cerita sex

Sex Hot Ditengah Pesta

Saya dan suamiku datang setengah jam lebih awal, soalnya ini pesta pernikahan perak boss dimana suamiku harus menunjukkan loyalitasnya. Bangunan pendopo di rumah boss telah berubah menjadi ball room yg megah. Nampak mejameja panjang yg telah ditata mewah lengkap dgn gelasgelas kristal dan sendok garpu peraknya serta piringpiring porselin diatas taplak putih bersih yg menghampar menutup mejanya. Sementara para pelayan sibuk menyiapkan semua perlengkapanya seperti makanan dan perangkat penunjangnya yg jg memamerkan kemewahan pesta ala orangorang Barat.

Diatas stage nampak duduk seorang pianis dgn tuxedonya yg menyentuh lantai sementara tangannya menyentuh lembut tuts piano Vluegel yg terbuka sayapnya untuk memperdengarkan, entah benar entah tdk, sepotong karya Tchaikovsky. Dan di bawahnya terbentang lantai kayu jati yg sangat mengkilat yg nanti akan dipenuhi para pasangan anggun yg melintasinya dlm acara Polonaise yg elegant itu. Saya dan suamiku telah siap untuk ikut meramaikannya dan untuk itu kami telah berlatih Polonaise setiap hari di pusat latihan tari Nana Marina yg top itu.

Sementara itu cahaya ruangan yg datang dari lampulampu kristal buatan Rossental yg super mewah jatuh temaram telah menciptakan harmoni antara karpet yg merah darah, mejameja putih dgn gelasgelas kristalnya, para tuan dan nyonya yg berseliweran dlm busana resmi pesta berupa jas tuxedo lengkap dgn celananya yg berstrip sutra putih disampingnya untuk para tamu pria dan gaun malam berwarna gelap untuk wanita pasangannya lengkap dgn sarung tangannya yg membungkus tangantangan mereka hingga sebatas lengannya. Saya sendiri setengah mati menyiapkan ini semua.

Sebagai wanita kelahiran desa Gempol, Wonosari, pesta macam begini baru sekali kami alami, dan maknanya sangat luar biasa bagi kami. Kami, suamiku dan saya, mempersiapkan diri lebih dari satu bulan dgn entah menghabiskan berapa juta rupiah untuk busana yg mungkin baru sepuluh tahun lagi kami pakai kembali. Tetapi saya sendiri berbahagia dgn kesempatan ini.

Saya mendatangi Harry Darsono, desainer top kita itu, untuk konsultasi sekaligus memesan busana yg sesuai dgn saya. Kemudian pada jatuh harinya, seharian ini saya berkutat di rumah fashionnya untuk menyetel semuanya termasuk melatih saya bagaimana mesti membawakan diri dgn busana macam ini. Saya memakai gaun terusan yg berhenti di dadaku untuk digantungkan dgn tali lembut ke bahuku.

Dgn kain sutra yg khusus di datangan dari Amerika, begitu kata Harry, gaun malamku ini dia kerjakan siang malam selama lebih dari 2 minggu. Hasilnya sangat memuaskan saya. Saat saya keluar hendak pulang mereka bilang tampilanku sangat cantik mempesona seperti Cinderella atau Boneka Barby yg seksi itu. Saya tdk tahu persis, adakah Harry Darsono dan temantemannya tahu bahwa saya berasal dari desa Gempol, Wonosari.

Kini saya dgn busana malamku, parfum LIvonneku serta beberapa bentuk gelang berlian ditangan kanan dan kiriku dgn penuh percaya diri menggandeng tangan suamiku bak pengantin agung memasuki ruangan pesta yg sangat mewah ini. Saya merasa seolaholah semua nafas terhenti dan semua mata menyaksikan kehadiran kami, tentunya karena adanya saya yg dibilang mirip Cinderella dan Boneka Barbie tadi. Ada sih, yg nampak acuh saja saat saya melewati mereka, ah, biarlah, mungkin mereka tahu bahwa saya hanya berasal dari desa Gempol, Wonosari.

Suamiku memperhatikan tulisan namanama di meja. Panitia pesta telah menyusun secara protokoler siapa duduk di mana. Sebagai top eksekutif perusahan suamiku membawa saya untuk menempati kursi dekat dgn kursi boss dan nyonya. Disamping kanan kiri kami kubaca namanama para tokohtokoh masyarakat baik pengusaha, celebriti ataupun pejabat dan politisi negeri tercinta ini.

Beberapa tamu yg telah hadir terlebih dahulu memberikan hormat pada suamiku dan kemudian meraih dan mencium tanganku sebagaimana layaknya menghadapi seorang putri terhormat macam Cinderella itu. Pasti mereka termasuk yg tdk tahu bahwa saya berasal dari desa Gempol, Wonosari. Saya merasa sangat tersanjung. Saya lihat mata mereka yg tdk berkedip memperhatikan saya sekaligus melupakan bahwa disebelah kiri mereka ada istrinya yg mestinya tdk kalah cantik dgnku. Dan kulihat betapa para istriistri itu sedemikian cemburu, bahkan ada yg terangterangan mencibirkan bibirnya, mungkin mereka itu tahu persis bahwa saya asli berasal dari Gempol.

Suamiku menarik kursi berukir keemasan untukku, baru kali ini dia lakukan selama lebih dari 10 tahun kami menikah, kemudian dgn usaha keras agar nampak anggun seanggunanggunnya, saya menempatkan pantatku untuk duduk. Tibatiba saya ingat telepon genggam atau HPku yg baru kubeli terlupa ketinggalan di laci mobil, saya harus mengambilnya karena saya sdh janji kepada Yanti teman sedesaku yg kini buka salon dekat rumahku di RW 07 kampung Warakas, Tanjung Priok.

Dgn HPku yg mutakhir itu saya bisa mengabadikan dlm fotofoto seluruh kejadian pada pesta mewah ini, sehingga saya tak usah banyak cerita padanya. Saya bisikkan kepada Mas Karsiman, suamiku, tentang HPku yg ketinggalan di mobil itu. Dgn tanpa mengindahkan tata krama bagaimana seharusnya melayani istri anggunnya dia ngomel padaku, dimana sih ingatan kamu, begitu saja kok lupa, dasar cah ndeso, katanya. Dia rogoh celananya dan lemparkan kunci mobilnya ke saya. kuakui bahwa dari sekian banyak orang di ruangan ball room itu, hanya Mas Karsimanlah orang yg paling tahu bahwa saya benarbenar dari desa Gempol, Wonosari.

Saya beranjak dari kursiku dan bergegas ke mobil di halaman parkir. Saat saya turun dari teras sambil sedikit mengangkat gaun malamku agar tdk nyerimpet kakiku seorang petugas parkir yg berkumis melintang dan memakai seragamnya yg gagah membungkuk dlmdlm penuh hormat, meraih tanganku dan menciumnya kemudian dia menanyakan apakah saya perlu bantuan. Sikap penuh hormatnya yg hebat itu membuat saya sangat tersanjung, dan bak seorang nyonya yg super penting saya minta dia untuk mendampingi saya menuju ke mobil.

Beda dgn suamiku, saya pastikan dialah orangnya yg paling sama sekali tdk tahu bahwa saya berasal dari desa Gempol, Wonosari. Dia bantu saya mengangkat gaun malamku agar tdk nyerimpet kakiku. Dan dia mengangkat benarbenar tinggi hingga jauh dari kakiku, bahkan hampir setengah padaku. Wah, saya kembali lebih tersanjung oleh penghormatannya. Apalagi setelah kuamati petugas parkir itu ternyata ganteng banget, jauh lebih ganteng dari pada suamiku. Terlintas pada pikiranku kalau petugas parkir ini lebih cocok sebagai pendampingku, sementara Mas Joko akan lebih cocok menggantikannya sebagai petugas parkir.

Sampai di lapangan parkir saya lihat mobilku yg menghadap ke jalan sdh dipepet berdesak oleh mobil lain, tetapi untung di sebelah pintu yg saya akan buka masih ada ruang untuk daun pintu mobilku. Petugas yg baik dan penuh hormat itu dgn sabar menantikan saya membuka pintu mobil dgn terus mengangkat gaun malamku sebagaimana permintaanku tadi.

Sesudah mencoba beberapa mata kunci, akhirnya pintu mobilku terbuka. Saya buka lebarlebar pintunya dan langsung merunduk nungging mencari HPku yg ketinggalan. Saya merabaraba jok kursi depan dan jok kursi belakang, kemudian membukai lacilaci tetapi tak kunjung kutemukan HPku itu. Sementara itu petugas parkir yg ganteng tadi mulai mencium bokongku. Uh, rasanya ketersanjunganku makin sangat tak tehingga, kalau orangorang cukup mencium tanganku sebagai tanda hormatnya, petugas parkir ini lebihlebih lagi dgn mau mencium bokongku.

Keyakinanku bahwa dia benarbenar tdk mengetahui asalusulku yg dari desa Gempol, Wonosari jadi berlipatlipat. Apalagi saat menciumi bokongku jg diikuti semakin meninggikan ngangkat gaun malamku agar nantinya tdk menyandung kakiku. Sedemikian tingginya dia mengangkat gaunku hingga kurasakan betapa kumisnya yg melintang itu langsung membuat saya merinding saat menyentuh poripori bokongku. Ketika tangantanganku tak jg menemukan HPku dlm mobil itu saya mencoba bertahan untuk tetap nungging beberapa saat lagi guna memberi kesempatan lebih lama kepada petugas parkir itu menyampaikan hormatnya padaku.

Kemudian saat ciumannya jg dia tambahkan dgn kecupan bibirnya dan jilatan lidahnya saya langsung ingat akan kebiasaan suamiku yg selalu mengawali godaannya padaku dgn ciuman di bokongku, kemudian mengecup dan menjilatinya sebagaimana yg kini dilakukan petugas parkir ini. Yg selanjutnya saya sangat ingin tahu adalah, apakah dia jg akan melepasi celana panjangnya dan menempelkan tongkat panjangnya untuk di useluselkan kebokongku sebagaimana yg jg diperbuat suamiku. Saya perlu menunggu beberapa saat hingga ternyata dia benarbenar melakukan persis seperti yg biasa dilakukan suamiku itu. Ah, bukan main petugas parkir ini, dia betulbetul mengetahui dgn persis kebiasaan suamiku.

Dan ketika dia kemudian bangkit mencopoti celana dlmku dan melemparkannya ke jok mobilku kemudian dgn penuh emosi merangkul tubuhku serta kedua tangannya meraih susususuku dan meremasremasinya, sementara tongkatnya yg hangat, gede dan panjang itu disodoksodokan ke daerah yg sangat rahasia milikku, saya betulbetul merasa sedang menghadapi suamiku.

Tetapi kali ini ada yg beda, petugas parkir ini memberikan kenikmatan 73 kali lipat dari kenikmatan yg bisa diberikan suamiku. Saya katakan 73 karena yg dia tuju (tujuh) ada 3, pertama adalah nonokku yg merupakan milikku yg paling rahasia yg selama ini hanya suamiku yg berhak mengambilnya, kedua adalah buah dadaku sangat menampakkan pesona dan nikmat sensual dan yg ketiga.., apa, ya..? Tibatiba saya terlupa karena saya rasakan sodokan di bawah sana menghunjamhunjam demikian hebatnya hingga nikmatnya membuat saya lupa segalagalanya.

Sodokan tongkat panas dan panjang petugas parkir itu demikian dlm menembusi nonokku hingga menyentuh dinding rahimku. Sementara dindingdinding nonokku yg dipenuhi sarafsaraf peka terus melumat dan meremasremas batang bulat gede itu karena kegatalan. Ketika lumatan dan remasan dinding peka itu belum jg mengurangi kegatalanku, saya terpaksa membantunya dgn menggoyanggoyangkan ke kanan dan ke kiri serta memaju dan mundurkan pantat serta pinggulku hingga seluruh badan mobilku pun ikut bergoyanggoyang.

Pada saat seperti ini biasanya suamiku minta supaya saya berpurapura ditimpa nikmat yg tak terhingga, dia minta supaya saya mendesah dan merintih bahkan kalau perlu berteriak seakan saya menanggung derita yg tak terperikan. Tetapi saat ini petugas parkir itu benarbenar sedang memberikan kenikmatan yg tak terhingga padaku, dan saya sungguhsungguh ditimpa derita nikmat yg tak terperikan, sehingga tanpa dia minta kini saya benarbenar mengeluarkan desahan, rintihan dan teriakanteriakan demikian hebat yg bahkan tak bisa kukendalikan lagi.

Dan ketika tongkatnya terasa makin legit dan sesak keluar masuk dlm nonokku, saya tahu bahwa sebentar lagi dia akan mempersembahkan kenikmatan yg tak terperi padaku. Saya sendiri sdh harus bergegas menerima puncakpuncak derita hasil perbuatannya. Dan saat saya merasakan adanya semprotan cairan yg sangat kuat dan panas dlm nonokku, puncak nikmatkupun muncrat hadir menyertainya. Pada saat itu saya tak lagi ingat macam bagaiman kegaduhan yg terjadi dlm mobil yg jg ikut terguncangguncang ini. Yg kuingat hanyalah saya terrebah nungging dan tengkurap ke jok mobil dan petugas parkir itu melepas batang panasnya dari lubang kemaluanku. Kemudian saya terlena sesaat.

Saya baru sadar saat musik Polonaise dari ruang ball room terdengar bergema. Saya segera bangkit karena pasti Mas Karsiman, suamiku telah menunggu saya. Saya menjambret kertas tissue yg selalu ada di mobilku untuk membersihkan cairan dan lendir kental yg meleleh di seputar vagina dan padaku. Saya cari petugas parkir itu, rupanya dia telah meninggalkan saya. Mungkin karena saya lupa tdk memberikan tugas untuk membimbingku dari mobil menuju gedung ball room itu. Dan saya bergegas kembali untuk suamiku yg pasti sdh gelisah menunggu.

Sebelum saya menemuinya saya mampir terlebih dahulu ke toilet ball room untuk membetulkan busana malamku dan sedikit riasan wajahku. Saat akhirnya suamiku menggandeng saya untuk melakukan ritual Polanaise dlm pesta perak bossnya, saya merasakan ada yabg bergetar dlm BHku. Ya, ampun, rupanya saya lupa kalau HPku telah kuselipkan ke dadaku menjelang berangkat dari rumah itu. Saya menerima SMS dari Yanti agar saya tdk lupa membuat dokumentasi foto pesta hebat ini.

Malam itu saat pesta usai saya digandeng kembali oleh suamiku keluar dari ball room menuju tempat mobil kami. Saya tengaktengok kesana kemari mencari petugas parkir yg ramah itu tetapi tak kulihat batang hidungnya. Mungkin dia sedang sibuk mengatur keluar masuk mobil lainnya di tempat lain. Saya sampai di rumah sekitar pukul 11 malam. Kulihat Yanti dan pelayan rumahku masih melek menungguku.

Sebagai putri yg seanggun Cinderella saya merasa tdk harus menegur mereka. Saya langsung masuk ke kamar untuk membuka busana jutaan rupiahku ini. Rumah kontrakan yg sempit di Tanjung Priok ini membuatku sangat kegerahan. Saat saya melepaskan gelang berlianku dari tangan kanan dan kiriku saya merasa ada yg kurang. Satu bentuk gelang berlianku telah hilang dari tanganku. Saya jadi ingat tuju(tujuh)an yg ke tiga, rupanya petugas parkir itu telah menjambret gelang berlianku yg kubeli seharga 5 juta rupiah dari uang arisanku itu. Seketika pandanganku gelap, saya limbung terkulai dan jatuh ke lantai.

Saya sdh tergeletak di tempat tidur saat terbangun. Kulihat Ratmi sedang mengipasi saya dgn kertas bungkus dagangannya. Pelayanku sedang memijiti kakiku, dan suamiku di sana sedang terduduk lesu. Di genggaman tangannya kulihat celana dlmku yg nampak basah lembab yg dia ketemukan di jok mobilku. Dia menasehatiku dgn matanya yg penuh rasa kasihan agar kalau saya pergipergi jangan meninggalkan celana dlm di mobil, hingga menyebabkan saya kini masuk angin. Kemudian dia menyuruh pelayanku mengambil minyak goreng untuk mengerok punggungku.

Malam itu saya tertidur dgn sangat nyenyak. Masa bodo dgn gelang berlian, masa bodo dgn busana Harry Darsono, masa bodo dgn Polonaise dan Nana Marinanya. Rasanya sawah di Gempol, Wonosari jauh lebih indah dari semuanya ini. Dan pelukan Mas Joko terasa jauh lebih nikmat daripada jambretan tangan petugas parkir itu.

Post Terkait