cerita sex

NGENTOT TEMAN KAKAKKU

Itu terjadi ketika saya berumur 13 tahun. Meskipun cerita ini terjadi lama sudah, tapi acara ini masih membekas dalam pikiran saya. Tentu saja masih berlangsung, karena peristiwa yang membentuk saya adalah seorang maniak seks seperti sekarang. Bu Susis adalah saudara saya, kejadian ini terjadi ketika mba Susis kelas 3 SMA

Mba Susis adalah wanita yang sangat menarik. Wajahnya cantik, rambut panjang, kulit putih dan tubuhnya … hmmm .. masih tercetak bodynya yang fantastis. Saya masih ingat bagaimana dulu aku sering menatap dadanya matang. Sebenarnya, dadanya tidak terlalu besar, tapi kedepan bengkak, benar-benar bulat sempurna. Saya juga suka memperhatikan lekuk pinggang seperti gitar Spanyol, bulat pantat dan paha yang putih. Terutama jika dia memakai celana pendek favoritnya, paha mulus terlihat jelas dan betis butir beras fantastis. Hmmm…. Tidak heran banyak teman pria yang mengejarnya.

Pada saat itu hujan keras dan saya terjadi ketika itu dekat dengan rumah teman saya. Saya juga pergi ke rumah teman dengan maksud akan meminjam pakaian dan tempat tinggal dan celanananya. Tapi kemudian teman saya tidak di rumah tapi saya diberitahu untuk menunggu oleh mba saudara saya Susis. Aku akan masuk ke karena sekali di luar dingin. Setelah saya masuk, mba Susis membawa saya handuk dan secangkir teh panas.

“Ni Rian mba bawain handuk teh hangat yang sama, cepat minum untuk menghangatkan tubuh Anda atau Anda ingin lebih hangat? Tanya ba Susis

Lek lek lek, sementara menggigil.

“Itu pa mba?” Saya bertanya.

“Ya seperti mba pelukan ga?”

“Jangan ah mba dosa, selain, ada orang tua mba” jawabku

“Ah papa ga rian, rumah ga ada yang Rian hanya kami berdua”

“Owh” jawabku

“Ya saya sekarang telah datang ke yuk kamar mba”

Sementara malu-malu aku menjawab “Ingin mba lakukan di ruangan?”

“Kami dokter-med” kata Mba, menarik tangank, dan akhirnya saya juga berada di kamar sendirian. Setelah itu tiba-tiba mba Susis mengunci pintu …

“Mengapa terkunci mba?” Aku bertanya yang berpura-pura polos

“Kan-obat dokter kita ingin dikunci” Tertawa mba Susis menjawab

“Dokter adalah obat yang tepat untuk anak, masa kaya kakak saya hanya bermain dokter-med?” tanya polosku

“Ini berbeda, mba kanan sudah mendapatkan pelajaran di sekolah tinggi” dia merayu saya.

“Hmmm … ya sudah, jadi cara bermain?” Saya bertanya.

“Mba yang menjadi dokter, Anda begitu sabar. Sudah Anda pertama kali berbaring di tempat tidur, mba siap” suruhnya.

Lalu aku naik ke tempat tidur dan berbaring telentang.

“Apa de? Saya pertama cek ya …” kata Apa mba akting. Lalu ia meletakkan kemeja dan menepuk dada saya seperti dokter.

“Wah de ini sangat sakit” katanya. Aku tertawa karena mba Susis baik meniru dokter. Kemudian dia menjatuhkan mengetuk perut saya dan berkata “Sepertinya penyakit ini di bawah sini” dan kemudian ia mencoba membuka kancing celana saya.

Tanganku memegang tangannya, memeluknya celana terbuka. “Bagaimana mba membuka celananya?” Aku bertanya siapa berpura-pura menolak

“Ingin disembuhin penyakit tidak?” Dia mengatakan dengan silau pura-pura. Aku terdiam, kemudian dihapus tangannya. Dia tersenyum dan kemudian berkata, “Gitu dong, apakah Anda ingin bantuan yang”.

Kemudian ia membuka kancing celana dan ritsleting saya. Lalu ia menarik ke bawah celana saya sampai terpampanglah burung muda saya. Aku malu diam.

“Kenapa dia sumber penyakit” katanya riang dan kemudian memegang burung saya. Kemudian dia duduk di sampingku. Wajahku semakin merah, apalagi burung saya perlahan tapi pasti diperketat membesar.Mba Apa tertawa “Yah saya memberitahu Anda apa, itu hanya itu, dia tuh lebih keras, lebih besar!” Saat ia lembut membelai saya ngelus burung.

Tubuhku gemetar dengan kebaikan melalui saya. Saya tegang burung dan terus berkembang.

“Mba …” kataku lemah karena keenakan. “Tenang ya rian, mba obatin dulu ya” katanya. Terbuka penuh celana saya dan kemudian ia menempatkan mereka di kursi dekat meja. Selangkangan melebar, kemudian dia berubah posisi, dia duduk di antara paha saya.

Kemudian mba Susis mulai mengisap penisku. Aku masuk ke ruang, ini adalah kesenangan saya belum pernah mereka rasakan.

Ketika mba Susis-Nyedot mengulum dan menghisap penisku, suara erotis nya antara keluar dan masuknya penisku di mulutnya. Ternyata ketika saya melihat tangan kirinya meremas-remas payudaranya. Hmm tidak heran tubuhnya bergetar ketika mengisap penisku.

Mba Susis tiba-tiba berhenti mengisap penisku. “Coba saya lihat ya” kata MBA Susis yang kemudian berdiri. Aku hanya menatapnya enggan karena mereka tidak ingin kehilangan kesenangan sebelumnya.

Ternyata mba Susis pull down celana dalamnya. Karena dia mengenakan rok, celana lurus ke bawah, dan kemudian dia melemparkannya ke lantai. Dia duduk di antara pangkal paha saya, tapi kali ini dia agak melebar pahanya.

Mba Susis kembali menghisap penisku. Tubuhku kembali bergetar keenakan. Di antara sadar dan tidak, aku mulai mencium bau khas, yang sekarang aku tahu bahwa itu adalah bau vagina.

Aku melihat mba Susis yang terus mengisap penisku. tangan kirinya meremas payudaranya sekarang di bagian selangkangan, tapi aku tidak bisa melihat apa tangan ditutupi rok kain karena mereka mengenakan. Tapi saya menduga bau khas harus telah diturunkan dari selangkangan.

Kemudian mba Susis terbuka rok dan kemeja, akhirnya mba Susis telanjang. “Diam ya” kata ba mba Apa Apa kemudian memasukkan batang kemaluanku ke dalam vaginanya. Mba Susis mulai bergoyang kepada saya, karena dia mendesah “,,,,, ahh ahh ahhh ,, ,,,, aaahh. Rian juga mengguncang donk biar lebih enak ..!” Karena sangat sukacita akupun bergoyang dan merasakan nikmat yang luar biasa .

Sleeeeeeeep “,,,,, ah ah ah ,,, ah ,, ,, rian-benar luar biasa” mba desahannya Susis menunjuk tangannya ke payudaranya. Aku segera merames payudara dan nafsu bertambahlah birahiku. Kenikmatan itu bangun, bangun, bangun, sampai atas kepala saya, tubuh saya bergetar.

“Mba … Saya ingin pipis …” kataku sambil dorongan besar dari vaginanya. Tapi mba Susis tidak peduli, bahkan mempercepat goyang. Saya merasa marah karena keenakan .. “Crotz … Crotz .. Crot ..” akhirnya cum keluar di dalam.

Post Terkait