cerita sex

Sita Sepupuku

Jumat Pagi. aku kembali bertemu Sita Sepupuku. Ia kini sudah berkeluarga dan sejak menikah tinggal di Palembang. Untuk suatu urusan keluarga, ia bersama anaknya yang masih berusia 6 tahun pulang ke Yogya tanpa disertai suaminya. Sita masih seperti dulu, kulitnya yang putih, bibirnya yang merah merekah, rambutnya yang lebat tumbuh terjaga selalu di atas bahu. Meski rambutnya agak kemerahan namun karena kulitnya yang putih bersih, selalu saja menarik dipandang, apalagi kalau berada dalam pelukan dan dieluselus. Perjumpaan di Yogya ini mengingatkan peristiwa sepuluh tahun lalu ketika ia masih kuliah di sebuah perguruan tinggi ternama di Yogya. Selama kuliah, ia tinggal di rumah bude, kakak ibunya yang juga kakak ibuku. Rumahku dan rumah bude agak jauh dan waktu itu kami jarang ketemu Sita.

Aku mengenalnya sejak kanakkanak. Ia memang gadis yang lincah, terbuka dan tergolong berotak encer. Setahun setelah aku menikah, isteriku melahirkan anak kami yang pertama. Hubungan kami rukun dan saling mencintai. Kami tinggal di rumah sendiri, agak di luar kota. Sewaktu melahirkan, isteriku mengalami pendarahan hebat dan harus dirawat di rumah sakit lebih lama ketimbang anak kami. Sungguh repot harus merawat bayi di rumah. Karena itu, ibu mertua, ibuku sendiri, tante (ibunya Sita) serta Sita dengan suka rela bergiliran membantu kerepotan kami.

Semua berlalu selamat sampai isteriku diperbolehkan pulang dan langsung bisa merawat dan menyusui anak kami.
Harihari berikutnya, Sita masih sering datang menengok anak kami yang katanya cantik dan lucu. Bahkan, heran kenapa, bayi kami sangat lekat dengan Sita. Kalau sedang rewel, menangis, merontaronta kalau digendong Sita menjadi diam dan tertidur dalam pangkuan atau gendongan Sita. Sepulang kuliah, kalau ada waktu, Sita selalu mampir dan membantu isteriku merawat si kecil. Lamalama Sita sering tinggal di rumah kami. Isteriku sangat senang atas bantuan Sita. Tampaknya Sita tulus dan ikhlas membantu kami. Apalagi aku harus kerja sepenuh hari dan sering pulang malam. Bertambah besar, bayi kami berkurang nakalnya. Sita mulai tidak banyak mampirke rumah. Isteriku juga semakin sehat dan bisa mengurus seluruh keperluannya.

Namun suatu malam ketika aku masih asyik menyelesaikan pekerjaan di kantor, Sita tibatiba muncul.
Ada apa Na, malammalam begini.
Mas Danu, tinggal sendiri di kantor?
Ya, Dari mana kamu?
Sengaja kemari.
Sita mendekat ke arahku. Berdiri di samping kursi kerja. Sita terlihat mengenakan rok dan Tshirt warna kesukaannya, pink. Tercium olehku bau parfum khas remaja.
Ada apa, Sita?
Mas.. aku pengin seperti Mbak Tari.
Pengin? Pengin apanya? Sita tidak menjawab tetapi malah melangkah kakinya yang putih mulus hingga berdiri persis di depanku. Dalam sekejap ia sudah duduk di pangkuanku.
Sita, apaapaan kamu ini.. Tanpa menungguku selesai bicara, Sita sudah menyambarkan bibirnya di bibirku dan menyedotnya kuatkuat. Bibir yang selama ini hanya dapat kupandangi dan bayangkan, kini benarbenar mendarat keras. Kulumanya penuh nafsu dan nafas halusnya menyeruak. Lidahnya dipermainkan cepat dan menari lincah dalam rongga mulutku. Ia mencari lidahku dan menyedotnya kuatkuat. Aku berusaha melepaskannya namun sandaran kursi menghalangi. Lebih dari itu, terus terang ada rasa nikmat setelah berbulanbulan tidak berhubungan intim dengan isteriku. Sita merenggangkan pagutannya dan katanya, Mas, aku selalu ketagihan Mas. Aku suka berhubungan dengan lakilaki, bahkan beberapa dosen telah kuajak beginian. Tidak bercumbu beberapa hari saja rasanya badan panas dingin. Aku belum pernah menemukan lakilaki yang pas.

Kuangkat tubuh Sita dan kududukkan di atas kertas yang masih berserakan di atas meja kerja. Aku bangkit dari duduk dan melangkah ke arah pintu ruang kerjaku. Aku mengunci dan menutup kelambu ruangan.
Na.. Kuakui, aku pun kelaparan. Sudah empat bulan tidak bercumbu dengan Tari.
Jadikan aku Mbak Tari, Mas. Ayo, kata Sita sambil turun dari meja dan menyongsong langkahku.
Ia memelukku kuatkuat sehingga dadanya yang empuk sepenuhnya menempel di dadaku. Terasa pula penisku yang telah mengeras berbenturan dengan perut bawah pusarnya yang lembut. Sita merapatkan pula perutnya ke arah kemaluanku yang masih terbungkus celana tebal. Sita kembali menyambar leherku dengan kuluman bibirnnya yang merekah bak bibir artis terkenal. Aliran listrik seakan menjalar ke seluruh tubuh. Aku semula ragu menyambut keliaran Sita. Namun ketika kenikmatan tibatiba menjalar ke seluruh tubuh, menjadi mubazir belaka melepas kesempatanini.
Kamu amat bergairah, Sita.. bisikku lirih di telinganya.
Hmm.. iya.. Sayang.. balasnya lirih sembari mendesah.
Aku sebenarnya menginginkan Mas sejak lama.. ukh.. serunya sembari menelan ludahnya.
Ayo, Mas.. teruskan..
Ya Sayang. Apa yang kamu inginkan dari Mas?
Semuanya, kata Sita sembari tangannya menjelajah dan mengelus batang kemaluanku.

Bibirnya terus menyapu permukaan kulitku di leher, dada dan tengkuk. Perlahan kusingkap TShirt yang dikenakannya. Kutarik perlahan ke arah atas dan serta merta tangan Sita telah diangkat tanda meminta TShirt langsung dibuka saja. Kaos itu kulempar ke atas meja. Kedua jemariku langsung memeluknya kuatkuat hingga badan Sita lekat ke dadaku. Kedua bukitnya menempel kembali, terasa hangat dan lembut. Jemariku mencari kancing BH yang terletak di punggungnya. Kulepas perlahan, talinya, kuturunkan melalui tangannya. BH itu akhirnya jatuh ke lantai dan kini ujung payudaranya menempel lekat ke arahku. Aku melorot perlahan ke arah dadanya dan kujilati penuh gairah. Permukaan dan tepi putingnya terasa sedikit asin oleh keringat Sita, namun menambah nikmat aroma gadis muda.

Tangan Sita mengusapusap rambutku dan menggiring kepalaku agar mulutku segera menyedot putingnya. Sedot kuatkuat Mas, sedoott.. bisiknya. Aku memenuhi permintaannya dan Sita tak kuasa menahan kedua kakinya. Ia seakan lemas dan menjatuhkan badan ke lantai berkarpet tebal. Ruang berAC itu terasa makin hangat. Mas lepas.. katanya sambil telentang di lantai. Sita meminta aku melepas pakaian. Sita sendiri pun melepas rok dan celana dalamnya. Aku pun berbuat demikian namun masih kusisakan celana dalam. Sita melihat dengan pandangan mata sayu seperti tak sabar menunggu. Segera aku menyusulnya, tiduran di lantai. Kudekap tubuhnya dari arah samping sembari kugosokkan telapak tanganku ke arah putingnya. Sita melenguh sedikit kemudian sedikit memiringkan tubuhnya ke arahku. Sengaja ia segera mengarahkan putingnya ke mulutku.
Mas sedot Mas.. teruskan, enak sekali Mas.. enak.. Kupenuhi permintaannya sembari kupijatpijat pantatnya. Tanganku mulai nakal mencari selangkangan Sita. Rambutnya tidak terlalu tebal namun datarannya cukup mantap untuk mendaratkan pesawat cocorde milikku.

Kumainkan jemariku di sana dan Sita tampak sedikit tersentak. Ukh.. khmem.. hss.. terus.. terus, lenguhnya tak jelas. Sementara sedotan di putingnya kugencarkan, jemari tanganku bagaikan memetik dawai gitar di pusat kenikmatannya. Terasa jemari kanan tengahku telah mencapai gumpalan kecil daging di dinding atas depan vaginanya, ujungnya kurabaraba lembut berirama. Lidahku memainkan puting sembari sesekali menyedot dan menghembusnya. Jemariku memilin klitoris Sita dengan teknik petik melodi.

Sita menggelinjanggelinjang, melenguhlenguh penuh nikmat. Mas.. Mas.. ampun.. terus, ampun.. terus ukhh.. Sebentar kemudian Sita lemas. Namun itu tidak berlangsung lama karena Sita kembali bernafsu dan berbalik mengambil inisitif. Tangannya mencaricari arah kejantananku. Kudekatkan agar gampang dijangkau, dengan serta merta Sita menarik celana dalamku. Bersamaan dengan itu melesat keluar pusaka kesayangan Tari. Akibatnya, memukul ke arah wajah Sita. Uh.. Mas.. apaan ini, kata Sita kaget. Tanpa menunggu jawabanku, tangan Sita langsung meraihnya. Kedua telapak tangannya menggenggam dan mengelus penisku.
Mas.. ini asli?
Asli, 100 persen, jawabku.
Sita gelenggeleng kepala. Lalu lidahnya menyambar cepat ke arah permukaan penisku yang berdiameter 6 cm dan panjang 19 cm itu, sedikit agak bengkok ke kanan. Di bagian samping kanan terlihat menonjol aliran otot keras. Bagian bawah kepalanya, masih tersisa sedikit kulit yang menggelambir. Otot dan gelambiran kulit itulah yang membuat perempuan bertambah nikmat merasakan tusukan senjata andalanku.
Mas, belum pernah aku melihat penis sebesar dan sepanjang ini.
Sekarang kamu melihatnya, memegangnya dan menikmatinya.
Alangkah bahagianya MBak Tari.
Makanya kamu pengin seperti dia, kan?
Sita langsung menarik penisku. Mas, aku ingin cepat menikmatinya. Masukkan, cepat masukkan.
Sita menelentangkan tubuhnya. Pahanya direntangkannya. Terlihat betapa mulus putih dan bersih. Diantara bulu halus di selangkangannya, terlihat lubang vagina yang mungil. Aku telah berada di antara pahanya. Exocetku telah siap meluncur. Sita memandangiku penuh harap.
Cepat Mas, cepat..
Sabar Sita. Kamu harus benarbenar terangsang, Sayang..

Namun tampaknya Sita tak sabar. Belum pernah kulihat perempuan sekasar Sita. Dia tak ingin dicumbui dulu sebelum dirasuki penis pasangannya. Cepat Mas.. ajaknya lagi. Kupenuhi permintaannya, kutempelkan ujung penisku di permukaan lubang vaginanya, kutekan perlahan tapi sungguh amat sulit masuk, kuangkat kembali namun Sita justru mendorongkan pantatku dengan kedua belah tangannya. Pantatnya sendiri didorong ke arah atas. Tak terhindarkan, batang penisku bagai membentur dinding tebal. Namun Sita tampaknya ingin main kasar. Aku pun, meski belum terangsang benar, kumasukkan penisku sekuat dan sekencangnya. Meski perlahan dapat memasukirongga vaginanya, namun terasa sangat sesak, seret, panas, perih dan sulit. Sita tidak gentar, malah menyongsongnya penuh gairah.
Jangan paksakan, Sayang.. pintaku.
Terus. Paksa, siksa aku. Siksa.. tusuk aku. Keras.. keras jangan takut Mas, terus.. Dan aku tak bisa menghindar. Kulesakkan keras hingga separuh penisku telah masuk. Sita menjerit, Aouwww.. sedikit lagi.. Dan aku menekannya kuatkuat. Bersamaan dengan itu terasa ada yang mengalir dari dalam vagina Sita, meleleh keluar. Aku melirik, darah.. darah segar. Sita diam. Nafasnya terengahengah. Matanya memejam. Aku menahan penisku tetap menancap. Tidak turun, tidak juga naik. Untuk mengurangi ketegangannya, kucari ujung puting Sita dengan mulutku. Meski agak membungkuk, aku dapat mencapainya. Sita sedikit berkurang ketegangannya.
Beberapa saat kemudian ia memintaku memulai aktivitas. Kugerakkan penisku yang hanya separuh jalan, turun naik dan Sita mulai tampak menikmatinya. Pergerakan konstan itu kupertahankan cukup lama. Makin lama tusukanku makin dalam. Sita pasrah dan tidak sebuas tadi. Ia menikmati irama keluar masuk di liang kemaluannya yang mulai basah dan mengalirkan cairan pelicin. Sita mulai bangkit gairahnya menggelinjang dan melenguh dan pada akhirnya menjerit lirih, Uuuhh.. Mas.. uhh.. enaakk.. enaakk.. Terus.. aduh.. ya ampun enaknya.. Sita melemas dan terkulai. Kucabut penisku yang masih keras, kubersihkan dengan bajuku. Aku duduk di samping Sita yang terkulai.
Sita, kenapa kamu?
Lemas, Mas. Kamu amat perkasa.
Kamu juga liar.
Sita memang sering berhubungan dengan lakilaki. Namun belum ada yang berhasil menembus keperawanannya karena selaput daranya amat tebal. Namun perkiraanku, para lelaki akan takluk oleh garangnya Sita mengajak senggama tanpa pemanasan yang cukup. Gila memang anak itu, cepat panas.
Sejak kejadian itu, Sita selalu ingin mengulanginya. Namun aku selalu menghindar. Hanya sekali peristiwa itu kami ulangi di sebuah hotel sepanjang hari. Sita waktu itu kesetanan dan kuladeni kemauannya dengan segala gaya. Sita mengaku puas.
Setelah lulus, Sita menikah dan tinggal di Palembang. Sejak itu tidak ada kabarnya. Dan, ketika pulang ke Yogya bersama anaknya, aku berjumpa di rumah bude.
Mas Danu, mau nyoba lagi? bisiknya lirih.
Aku hanya mengangguk.
Masih gede juga? tanyanya menggoda.
Ya, tambah gede dong.
Dan malamnya, aku menyambangi di hotel tempatnya menginap. Pertarungan pun kembali terjadi dalam posisi samasama telah matang.
Mas Danu, Mbak Tari sudah bisa dipakai belum? tanyanya.
Belum, dokter melarangnya, kataku berbohong.
Dan, Sita pun malam itu mencoba melayaniku hingga kami samasama terpuaskan.

Post Terkait

10total visits,1visits today