cerita sex

Sedang Bermalaman di Puncak Kemping

Setelah semuanya selesai, kami sepakat bahwa tiga orang lelaki harus mencari kayu bakar, sisanya tetap tinggal di perkemahan. Aku, Tanto, dan Muti memilih mencari kayu bakar, sedangkan Yusuf, Nia dan Reska tetap tinggal di tenda. Baru beberapa langkah kami beranjak pergi, tibatiba Reska memanggil kami, katanya dia ingin ikut kelompok kami saja (alasannya masuk akal, dia tidak enak hati sebab Yusuf adalah pacar Nia , dan Reska tidak ingin kehadirannya di tenda mengganggu acara mereka). Karena Yusuf dan Nia tidak keberatan ditinggal berdua, kami (Tanto, Muti , aku dan Reska) segera melanjutkan perjalanan.

Ada beberapa hal yang perlu aku ceritakan kepada pembaca tentang dua orang teman wanita kami. Nia sifatnya sangat lembut, dewasa, pendiam dan keibuan. Sifat ini bertolak belakang dengan Reska . Mungkin karena dia anak bungsu dan ketiga kakaknya semua lelaki, jadi Reska sangat manja, tapi terkadang tomboy. Tapi di balik semua itu, kami semua mengakui bahwa Reska sangat cantik, bahkan lebih cantik dari Nia .

Tidak berapa lama, sampailah kami pada tempat yang dituju, lalu kami mulai mengumpulkan rantingranting kering. Sambil mengumpulkan ranting, kami membicarakan apa yang sedang dilakukan Yusuf dan Nia di dalam tenda. Tentu saja pembicaraan kami menjurus kepada halhal porno. Setelah cukup apa yang kami cari, Tanto mengusulkan singgah mandi dulu ke sungai yang tidak berapa jauh dari tempat kami berada. Reska boleh ikut, tapi harus menunggu di atas tebing sungai sementara kami bertiga mandi. Reska setuju saja. Singkat kata, sampailah kami pada sungai yang dituju. Aku, Tanto dan Muti turun ke sungai, lalu mandi di situ. Reska kami suruh duduk di atas tebing dan jangan sekalikali mengintip kami.

Ketika sedang asyikasyiknya kami berkubang di air, tibatiba kami mendengar Reska menjerit karena terjatuh dari atas tebing. Tubuhnya menggelinding sampai akhirnya ia tercebur ke dalam air. Cepatcepat kami berlari mencoba menyelamatkan Reska (kami mandi hanya menanggalkan baju dan celana panjang, sedangkan celana dalam tetap kami pakai). Tanto yang pandai berenang segera menjemput Reska , lalu menariknya dari air menuju tepi sungai. Aku dan Muti menunggu di atas. Sampai di tepi sungai, tubuh Reska basah kuyup. Sepintas kulihat lengan Tanto menyentuh buah dada Reska . Karena Reska memakai TShirt basah, aku dapat melihat dengan jelas lekuklekuk tubuh Reska yang sangat menggairahkan.

Cerita Mesum Ketika Sedang Bermalaman di Puncak Kemping Reska merintih memegangi lutut kanannya. Aku dan Muti terpaku tidak tahu apa yang harus kami lakukan, tapi Tanto yang pernah ikut kegiatan penyelamatan dengan sigap membuka ikat pinggang Reska lalu mencopot celana jeans Reska sampai lutut. Reska berteriak sambil mempertahankan celananya agar tidak melorot. Sungguh, saat itu aku tidak tahu apa sebenarnya yang hendak Tanto lakukan terhadap Reska . Segalanya berjalan begitu cepat dan aku tidak menyimpan tuduhan negatif terhadap Tanto. Aku hanya menduga, Tanto hendak memeriksa luka Reska . Tapi dengan melorotnya jeans Reska sampai ke lutut, kami dapat melihat dengan jelas celana dalam Reska yang berwarna putih kecoklatan dan berenda. Kontan penisku bangun.

Tanto memerintahkan aku dan Muti memegangi kedua tangan Reska . Seperti dihipnotis, kami menurut saja. Reska semakin meronta sambil menghardik, To, apaapaan sih.., Lepas.., lepas! Atau saya teriak.

Muti secepat kilat membungkam mulut Reska dengan kedua telapak tangannya. Tanto setelah berhasil mencopot celana jeans Reska , sekarang mencoba mencopot celana dalam Reska . Sampai detik ini, akhirnya aku tahu apa sebenarnya yang sedang terjadi. Aku tidak berani melarang Tanto dan Muti, karena selain aku sudah merasa terlibat, aku juga sangat terangsang saat melihat kemaluan Reska yang lebat ditumbuhi rambutrambut hitam keriting.

Reska semakin meronta dan mencoba berteriak, tapi cengkeraman tanganku dan bungkaman Muti membuat usahanya siasia belaka. Tanto segera berlutut di antara kedua belah paha Reska. Tangan kirinya menekan perut Reska , tangan kanannya membimbing penisnya menuju kemaluan Reska . Reska semakin meronta, membuat Tanto kesulitan memasukkan penisnya ke dalam lubang vaginanya. Muti mengambil inisiatif. Dia lalu duduk mengangkangi tepat di atas dada Reska sambil tangannya terus membungkam Reska Reska . Tibatiba Reska berteriak keras sekali. Rupanya Tanto berhasil merobek selaput dara Reska dengan penisnya. Secara cepat Tanto menggerakgerakkan pinggulnya maju mundur. Untuk beberapa menit lamanya Reska meronta, sampai akhirnya dia diam pasrah. Yang dia lakukan hanya menangis terisakisak.

Cerita Ngentot Ketika Sedang Bermalaman di Puncak Kemping Muti melepaskan telapak tangannya dari mulut Reska karena dia merasa Reska tidak akan berteriak lagi. Lalu dia mencoba menarik TShirt Reska ke atas. Di luar dugaan, Reska kali ini tidak mengadakan perlawanan, hingga Muti dan aku dapat melepaskan TShirt dan BHnya. Luar biasa, tubuh Reska dalam keadaan telanjang bulat sangat membangkitkan birahi. Tubuhnya mulus, dan buah dadanya sangat montok. Mungkin ukurannya 36B.

Muti segera menjilati puting susu Reska, sementara aku melihat Tanto semakin kesetanan mengoyakngoyak vagina Reska yang beberapa saat yang lalu masih perawan. Aku sangat terangsang, lalu aku mulai memaksa mencium bibir Reska. Ugh, nikmat sekali bibirnya yang dingin dan lembut itu. Aku melumat bibirnya dengan sangat bernafsu. Aku tidak tahu apa yang sedang Reska rasakan. Aku hanya melihat, matanya polos menerawang jauh langit di atas sana yang menguning pertanda malam akan segera tiba. Tangisnya sudah agak mereda, tapi aku masih dapat mendengar isak tangisnya yang tidak sekeras tadi. Mungkin dia sudah sangat putus asa, shock, atau mungkin juga menikmati perlakuan kasar kami.

Tibatiba aku mendengar Tanto menjerit tertahan. Tubuhnya mengejang. Dia menyemprotkan sperma banyak sekali ke dalam vagina Reska. Setengah menit kemudian Tanto beranjak pergi dari tubuh Reska lalu tergeletak kelelahan di samping kami. Muti menyuruhku mengambil giliran kedua. Aku bangkit menuju Vagina Reska . Sepintas aku melihat sperma Tanto mengalir ke luar dari mulut vagina Reska. Warnanya putih kemerahan. Rupanya bercakbercak merah itu berasal dari darah selaput dara Reska yang robek. Tanpa kesulitan aku berhasil memasukkan penis ke dalam vaginanya. Rasanya nikmat sekali. Licin dan hangat bercampur menjadi satu. Dengan cepat aku mengocokngocok penisku maju mundur. Aku mendekap tubuh Reska. Payudaranya beradu dengan dadaku. Dengan ganas aku melumat bibir Reska. Muti dan Tanto menyaksikan atraksiku dari jarak dua meter. Beberapa menit kemudian aku merasakan penisku sangat tegang dan berdenyutdenyut. Aku sudah mencoba menahan agar ejakulasi dapat diperlama, tapi siasia. Spermaku keluar banyak sekali di dalam vagina Reska. Aku peluk erat Tubuh Reska sampai dia tidak dapat bernafas.

Setelah puas, aku berikan giliran berikutnya kepada Muti. Aku lalu duduk di samping Tanto memandangi Muti yang dengan sangat bernafsu menikmati tubuh Reska. Karena lelah, kurebahkan tubuhku telentang sambil memandangi langit yang semakin menggelap.

Beberapa menit kemudian Muti ejakulasi di dalam vagina. Setelah Muti puas, ternyata Tanto bangkit kembali nafsunya. Dia menghampiri Reska . Tapi kali ini dia malah membalikkan tubuh Reska hingga tengkurap. Aku tidak tahu apa yang akan diperbuatnya. Ternyata Tanto hendak melakukan anal seks. Reska menjerit saat anusnya ditembus penis Tanto. Mendengar itu Tanto malah semakin kesetanan. Dia menjambak rambut Reska ke belakang hingga muka Reska menengadah ke atas. Dengan sigap Muti menghampiri tubuh Reska . Aku melihat Muti dengan sangat kasar meremasremas buah dada Reska. Reska mengiba, Aduhh.., sudah dong To.., ampun.., sakit To. Tapi Tanto dan Muti tidak menghiraukannya.

Oh, sempit sekali, teriak Tanto mengomentari lubang dubur Reska yang lebih sempit dari vaginanya. Setiap Tanto menarik penisnya aku lihat dubur Reska monyong. Sebaliknya saat Tanto menusukkan penisnya, dubur Reska menjadi kempot. Tidak lama, Tanto mengalami ejakulasi yang kedua kalinya. Setelah puas, sekarang giliran Muti menyodomi Reska . Melihat itu aku jadi kasihan juga terhadap Reska. Di matanya aku melihat beban penderitaan yang amat berat, tapi sekaligus aku juga melihat sisasisa ketegarannya menghadapi perlakuan ini.

Cerita Panas Ketika Sedang Bermalaman di Puncak Kemping Setelah Muti puas, Tanto dan Muti menyuruhku menikmati tubuh Reska . Tapi tibatiba timbul rasa kasihan dalam hatiku. Aku katakan bahwa aku sudah sangat lelah dan hari sudah menjelang gelap. Kami sepakat kembali ke perkemahan. Tanto dan Muti segera berpakaian lalu beranjak meninggalkan kami sambil menenteng kayu bakar. Reska dengan tertatihtatih mengambil celana dalam, jeans, lalu mengenakannya. Aku tanyakan apakah Reska mau mandi dulu, dan dia hanya menggeleng. Dalam keremangan senja aku masih dapat melihat matanya yang indah berkacakaca. Kuambil TShirtnya. Karena basah, aku mengepakngepakkan agar lebih kering, lalu aku berikan TShirt itu bersamasama dengan BHnya. Tanto dan Muti menunggu kami di atas tebing sungai. Setelah Reska dan aku lengkap berpakaian, kami beranjak pergi meninggalkan tempat itu. Tanto dan Muti berjalan tujuh meter di depanku dan Reska.

Di perkemahan, Yusuf dan Nia menunggu kami dengan cemas. Lalu kami mengarang cerita agar peristiwa itu tidak menyebar. Untunglah Yusuf dan Nia percaya, dan Reska hanya diam saja.

Tepat tengah malam di saat orang lain merayakan pergantian tahun baru, kami melewatinya dengan hambar. Tidak banyak keceriaan kala itu. Kami lebih banyak diam, walau Yusuf berusaha mencairkan keheningan malam dengan gitarnya.

Esoknya, pagipagi sekali Reska minta segera pulang. Kami maklum lalu segera membongkar tenda. Untunglah sesampainya di kota kami, Reska merahasiakan peristiwa ini. Tapi tiga bulan berikutnya Reska menghubungiku dan dia dengan memohon meminta aku bertanggung jawab atas kehamilannya. Aku sempat kaget karena belum tentu anak yang dikandungnya itu adalah anakku. Tapi raut wajahnya yang sangat mengiba, membuatku kasihan lalu menyanggupi menikahinya.

Satu bulan berikutnya kami resmi menikah. Reska minta agar aku memboyongnya meninggalkan kota ini dan mencari pekerjaan di kota lain. Sekarang anak kami sudah dapat berjalan. Lucu sekali. Matanya indah seperti mata ibunya. Kadang terpikir untuk mengetahui anak siapa sebenarnya anak kami ini. Tapi kemudian aku menguburnya dalamdalam. Aku khawatir kebahagiaan rumah tangga kami akan hancur bila ternyata kenyataan pahitlah yang kami dapati.

Akhir bulan Desember tahun 1997 kami menikmati pergantian tahun baru di rumah saja. Peristiwa ini kembali menguak kenangan buruknya. Matanya berkacakaca. Aku memeluk dan membelai rambutnya. Beberapa menit kemudian, dalam dekapanku dia mengaku bahwa sebelum peristiwa itu terjadi, sebenarnya dia sudah jatuh cinta padaku. Dia ikut mencari kayu bakar karena dia ingin bisa dekat denganku.
Ya Tuhan, aku benarbenar menyesal. Pengakuannya ini membuat hatiku pedih tak terkira.

Post Terkait

1total visits,1visits today