cerita sex

Rindu Kehangatan Part 3

“Belum pulang, Bu?” tanya Susilo.
“Belum. Bukankah tadi aku sudah katakan, kalau aku ingin mengajakmu main ke rumahku . . .?” jawab Siti Nara sambil tersenyum, yang semakin membuat wajahnya bertambah cantik.
“Oh, maaf, saya kira tadi Ibu tidak serius.”
“Kau mau kan menemaniku pulang, Sus?”
Susilo tidak bisa menolak ajakannya. Akhirnya Susilo pun menurut naik ke dalam mobil Siti Nara.
Sambil menempuh perjalanan menuju ke rumahnya, Siti Nara pun mengajak Susilo ngobrol.
“Kau sudah menikah, Sus?”
“Sudah, Bu.”
“Ah, jangan panggil aku dengan panggilan Bu kalau di luar.”
“Maa, kenapa memangnya?”
“Ya, kedengarannya jadi kurangakrab.”
“Terus saya harus panggil apa?”
“Panggil saja namaku, Nara.”
“Tapi, kalau hanya saja, rasanya tak enak.”
“Ya, kasih embel-embel apa kek, asal jangan Bu dan Tante.”
“Baiklah, bagaimana kalau Mbak?”
“Ya, aku suka mendengarnya.”
Mereka terus ngobrol. Hingga tanpa terasa, mereka pun sampai di rumah Siti Nara yang besar dan megah.
“Ayo, Sus,” ajak Siti Nara sambil tanpa ragu menggandeng tangan Susilo masuk ke dalam rumahnya yang megah dan mewah itu.
Susilo pun tidak bisa menolak, menuruti langkahnya masuk.
“Duduk, Sus . . “
“Terimakasih, Mbak.” Susilo pun menurut di sofa ruang tamu yang luas.
“Mau minum apa, Sus?”
“Apa saja. . .”
“Sebentar, ya?”
Siti Nara pun pergi meninggalkan Susilo yang sendiri di ruang tamu. Tak lama kemudian, seorang pembantu keluar dengan membawakan dua gelas minuman dan meletakkannya di atas meja di depan Susilo duduk.
“Silahkan, Tuam.”
“Terimakasih, Bi.”
Setelah menghilang hampir lima menit, Siti Nara kembali keluar. Kali ini dia mengenakan celana pendek dan T-Shirt. Sehingga kulit pahanya yang kuning langsat, dengan jelas dapat terlihat. Dengan bibir tersenyum dia duduk di depan Susilo.
“Ayo diminum, Sus.”
“Terimakasih, Mbak,” Susilo pun menurut meminum suguhan itu.
Mereka pun kembali ngobrol. Ketika Susilo bertanya mengenai suaminya, tiba-tiba wajah Siti Nara berubah menjadi murung. Dan semua itu membuat Susilo jadi merasa bersalah.
“Maaf, kalau pertanyaanku telah membuat Mbak sedih. . .”
“Ah, tidak . . . Justru itulah yang hendak kuceritakan padamu. Selama ini, masalah ini hanya kupendam sendiri. Aku tak tahu kepada siapa harus kubagi dukaku ini. Baru setelah bertemu denganmu, aku merasa kalau kaulah yang bisa kuajak untuk bebagi dukaku.”
“Bagaimana Mbak yakin, kalau aku bisa Mbak percaya?”
“Aku lihat dari perhatianmu kepadaku dan juga tanggung jawabmu.”
“Jika memang Mbak percaya padaku, aku pun akan berusaha mendengarnya.
Dengan wajah masih menunjukkan kemurungan dan kesedihan, Siti Nara pun menceritakan apa yang terjadi dalam kehidupannya. Lelaki yang menjadi kekasihnya, dan kepadanya dia percayakan sepenuhnya cinta kasih, tega mengkhianatinya. Kekasihnya yang telah merenggut kegadisannya, kecantol perempuan lain dan meninggalkannya. Hal itu membuatnya jadi kecewa dan menaruh dendam pada lelaki. Itu sebabnya, selama ini dia senantiasa bersikap dingin dan agak angkuh pada lelaki. Baru setelah bertemu dengan Susilo dan melihat sikap Susilo yang menurut penilaiannya berbeda dengan sifat dan sikap kekasihnya, hatinya pun jadi luluh.
Terperangah Susilo mendengar penuturan Siti Nara. Dan lebih terperangah lagi, ketika tiba-tiba Siti Nara pindah duduknya di sampingnya dan sambil menangis dia merebahkan kepalanya dan membenamkan wajahnya di pundak Susilo.
“Sus, maukah kau mengerti perasaanku?”
“Maksud Mbak?”
“Jujur saja, sebagai wanita normal, aku membutuhkan cainta kasih dan kehangatan dari seorang lelaki. Mungkin bisa saja kudapatkan banyak lelaki, namun terus terang tak ada lelaki yang aku percayai. Hanya padamulah aku percaya. Karena itu, kuharap kau mau mengerti perasaanku . . .”
Siti Nara semakin erat memeluk Susilo, wajahnya semakin terbenam di dada lelaki tampan itu. Sehingga air matanya pun membasahi dada Susilo.
Tergetar hati Susilo mendengar ratapannya. Perlahan dibimbingnya wajah Siti Nara untuk memandangke wajahnya. Lalu dengan halus dan lembut, disekanya air mata perempuan cantik itu mengalir membasahi pipi.
“Jangan menangis, Mbak. . .”
“Aku sedih, kenapa lelaki tega menyakitiku?”
“Tak semua lelaki begitu, Mbak.”
“Adakah lelaki yang mau perduli dengan penderitaanku?”
Susilo tak langsung menjawab. Hatinya diliputi kebimbangan yang mendalam.
“Jawablah, Sus. Adakah lelkai mau mengerti perasaankudan mau memberiku cinta kasih yang selama ini tak pernah kudapatkan. . .?” taya Siti Nara setengah mendesak.
“Ada.”
“Siapa?”
Kembali Susilo tak langsungmemberi jawaban. Hal itu membuat Siti Nara semakin bertambah penasaran, ingin tahu bagaimana sebenarnya perasaan lelaki itu. Namun karena Susilo tak juga mau menjawabnya, akhirnya dengan didahului helaan napas panjang. Siti Nara kembali berkata.
“Sebagai ungkapan rasa terimakasihku karena kau berkenan mengantar dan singgah di gubugku, bagaimana kalau kita berdansa?” ajak Siti Nara sambil tersenyum. Lalu sebelum Susilo menjawab, Siti Nara telah mengulurkan tangannya yang lembut ke arah lelaki tampan yang sedang dilanda kegelisahan hatinya, mengajak lelaki itu untuk menyambutinya.
Susilo pun akhirnya menurut. Dia sambut uluran tangan gadis cantik itu mereka pun melangkah ke ruang tengah. Sesampainya di tengah, mereka pun berdansa.
Irama musik yang lembut, membuat mereka semakin bertambah hanyut. Tubuh Siti Nara menempel di tubuh Susilo. Buah dadanya yang besar menekan dada lelaki itu, membuat darah kelelakian Susilo seketika berdesir. Terlebih saat tangan Siti Nara yang lembut membelai dadanya. Darah kelelakian Susilo pun semakin menggelegar. Kemudian, Siti Nara perlahan memejamkan kedua matanya sambil merekahkan bibirnya yang sesual.
“Ciumlah aku,” bisik Siti Nara lembut meminta.
Susilo yang sedang dilanda kegelisahan hati setiap kali ingat akan apa yang terjadi antara istrinya dengan Pak Fernandes, menurut melumat bibir gadis cantik yang menawan itu. Sehingga bibir gadis cantik mereka pun saling berpagut. Maka sambil bercumbu, mereka pun terus menari.
Susilo pun akhirnya jadi lupa waktu. Meski jam sudah menunjukkan pukul sembilan malam, tetapi dia tidak tahu. Lelaki itu terus saja melayani keinginan Siti Nara. Bahkan, ketika Siti Nara tanpa membimbingya kedalam kamar, lelaki tampan yang hatinya senantiasa dilanda kegelisahan itu pun menurut saja.
Sesampainya didalam kamar, dengan bibir masih membalas lumatan Susilo, tangan Siti Nara pun dengan lembut bergerak melepaskan jas yang dikenakan lelaki tampan itu. Menyusul dasi, kemudian baju hem yang dikenakan Susilo. Dan terus bergerak melepaskan ikat pinggang serta celana lelaki tampan itu. Lalu menggusur celana dalam Susilo. Sehingga dalam sekejap saja, tubuh susilo pun sudah dalam keadaan keadaan polos, tak tertutup sehelai benang pun.
Setelah tubuh lelaki tampan itu polos, Siti Nara kemudian mendorong tubuh lelaki itu hingga terjatuh terlentang di atas kasur springbadnya. Kemudian dengan bibir tersenyum menantang, Siti Nara melepaskan seluruh pakaiannya sehingga dalam sekejap saja tubuhnya yang indah dan mempesona sudah terbuka menantang di hadapapan Susilo.
“Mbak, apa yang kau lakukan?” tanya Susilo heran melihat kelakuan yang ditunjukkan Siti Nara.
“Aku menyukaimu, Sus. Salahkah jika aku menyukaimu?” tanyanya seraya menindih tubuh Susilo. Kemudian tanpa memperdulikan bagaimana perasaan lelaki tampan bawahannya itu, Siti Nara pun mulai melakukan aksinya. Tangannya yang halus mulai melakukan belaian lembut di dada Susilo. Sedang lidahnya dengan nakal, menjilati dan menggelitik setiap sudut tubuh Susilo dengan jilatan dan gelitik mesra. Sehingga membuat gairah kelelakian Susilo pun terbakar.
Semula Susilo bermaksud membalas perlakuan Siti Nara pada dirinya, namun dengan cepat Siti Nara melarangnya.
“Diam saja, Sus. Biar aku yang melayanimu dan memberimu kepuasan,” katanya seraya terus beraksi melakukan cumbuan-cumbuan lembut namun menggelegar Susilo rasakan pada bagian-bagian tubuh lelaki itu yang sensitif. Sehingga membuat Susilo harus mengerang dan mengeluh kenikmatan. Terlebih ketika tanpa rasa jijik, dengan mulut dan lidahnya Siti Nara menggelitik dan melumat batang kelelakiannya, Susilo pun harus melenguh panjang dengan mata terpejam-pejam, merasakan kenikmatan yang tiada duanya.
“Ohh. . . Mbak Nara. . . Uhh. . .”
“Bagaimana, Sus. . .?” tanya Siti Nara sesaat melepaskan kulumannya sambil memandang ke wajah tampan Susilo dengan senyum menggoda.
“Kau memang luar biasa, Nara.”
“Untukmu, akan aku berikan yang terbaik.”
“Kenapa kau lakukan ini?” tanya Susilo.
“Karena aku menyukaimu. . .”jawab Siti Nara sambil kembali melakukan aksinya, yang membuat Susilo semakin bertambah bling-satan tak karuan. Melenguh dan merintih kenikmatan. Tangannya pun dengan kuat mencekram rambut kepala gadis cantik itu, hingga mulut gadis itu semakin terbenam di selangkangannya.
Siti Nara pun tak menyia-nyiakan kesempatan itu, dia pun terus melakukan aksinya mengulum dan mengocok batang kelelakian Susilo, sehingga ukuran batang kelelakian lelaki tampan itu semakin bertambah besar dan panjang.
“Ouw. . . Mbak. . . Ahh. . .” Susilo kembali melenguh dengan tubuh menggeliat-geliat tak karuan. Sedang tangannya, semakin kuat meremas rambut kepala Siti Nara dan menekannya. Sehingga mulut gadis cantik itu semakin terbenam di selangkangannya, membuat batang kelelakiannya semakin amblas masuk kedalam mulut gadis cantik itu sampai pangkalnya.
Bagai tak mendengar rintihan dan lenguhan Susilo, dan bagai tak perduli dengan remasan serta tekanan tangan lelaki itu di kepalanya, gadis cantik itu terus saja melakukan aksinya. Mulutnya terus saja melakukan kuluman, sedang tangannya membantu dengan cara mengocok batang kelelakian Susilo dan buah zakar lelaki itu yang menggantung menggemaskan.
“Mbak. . . Ouhh. . . Aku tak tahan. . .” erang dengan mata membeliak dan tubuh mengejang. Tangannya pun semakin kuat meremas dan menekan kepala Siti Nara, sehingga wajah gadis itu semakin dalam menghunam diselangkangannya. Dan pada saat itu, dari lubang kecil pada kepala batang kelelakian Susilo menyembur dengan kuat cairan kental kenikmatan.
“Ohh . . .” Siti Nara turut melenguh kenikmatan, sebab pada saat air kenikmatan yang keluar dari lubang kecil di kepala batang kelelakian Susilo menyemburkan cairan kenikmatan yang tertelan kedalam mulutnya, saat itu juga dari dalam lubang kewanitaan Siti Nara  mengalir deras cairan kenikmatan pula. Tubuh Siti Nara pun tertunduk lemas dengan mata sayu memandang ke batang kelelakian Susilo yang masih tampak basah.
Dengan lemas gadis cantik itu bangun, lalu merebahkan tubuhnya di samping tubuh Susilo. Tangannya dengan lembut dan mesra membelai dada Susilo yang bidang.
“Terimakasih, Mbak, kau telah membuatku puas. . .”
“Hanya itu yang kau berikan sebagai balasan atas apa yang telah kulakukan?” tanya Siti Nara.
“Aku ingin malam ini kita sama-sama merasakan kepuasan, Sus . . . Sudah lama aku tak pernah merasakan kehangatan dari seorang lelaki . . . Aku sangat merindukan sekali kehangatan dirimu, Sus. . .”
Susilo mengerti apa yang di inginkan gadis cantik itu. Maka setelah istirahat sebentar, Susilo pun gantian memainkan perannya. Dia mulai melakukan cumbuan-cumbuan pembangkit gairah pada gadis itu. Dan Siti Nara yang memang menginginkan lelaki itu menjadi  miliknya, membalas serangan yang  dilakukan Susilo. Dia ingin menunjukkan pada Susilo, kalau dia dapat memberikan kepuasan yang sempurna pada lelaki itu, sehingga akan membuat Susilo tergila-gila kepadanya.
Selasai melakukan tugasnya, wanita cantik itu pun bangun dan merebahkan tubuhnya di samping Susilo. Tangannya tetap memegangi batang kelelakian Susilo. Memijit dan mengurut batang kelelakian Susilo, sehingga membuat batang kelelakian Susilo yang semula telah mengecil, kembali menegang.
“Ayo, Sus . . . Kini puaskanlah aku . . .” pintanya sambil memandu batang kelelakian Susilo.
Susilo pun menurut bangun, kemudian menindih tubuh Siti Nara. Diarahkan batang kelelakiannya yang sudah mengeras lagi ke lubang kewanitaan Siti Nara yang sudah merekah, menanti kehadiran batang kelelakiannya.
Setelah dirasa tepat, dengan penuh nafsu Susilo menekan pantatnya, hingga batang kelelakiannya pun amblas, masukke dalam lubang kewanitaan Siti Nara.
“Mainkan, Sus . . . Ayo, ayunkan pantatmu. . .”
Bagai seekor kerbau yang sudah dicocok hidungnya, Susilo pun menuruti perintah Siti Nara. Diayunkan pantatnya naik turun, sehingga batang kelelakiannya pun turut bergerak keluar masuk lubang kewanitaan perempuan cantik itu. Bersamaan dengan itu, wanita cantik itu pun membalas dengan cara menggoyangkan pantatnya ke kanan dan kekiri.
Gesekkan dari kedua benda itu, menimbulkan rasa nikmat yang tiada kiranya. Di lubang kewanitaan Siti Nara, Susilo merasakan ada semacam penjepit elastis, yang menjepit batang kelelakiannya, sehingga setiap kali Susilo menarik batang kelelakiannya bagai diurut-urut. Sehingga, akhirnya Susilo pun tak mampu lagi bertahan. Dari lubang batang kelelakiannya, kembali menyembur cairan kental kenikmatan.
“Ohhh . . .”
Malam itu, Siti Nara benar-benar mampu membuat Susilo jadi lupa akan segala-galanya. Lupa akan siapa dirinya, lupa akan istrinya di rumah. Dan apa yang seharusnya tak dilakukan, akhirnya dia lakukan juga.
Malam itu, Susilo mendapatkan kepuasam dan kenikmatan yang sangat memabukkan. Bahkan, malam itu mereka berulang kali bercumbu dan berpacu mencapai ke puncak nafsu. Sampai akhirnya, mereka sama-sama terkulai lemas kehabisan tenaga.

***

Jam dinding yang ada di ruang tengah, saat itu sudah menunjukkan angka setengah sebelas malam. Nina tampak masih duduk termangu seorang diri. Ibu muda beranak satu yang baru berumur dua puluh lima tahun itu belum tidur karena masih menunggu kepulangan suaminya.
Akhir-akhir ini, suaminya jadi lebih sering kerja lembur. Pulangnya selalu larut malam. Dan tentunya jika sudah begitu, suaminyajadi capai. Sehingga setiap kali dia mengajak suaminya melakukan hubungan badan, suaminya senantiasa menolak dengan alasan capai.
Nina menyadari, apa yang dilakukan suaminya semata-mata untuk kebahagiaan mereka bersama. Tetapi sebagai wanita normal, Nina membutuhkan kehangatan dari lelaki. Namun, setiap kali dia meminta pada suaminya, Susilo selalu saja menolak dengan alasan capai. Nina yang tahu kalau suaminya memang capai,akhirnya tak bisa memaksa. Sebab kalau pun dipaksa, hasilnya malah tak enak. Jadilah dia harus terus berusaha menahan perasaannya.
Hari ini sudah hampir dua bulan dia tak mendapatkan nafkah bathin dari suaminya. Setiap kali dia mengajak, suaminya senantiasa menolak dengan alasan capai. Selama itu pula, Nina harus terus berusaha menahan gejolak birahinya. Entah sampai kapan dia akan sanggup bertahan. Karena sebagai wanita normal, jelas dia membutuhkan kehangatan dan kepuasan dari lelaki. Namun memaksa suaminya untuk mau memberinya kehangatan dan kepuasan, rasanya tak mungkin. Sebab suaminya yang seharian bekerja, akan langsung tidur jika sudah mencium bantal.
Nina benar-benar dibuat bingung dan gelisah sendiri jika hasrat birahinya sudah tak dapat dibendung lagi. Bahkan kadan dia dibuat tak bisa tidur jika sudah begitu karena dia tak tahu harus bagaimana menumpahkan gejolak nafsu birahinya. Kadang terlintas dalam pikirannya untuk mencari kepuasan di luar rumah, namun jelas hal itu dia harus meninggalkan anaknya yang baru berumur setahun sendirian di rumah. Jelas dia tak mungkin keluyuran dengan membawa anak. Dengan mengingat anaknya, Nina pun berusaha membuang pikiran kotornya dan berusaha untuk tetap bertahan. Meski kadang jiwanya merasa tersiksa.
Malam ini, meski sudah menunjukkan angka setengah sebelas, Susilo belum juga pulang. Dan meski hal itu sudah sering terjadi, namun tetap saja perasaan Nina jadi gelisah. Dia jadi kwatir, takut terjadi sesuatu yang tidak diinginkan pada suaminya.
Sampai jam sebelas tepat, saat mata Nina sudah mengantuk, suaminya belum juga pulang. Sampai akhirnya ibu muda yang cantik itu pun tertidur di sofa sambil duduk.
Nina terjaga dengan agak kaget, ketika telinganya mendengar suara bel tamu. Dengan masih agak mengantuk, bergegas dia bangung dari sofa dan melangkah ke pintu depan rumah untuk membukakan pintu. Dan memang yang datang adalah suaminya.
“Baru pulang, Mas?” tanyanya.
“Ya.” Jawab Susilo seraya melangkah masuk.
Nina pun menutup pintu rumah dan menguncinya, kemudian dia mengikuti langkah suaminya yang menuju ke ruang makan. Segera Nina membuatkan kopi panas untuk suaminya dan meletakkannya di depan suaminya duduk.
“Mau mandi, Mas?” tanya Nina.
“Ya.”
“Sebentar aku masakkan air.”
Susilo mengangguk. Sambil menunggu istrinya memasak air, Susilo menyeruput kopi panasnya untuk sekedar menghangatkan tubuh. Setelah tiga kali menyeruput kopi panasnya, Susilo kemudian bangun dari duduknya. Dia melangkah ke kamar untuk melepaskan pakaian kerjanya. Tak lama kemudian, dengan hanya mengenakan kaos singlet dan celana pendek serta handuk yang tersampir di pundaknya, Susilo kembali keluar dan duduk kembali di kursi ruang makan untuk menikmati kopinya.
Dari dapur Nina keluar dan duduk di depan suaminya.
“Sebentar lagi masak airnya, Mas.”
“Ya. Kamu belum tidur?” tanya Susilo.
“Belum, Mas.”
“Kalau begitu, kamu tidur saja. Biar nanti aku sendiri yang menuangkan air panas.”
“Mas mau makan, kan?”
“Ya, nanti biar aku sendiri yang mengambil. Sebaiknya kau tidur saja, karena tentu kau lelah.”
“Tapi, Mas . . .”
“Sudahlah, tidur saja. . .”
“Mas Susilo?”
“Nanti setelah selesai mandi dan makan, aku menyusul.”
Nina akhirnya menurut bangun dari duduknya.
“Saya ke kamar dulu, Mas.”
“Ya.”
Wanita cantik itu pun meninggalkan ruang makan menuju ke dalam kamarnya.
Sesampainya di dalam kamar, Nina merebahkan tubuhnya, namun dia tidak bisa memejamkan kedua matanya. Hasrat kewanitaannya yang sudah lama tak mendapatkan kehangatan dari suaminya, malam ini kembali menggelora dan meminta pelampiasan. Dan itulah yang membuat perasaan Nina jadi gelisah. Hatinya jadi bimbang, apakah suaminya yang sudah capai setelah seharian bekerja akan mau melayani ajakannya, memberinya kepuasan sebagaimana yang dia inginkan?
Ibu muda yang cantik itu beberapa kali menghela napas panjang sambil membolak-balikan tubuhnya kesana-kemari berusaha agar bisa memendam hasrat kewanitaannya dengan membawanya tidur, namun kedua matanya tak juga dapat di pejamkan. Malah semakin lama, gairahnya semakin bertambah menggelora bagai api yang membakar seluruh jiwa dan raganya.
“Ohh . . .”
Nina melenguh, merasakan himpitan nafsu yang terus menekan perasaannya.
Tak tahan membendung gejolak birahinya yang sudah membara, Nina akhirnya bangun dari rebahannya. Duduk termenung di tepi tempat tidur, berusaha untuk mempertimbangkan apakah malam ini dia akan menuntut pada suaminya yang sudah capai seharian bekerja, atau terus berusaha menekan perasaannya sedalam mungkin, walau dia harus tersiksa?”
Dari arah kamar mandi, terdengar suara Susilo bersenandung kecil. Sepertinya Susilo sudah menuangkan air panasnya untuk mandi dan sepertinya Susilo sudah bersiap-siap untuk mandi.
Dengan segala hasrat yang ada, Nina pun bangun dan melepaskan seluruh pakaiannya, kemudian dia melangkah keluar dari kamar tidurnya dengan tubuh sudah dalam keadaan telanjang tanpa tertutup barang sehelai benang pun. Dengan tubuh telanjang bulat, Nina menuju ke kamar mandi dimana suaminya berada.
Didorongnya pintu kamar mandi yang tak terkunci, sehingga membuat Susilo yang sudah dalam keadaan telanjang agak kaget. Dan lelaki itu kian bertambah kaget, saat melihat siapa yang masuk, yang ternyata istrinya dan dalam keadaan sudah telanjang bulat tanpa tertutup barang sehelai benang pun.
“Nina . . .” desis Susilo dengan kening mengerut, melihat sikap istrinya yang dirasa aneh. Sebab tak biasa-biasanya Nina melakukan hal seperti itu, dan selama mereka menjadi suami-istri, belum pernah Nina mendatanginya di kamar mandi dalam keadaan telanjang bulat seperti sekarang.
Dengan bibir tersenyum mengundang, Nina menutup pintu kamar mandi. Kemudian dengan masih tersenyum, perempuan cantik yang sedang dilanda gairah nafsu birahi menghampiri suaminya yang masih terpaku. Sambil melingkarkan kedua tangannya ke leher Susilo, Nina berkata, “Mas . . . Sudah lama kau tak lagi memberiku kehangatan. Malam ini, aku ingin kau memberikannya kepadaku. . .”
“Aku capai, Nina.”
“Aku tahu, Mas. Namun aku sudah tak tahan lagi. . . Hampir sebulan lamanya kau tak pernah menyentuhku. Sebagai wanita normal, aku membutuhkan kehangatan, Mas. . .” desah Nina sambil terus berusaha membangkitkan nafsu birahi suaminya dengan belaian-belaian lembut tangannya pada dada suaminya. Dia berharapan suaminya yang sudah lama tak menyentuhnya, malam ini akan memberinya kehangatan dan juga kenikmatan sebagaimana yang dia butuhkan.
Susilo menghela napas panjang dan berat menghadapi sikap istrinya. Ada rasa iba melihat keadaaan istrinya yang tampak begitu merindukan kehangatan dari seorang lelaki. Karena itu, meski sebenarnya dia merasa capai setelah seharian bekerja, namun karena tak ingin mengecewakan istrinya Susilo pun akhirnya mengabulkan keinginan istrinya. Segera didekapnya tubuh Nina erat, lalu dengan lembut dilumatnya bibir Nina dengan lembut namun menggairahkan.
“Ohh . . .Teruskan, Mas. . . Sudah lama kudambakan saat-saatseperti ini,” desis Nina sambil membalas lumatan bibir suaminya. Sedang tangannya bergerak membelai dan meremas-remas rambut suaminya.
Meski sebenarnya capai setelah seharian bekerja, namun karena birahinya sudah terangsang, akhirnya Susilo turut hanyut dalam lautan gairah yang di tebarkan oleh istrinya.
Dilumatnya bibir Nina dengan lumatan-lumatan mesra. Sementara tangannya, dengan lembut melakukan belaian dan remasan pada bagian-bagian tubuh istrinya yang sensitif, yang membuat Nina harus menggerinjing, merintih dan melenguh kenikmatan.
Nina yang selama ini dangat merindukan kehangatan dari suaminya tak mau tinggal diam. Sambil menikmati cumbuan yang diberikan oleh suaminya, dia pun membalas belaian dan remasan tangan suaminya dengan cara sama melakukan belaian dan remasan pada bagian-bagian tubuh suaminya yang sensitif. Dari rambut kepala Susilo, tangan Nina bergerak kebawah dan berhenti di selangkangan Susilo. Di sana, dengan lembut tangan Nina menyentuh sebuah benda berotot milik suaminya. Dibelai dan di remasnya, sehingga membuat Susilo melenguh.
“Ohh . . .”
Lumatan bibir Susilo pada bibir Nina pun lepas. Namun kemudian sambil meresapi remasan dan belaian tangan istrinya pada batang kelelakiannya, Susilo mengarahkan cumbuannya pada bagian dada istrinya dimana dua bukit kembar yang halus berada. Dengan lidah dan mulutnya, Susilo mencumbui bukit susu Nina yang sebelah kanan, sedang tangan kanannya dengan mesra membelai dan memilin buah dada istrinya yang sebelah kiri.
“Ahh . . . Mas . . .” Nina merintih, merasakan geli bercampur nikmat akibat cumbuan yang di lakukan oleh suaminya pada kedua buah dadanya. Meski begitu, tangan Nina yang berada di selangkangan Susilo tak mau berhenti melakukan aksi. Sambil menikmati cumbuan yang di lakukan suaminya, dia pun membalasnya dengan terus melakukan belaian dan remasan pada batang kelelakian suaminya yang semakin lama, semakin keras.
Setelah dirasa cukup puas melakukan pemanasan, Susilo pun menghentikan cumbuannya. Kemudian dibimbingnya Nina merapat ke dinding kamar mandi, lalu disuruhnya Nina membalikkan tubuh menghadap ke dinding. Setelah itu, dengan posisi Nina nungging, Susilo pun mengarahkan senjatanya ke arah lubang kewanitaan istrinya. Lalu ditekannya pantat ke depan, sehingga batang kelelakiannya pun melesat masuk ke dalam lubang kewanitaan Nina.
“Auw . . . Mas . . .” Nina melenguh dengan mata membeliak, ketika batang kelelakian suaminya amblas ke dalam lubang kewanitaannya. Setelah itu, wanita cantik berusia Sekitar dua puluh tujuh itu pun menggerakkan pantatnya ke kanan dan ke kiri secara teratur, sehingga kenikmatan pun semakin dalam dia rasakan.
Begitu halnya dengan Susilo, sambil menikmati kenikmatan yang dia rasakan akibat goyangan pantat istrinya, dengan tangan memegang dan meremasi pantat istrinya, Susilo pun terus melakukan ayunan pantatnya maju-mundur secara teratur.
Cukup lama keduanya berpacu, berusaha mencapai puncak kepuasan yang sama-sama mereka inginkan. Gesekkan dari kedua kulit kemaluan mereka, semakin menambah rasa nikmat yang tiada duanya. Sampai akhirnya, dengan didahului oleh lenguhan panjang dan tubuh yang meregang, Susilo pun mencapai puncak kepuasannya.
“Ma. . .Ohh. . .”
“Tahan, Mas . . .Tahan . . . Aku belum keluar . . .” desis Nina sambil menggoyangkan pantatnya semakin cepat agar dia pun mendapatkan kepuasan. Namun apa yang dilakukannya percuma saja, sebab suaminya sudah sanggup lagi menahan semburan lahar kenikmatannya.
“Ahh. . . Aku sudah keluar, Ma. . .” desah Susilo dengan tubuh melemas seraya menekan pantatnya kuat-kuat ke depan, sehingga batang kelelakiannya yang menyemburkan cairan kenikmatan pun semakin bertambah amblas menghunjam di dalam lubang kewanitaan istrinya.
Nina benar-benar merasa kecewa dengan kenyataan itu. Namun begitu, dia tak bisa memaksa suaminya yang benar-benar sudah kecapaian setelah seharian bekerja untuk meneruskan permainan. Setelah cebok, Nina pun keluar dari kamar mandi dan membiarkan suaminya mandi. Dia kembali ke kamarnya, mengenakan baju tidurnya kembali dan langsung merebahkan tubuhnya di kasur untuk tidur. Namun belum juga matanya terpejam, anaknya menangis. Segera Nina bangun dan menghampiri bok bayi dimana anaknya berada. Kemudian dia pun menyusui anaknya hingga diam dan kembali tidur. Baru setelah itu, Nina pun kembali merebahkan tubuhnya di kasur untuk tidur dengan membawa hati yang gelisah dan kecewa karena tak mendapatkan kepuasan sebagaimana yang dia inginkan.

Post Terkait

Baca Juga: Cerita Ngentot Janda Pemilik Warung