aduuhh!! Aahh!! Nghaa!! Aduduuhh!! Aakkhh!!
Aku sama sekali tidak tahu mengapa Damara tampak menderita sekali, padahal aku belum melakukan apaapa, hanya sebatas menjilati sambil menusuknusuk anus Damara dengan lidahku. Dan aku baru teringat bahwa ternyata penyebabnya adalah gulungan tali pramuka yang masih bersarang di vagina Damara. Ah peduli apa aku, justru dengan dia merontaronta seperti itu akan membuat nafsuku semakin meledak, jadi aku biarkan saja tali pramuka yang masih tergulung rapi dan ketat itu bersarang di vaginanya.
Tanpa pikir panjang aku langsung mengambil posisi untuk mengerjainya lagi. Pertamatama aku menancapkan sepertiga batangku dulu di anusnya. Karena anus Damara benarbenar kecil maka ini akan cukup sulit, pikirku. Tibatiba terdengar rontaan Damara meskipun kurang jelas karena terbekap jok mobil.
Ampuun oomm!! Mau diapakan aku!! Jangan di situ Oom!! Aku bisa mati!! Ampuun!! Ampuun!! Jangan Omm!!
Tanpa peduli sedikit pun dengan apa yang diucapkan Damara, aku mulai kembali mencoba menerobos anus Damara. Kumasukkan (meskipun hanya bisa sepertiga yang masuk), kemudian aku keluarkan lagi, dan terus kulakukan itu sampai anus Damara menjadi sedikit licin dan longgar. Karena akhirnya aku agak jengkel dan bosan untuk menunggu lebih lama lagi, maka kuterobos saja liang anus Damara dengan sekuat tenaga. Slackk!! Scrrct!!
Uuookkhh!! Khaakkhh!! Ahhgghh!!, jerit Damara.
Damara tampak benarbenar menderita, dan aku juga sudah merasakan ada sesuatu yang sobek, maka aku teliti anusnya untuk memastikannya dan ternyata benar, darah segar sudah mengucur deras dari liang anusnya. Aku kembali mengambil CDnya untuk membersihkan darah dari anusnya. Darahnya benarbenar banyak, mungkin karena liang anusnya terlalu kecil. Dan setelah aku memastikan liang anus Damara telah terasa licin dan mulai nikmat untuk digarap, langsung saja kugenjot dia dengan sodokansodokanku yang ganas. Damara hanya bisa menangis tersedusedu dan memohon untuk segera dipulangkan ke rumahnya karena mungkin orang tuanya sekarang sudah mulai mencemaskan anak gadisnya yang belum pulang dari sekolah.
Enngghh.. Enngghh.. Mngghh.. Enhgh.. Oom.. Sudah oomm.. Aku mohoon.. Aku pengen pulaang.. Aku pengen pulang Oom.. Heenngghh.. Engghh..
Mendengar rintihannya yang terdengar serak dan sangat menderita itu menyebabkan birahiku justru semakin meledak, dan aku menggenjot anusnya dengan lebih ganas lagi hingga akhirnya aku menyemburkan spermaku di dalam anus Damara. Aku tahu Damara pasti sangat menderita sekali karena selain dia baru saja kusodomi habishabisan, juga tali pramuka yang masih bersarang di vaginanya, dan juga tali pramuka yang mengikat kedua

tangannya di belakang (sampai kedua tangannya berbentuk siku) akan menambah siksaan yang harus dijalaninya demi memuaskan nafsu bejatku.

Sambil beristirahat sebentar aku kembali membaringkan tubuh Damara yang sudah bermandi peluh itu hingga tampak mengkilap ke spons bersprei itu. Damara tidak hentihentinya menangis, air matanya juga tidak hentihentinya keluar. Tibatiba terdengar HP Damara berbunyi. Setelah aku lihat identitas pemanggilnya ternyata bertuliskan Mama. Wah, aku pikir Mamanya Damara sudah mecemaskan anaknya yang belum pulang juga dari sekolahnya. Aku kemudian memperlihatkan kepada Damara siapa orang yang mencoba menghubunginya. Segera saja mata Damara terbelalak saat mengetahui bahwa itu adalah Mamanya hingga Damara berteriak sekuat tenaga.
Maamaa!! Maammaa!! Tooloong aku Maa!! Maamaa!!
Damara berteriak keras sekali berharap aku mau menyambungkan telepon untuknya, tetapi yang aku lakukan adalah justru memutuskan sambungan telepon itu di hadapannya.
Bangsaatt!! Anjiing!! Bajingaann kamuu!! Bangsaat kamu!! Anjiing!!, maki Damara, lalu Damara kembali menangis. Ennghh.. Heennggh.. Kenapa kamu tega melakukan ini? Itu Mamakuu.. Heenggh.. Aku pengen pulaanng!! Mamaa!!
Bukannya aku kasihan terhadap Damara, aku malah mereply SMS ke Mamanya yang berisikan, Ma aku lagi bersenangsenang jadi jangan ganggu aku ya!! Sebelum aku mengirimkan SMS itu ka Mamanya aku perlihatkan dulu isi SMS itu kepada Damara hingga kembali ia memakiku.
Kamu benerbener menjijikkan!! Terkutuk kamu!! Bangsaat!!
Aku kemudian menjilati air matanya yang terus bercucuran sampai bersih. Aku juga membenahi kedua kaus kakinya yang mulai merosot, juga tali sepatu sportnya yang mulai acakacakan hingga akhirnya Damara kembali rapi dan merangsang untuk dinikmati.
Karena aku tidak mau dia keburu pingsan lagi padahal tugasnya memuaskanku belum selesai, aku memutuskan untuk mengocok batangku di dalam mulut Damara agar sperma yang nanti ditelannya bisa sedikit memberinya energi, lalu aku mengangkat kepalanya, memasukkan batangku ke mulutnya, dan membuat gerakan maju mundur berirama.
Nymlhh!! Nymngmh!! Ghhkkh!! Nnymhkh!! Ghkmnh!!, gumam Damara saat mulutnya kupaksa dimasuki batangku.
Melihat Damara yang menangis tersedusedu dan tampak sangat menderita, nafsu birahiku semakin memuncak, lalu kupercepat saja tempo genjotanku sampai akhirnya.., crott.. croott.. croot.. Akhirnya aku menyemburkan spermaku di dalam mulut Damara. Lalu aku cepatcepat menutup mulut Damara dengan hatihati agar jangan sampai ada sperma yang dimuntahkannya lagi.
Damara malah mencoba memaksa memuntahkannya, hingga akhirnya sebagian kecil spermaku berhasil dimuntahkannya lewat selasela tanganku. Aku tidak ingin hal ini terjadi lagi hingga tangan kiriku berusaha menutupi mulutnya dan tangan kananku menjepit hidungnya sekuat tenaga agar tidak ada jalan baginya lagi untuk bernapas selain menelan spermaku. Dan kulihat tenggorokannya seperti menelan sesuatu.
Aku pikir dia akhirnyua sudah menelan spermaku semuanya. Kali ini Damara benarbenar seperti mabuk. Spermaku yang sedikit berceceran di mulutnya aku sapukan merata ke mukanya dengan harapan agar dia merasa lebih fresh. Aku merasa kehausan juga, mungkin karena sudah dari tadi berulangulang mengeluarkan sperma untuk pelacur kecilku ini. Aku jadi punya ide konyol. Sebelumnya aku keluarkan dulu gulungan tali pramuka yang menyiksanya.
Damara kemudian malah meronta dan badannya juga bergetar, mungkin karena menahan pedih. Tali pramuka yang tadinya putih bersih itu sekarang sudah jadi berwarna agak gelap dan dipenuhi banyak darah dan cairan vagina. Aku menjilatinya sebentar dan, hmm.. rasanya benar benar lezat.
Wid, aku sekarang pengen kamu kencing!! Cepet!! Aku udah haus banget dari tadi ngerjain kamu!!, perintahku. Aa.. Aapa maksudmu!? Aku nggak bisa pipis sekaraang.. Aa.. Aaku.. Lagi nggak kebelet..
Ya udah kalo gitu aku bantu sini!!
Aa.. Apaa..!? Aku kemudian mengulum vaginanya dan menghisaphisapnya serta tanganku menggelitikinya dengan harapan dia akan mengompol.
Ahahaakhh!! Ahaahaahh!! Khaahaa!! Gelii!! Apaapaan kamu!?

Pemandangan yang tampak aneh karena dia bisa setengah tertawa geli setengah menangis tersedusedu, sambil badannya bergetar hebat. Damara aku perlakukan seperti itu lama sekali sampai akhirnya dia mengompol juga meskipun hanya keluar sedikitsedikit.
Aakkhhaakhh!! Aakkhh!! Sakiit!!
Aku tidak tahu pasti mengapa dia kesakitan padahal dia hanya mengompol saja. Aku baru ingat jika aku tadi sudah mengobokobok dan memerawani vagina Damara dengan cara yang kasar hingga jika dia sekarang merintih kesakitan tentunya wajar. Tapi peduli apa aku. Kulanjutkan saja dengan menghisap dan menelan air seni gadis SMA kelas 1 itu. Mungkin karena Damara merasakan perih yang teramat sangat, maka dia hanya mengeluarkan air kencing itu sedikitsedikit sambil mengerang kesakitan.
Suara rintihannya jadi semakin lemah mungkin karena dia kelelahan. Air seninya hanya keluar sedikit sehingga lamakelamaan aku agak jengkel juga, lalu aku menghisapnya saja dengan paksa. Hmm.. Ini benarbenar lezat sekali, lebih lezat daripada teh celup manapun, pikirku, hahaha..
Rontaan Damara menjadi lebih panjang dan dia tampak lebih menderita daripada sebelumnya. Setelah aku pikir air seni Damara benarbenar sudah habis, aku sudahi saja permainan itu. Tibatiba HP Damara berbunyi lagi, dan setelah kulihat ternyata Mamanya Damara yang mereply SMSku, Bersenangsenang!? Apa maksudmu sayang!? Kenapa kamu bicara kasar gitu sama Mama!? Kamu sekarang ada dimana sayang!?
Aku memperlihatkan SMS yang dikirimkan Mamanya kepada Damara. Mungkin karena dipikir dirinya sudah tidak bisa berbuat banyak, Damara menanggapinya hanya dengan menangis tersedusedu sambil memanggilmanggil Mamanya. Kemudian aku kembali mereply SMS tersebut, Apa urusan Mama dg perkataanku yg ksr!! Makanya jgn ganggu aku lg!! Aku ada les privat dadakan, dan lokasinya ada di sorga dunia, mata pelajarannya adl ttg Kenikmatan Duniawi!! Jd Mama gak usah khawatir dan skrg mending Mama tidur aja!! Aku msh hrs bljr lbh byk lg ttg mata pljrn ini!!
Seperti tadi, sebelum aku mengirimkan SMS itu ke Mamanya Damara, aku perlihatkan dulu SMS itu kepada Damara. Mata Damara kembali terbelalak, kemudian memakiku habishabisan.
Bangsaat kamu Fidel!! Kamu benerbener terkutuk!! Kamu bukan manusiaa!! Anjing kamuu!!
Mungkin karena saking marahnya, Damara langsung memanggil namaku Fidel dan bukan Om lagi. Tetapi aku sama sekali tidak menghiraukan ucapannya, dan dia kemudian menangis lagi.
Singkat cerita, setelah itu aku kembali terus mengerjai Damara yang sudah tampak seperti orang mabuk itu sampai suara rintihannya menjadi serak sekali. Ketika sedang asyikasyiknya mengerjai siswi SMA yang lugu dan malang itu, ternyata HPnya berbunyi lagi, kulihat ternyata Mamanya yang mencoba menghubungi Damara lagi yang kali ini kuabaikan. Ternyata Mamanya Damara tidak mudah menyerah, dia malah mengirim SMS lagi, Sayang, pulang donk, ini kan sudah jam 5 sore

Post Terkait