cerita sex

Tante Anita

Hujan gerimis. Aku bergegas pulang. Keramaian taman makin menghilang. Sibuk orangorang menyelamatkan diri dari titiktitik air. Lalu menyelamatkan yang lainnya, jemuran pakaian dan kasur.

Di depan flatku seorang wanita muda Tante Anita namanya mengangkati jemurannya yang cukup banyak. Kelihatannya kurang mengantisipasi akibat baru bangun tidur. Masih memakai piyama. Rudi, bantuin Tante dong!
Tanpa bicara aku membantunya. Sprei, kelambu, baju, tshirt, dan ..ih, pakaian dalam.
Bawa ke mana, Tante?
Sekalian ke dalam aja! Tante Anita berjalan di depanku.
Menaiki tangga hingga lantai dua. Aku cukup puas menikmati irama pinggulnya yang kukira agak dibuatbuat. Saat menghadap ke arah terang, siluet tubuhnya jelas membayang. Seakan telanjang. Kami masuk ke rumahnya.

Tante Anita menggeletakkan jemuran di sudut kamarnya, akupun mengikutinya.
Makasih ya? Kamu mau minum apa, Rud? tanyanya yang langsung menghentikan maksudku untuk langsung pulang.
Apa aja deh, Tante. Asal anget. Kurebahkan diri di sofanya.
Hmm, lumayan nyaman.
Tante Anita belum mempunyai anak. Yang kutahu, suaminya, Om yang tak kutahu namanya itu hanya sekalikali pulang.
Dengardengar pekerjaanya sebagai pelaut. Ha ha, pelaut. Di mana mendarat, di situ membuang jangkar. Sinis sekali aku.
Om belum pulang, Tante? tanyaku basabasi sambil menerima teh hangat.
Belum, nggak tentu pulangnya. Biasanya sih, hari Minggu.
Tapi hari Minggu kemarin nggak pulang juga.
Tante nggak kemanamana? Mau kemana, paling cuma di rumah saja.
Kalau ada Om baru pergipergi.
Eh, kamu nggak ada keperluan lain, kan?
Nggak, Tante, jawabku.
Mau apa aku di rumah, sendirian, di tengah hujan yang semakin lebat begini.
Temenin Tante ya. Ngobrol.
Kamipun terlibat dalam obrolan yang biasa saja.
Sekedar ingin tahu kehidupan masing masing.
Dari ucapannya, kutahu bahwa suaminya bernama Om Iwan.
Jarang pulang. Yang cukup membuat darahku berdesir agak cepat adalah daster itu.
Seakan aku bisa melihat dua titik di dadanya, yang timbul tenggelam ketika kami bercengkrama. Tangan Tante Anita cukup atraktif.
Entah sengaja atau tidak sering menyentuh tanganku, atau mampir di pahaku. Makin lama duduknya pun semakin dekat.
Hingga.. Rudi, mau nonton film nggak? Tante punya film bagus nih.
Wah untunglah. Rumahku tidak mempunyai vCD player.
Tante Anita menyalakan TV lalu memasang film. Dan, astaga ternyata dia benar tidak memakai BH dan celana dalam.
Aku bisa melihatnya jelas karena dia cukup lama berdiri menyamping, cahaya TV membuat gaun tidurnya menjadi selaput transparan. Bentuk payudara beserta putingnya beserta rambut di pangkal paha. Aku lebih ternganga lagi karena film itu XX.
Kembali Tante Anita duduk di sampingku, malahan lebih dekat lagi. Tangannya mengusapusap lenganku dengan lembut.
Filmnya bagus ya? Bisiknya pelan.
Namun terdengar di telingaku bagaikan rayuan.
Aku tak mampu menjawab karena bibir bawahku menahan ekstasi yang kuat.
Entah apa yang harus kulakukan kini.
Mataku tak lepas dari wanita yang merintih di film itu, yang sudah distel suaranya pelan. Tante Anita menggenggam pergelangan tanganku.
Dan, astaga. Dibawanya tanganku ke payudaranya. Didiktenya tangan ini ke daerah yang tak pernah diraRudin sebelumnya. Begitu pula tangan kiriku.
Kini masingmasing telapak tangan itu memegang rata masingmasing pasangannya, payudara. Pandanganku masih ke arah TV. Aku tak berani menatap wajah Tante Anita.. Tak pernah aku impikan hal ini terjadi.
Sementara di TV desahan si gadis yang menghadapi dua batang penis makin membuat hot suasana. Rudi, hadap sini dong, ujarnya manja.
Kuhadapkan wajahku. Kulihat tatapan pengharapan di sana.
Wajah Tante Anita cukup cantik, dengan kulit putih dan senyuman manis yang menghiasinya.
Aku masih memegang payudara itu, hanya memegang dengan daster yang melapisinya.
Ah, tak terasa daster itu. Hanya payudara besar ini fokus pikiranku.
Tanganku masih canggung, sementara ada sesuatu yang mulai menggeliat di bawah sana.
Tibatiba dia menghentikanku, dengan cara yang sempurna. Tangannya merengkuhku dalam pelukan, sementara bibirnya mencium lembut.
Payudaranya menghimpit dadaku. Membuat dadaku berdetak hingga aku merasa bisa mendengarnya. Ciumannya nikmat. Beda sekali sekali dengan apa yang ada di TV. Seakan ingin mengaliri dengan hangat jiwanya. Kami berciuman lama sekali, tak terasa tanganku ikut mendekapnya makin erat.

Kulepaskan dekapanku untuk mulai mengontrol diri kembali. Berakhirlah sesi ciuman itu.
Kenapa Rudi? Kamu marah ya? tanyanya pelan. Tapi sialan, suarasuara di TV itu kembali mengacaukanku. Melumpuhkanku lagi dalam birahi.
Maafin Tante ya? Tante.. Wajah itu mengeluarkan prana iba untuk dikasihi.
Dia kembali menciumku, cukup hangat.
Namun tak sehangat tadi kurasa. Akupun tak mengharap ciuman kasih sayang, karena dariku juga tinggal nafsu. Ciumanciuman itu pindah ke leher dan telinga.
Ah, tak pernah kubayangkan bahwa daerah ini lebih membuatku bergidik. Akupun menirunya. Kami saling menciumi leher, bahkan Tante Anita sempat mencium keras.
Aduh, Tante.. Dia lalu tersenyum dan berdiri.
Perlahan dia melepas daster itu, mulai dari tangannya. Satu demi satu tangan daster itu terlepas. Daster melorot, tertahan sebentar di bulatan payudaranya yang besar. Dia menarik ke bawah lagi daster itu. Terlihat payudara, tanpa BH. Putih, bulat, besar, dengan puting susu berwarna merah muda. Mulutku menganga kagum seakan ingin memakannya. Aku menelan ludah. Diturunkannya lagi. Aku menikmati satu persatu sajian pemandangan itu. Perutnya putih dengan pinggang yang ramping. Pusarnya menjadi penghias di sana. Daster itu tertahan di pinggangnya. Oh, pantatnya menahan. Aku semakin berdebar, ingin mempercepat proses itu, aku ingin segera melihat kemaluannya. Diturunkan lagi, dan ah.. vagina itu muncul juga. Dihiasi rambut berbentuk segitiga yang tak begitu lebat. Bibir vaginanya merah segar, sedikit basah.

Untuk pertama kalinya aku melihat wanita bugil. Dengan senyumnya, bangga membuatku tergakumkagum. Sekarang, kamu juga buka ya? perintahnya manja. Aku membuka tshirtku. Tante Anita membuka celanaku, Lepas jinsku, tapi Tante Anita tak segera membukanya.
Dia jongkok lalu menjilati penisku dari luar celana dalam. Tampak noda basah sperma yang makin ditambah oleh air ludah. Penis itu makin membesar dalam celana dalam, rasanya tak enak kerena tertahan. Segera kubuka dan ..hup keluarlah batang kemaluan diikuti dua bolanya.
Tante Anita mengecupnya, si penis tampak membesar. Semakin tegaknya penis diikuti dengan jilatanjilatan lidah. Uff, enak sekali. Kini gantian tangannya yang bekerja. Pertama dirabanya semua bagian penis, lalu mulai mengocoknya. Setelah kirakira telah utuh bentuknya, tegak dan besar, dAnitaukkannya ke dalam mulut. Tante Anita memandang ke atas, wajahnya berseriseri .
Teruskan Tante. Lidah Tante Anita menjilatjilat, kadang menggelitik penisku. Lalu mulai memaju mundurkan mulutnya, seakan sebuah vagina menyetubuhi penis. Ini hebat sekali. Sekitar 15 menit permainan itu berlangsung, hingga..
Tante, saya mau keluar.. kataku terengahengah.
Tante Anita malah mempercepat kocokan mulutnya. Aku ikut memegang kepalanya. Dan keluarlah ia. Aku merasa ada 5 semprotan kencang. Tante Anita tidak melepasnya, ia menelannya. Bahkan terus mengocok hingga habis spermanya. Lega rasanya tapi lemas badanku. Tante Anita berdiri, kemudian kami berciuman lagi.
Sekarang gantian ya.. Kini aku menghadapi payudara siap saji. Pertama kurabaraba dengan kedua tanganku. Remasan itu kubuat berirama. Lalu aku mulai berkonsentrasi pada puting susu. Kutariktarik hingga payudaranya terbawa dan kulepaskan.
Hmm, bagaimana rasanya ya? Aku mulai menjilatinya.
Enak. Jilatanku pada satu payudara sementara tangan yang lain meremas satunya.
Ketika kuhisaphisap putingnya, terasa makin mancung, mengeras, dan tebal puting itu. Kulakukan pula pada payudara satunya.
Oh, ternyata jika wanita terangsang, yang ereksi adalah puting susunya.
Kirakira 5 menit aku melakukannya dengan nikmat.
Kemudian jilatanku turun, hingga vaginanya.
Kucoba dengan jilatanjilatan. Kusibakkan lagi rambut kemaluannya agar jilatan lebih sempurna. Ada seperti daging kecil yang menyembul. Yang kutahu, itu adalah klitoris. Kuhisap seperti menghisap puting susu, eh Tante Anita merintih.
Hmm, Rudi, jangan dihisap. Geli. Tante nggak kuat.
Dan Tente Anita benarbenar lunglai. Tubuhnya rebah ke sofa.
Dia terlentang dengan paha mengangkang memperlihatkan vagina terbuka dan payudara yang berputing tegak. Aku lanjutkan lagi kegiatan ini. Makin lama kemaluannya makin basah. Jilatan dan hisapanku makin bersemangat, sementara di sana Tante meremasremas payudaranya sendiri menahan ektasi.
Tibatiba pahanya mendekap kepalaku dan ..serr seperti ada aliran lendir dari vaginanya.
Otot liang itu berkontraksi. Inikah orgasme, hebat sekali, dan aku melihatnya dari dekat. Tak kusiasiakan lendir yang mengalir, kuhisap dan kutelan. Rasanya lebih enak dari sperma. Tubuh Tante Anita yang bergoyanggoyang akhirnya tenang kembali. Jepitan pahanya mulai melemah namun penisku mulai ereksi lagi. Kucium mesra vaginanya seperti aku mencium bibirnya. Tante Iya tersenyum. Bibirnya berkata Terima kasih, namun tak mengeluarkan suara.

Gambar di film itu merangsang kami. Wanita berpayudara besar terlentang diatas meja kantor. Diatasnya lakilaki dengan penis panjang dan besar menyetubuhi payudaranya. Tangan si wanita menekan payudaranya sendiri agar merapat, dan penis itu melewati celahnya. Kupikir pasti asyik sekali.
Aku menjilati dulu payudara Tante Anita, agar basah dan lengket. Tak lupa dengan hisapanhisapan di putingnya. Setelah merasa cukup, aku duduk di muka payudara itu. Tante Anita merapatkan celah payudaranya. Dia tersenyum senang. Aku mulai dengan pelan memasuki celah payudara, seakan itu adalah liang vagina.
Uff, sensasinya luar biasa.
Aku mulai memaju mundurkan penis dengan irama. Ujung penisku terlihat saat aku maju. Kalau klimaks, pasti spermanya sampai ke wajah Tante. Tanganku ikut memegang payudara untuk menguatkan hujaman penis. Kadang aku menariknarik puting susu.
Aku mencium bibirnya, mengangkat paha di lehernya, kemudian menyerahkan lagi penisku. Dihisap dan jilat lagi, seperti tak puas saja. Posisiku duduk tak enak. Aku tak bisa duduk karena akan menekan lehernya, tangankupun tak bisa memaju mundurkan kepalanya. Oh, ada sandaran tangan. Empuk lagi.
Apalagi kalau bukan payudara. Sambil aku meremasremasnya, penis seperti diremasremas juga. Tante Anita mengeluarkan kemaluanku sebentar, mengajak posisi 69.
Hm, kupikir boleh juga. Maka aku berganti posisi lagi.
Tubuhku menghadap Tante Anita, tapi saling berlawanan. Penisku di mulutnya, vaginanya di mulutku. Sampai beberapa saat kami melakukan itu.
Aku tak tahu apakah Tante mendapat orgasme lagi, tapi dia sempat diam mengulum penisku, pahanya menekan rapat kepalaku, tapi tak ada cairan yang keluar.

Rudi, berhenti dulu deh. serunya. Padahal aku sedang asyik dengan posisi ini. Tante Anita berdiri menuju ke dapur. Rupanya dia minum air dingin. Tante Anita datang. Membawa dua gelas air es dan menyodorkan dua tablet yang kuduga obat kuat. Kami meminumnya satusatu. Tante memperhatikanku lalu melihat film itu.
Kita bercumbu beneran, yuk, ajaknya.
Di bathtub yuk. Dia memegang kemaluanku seperti memegang tanganku, untuk mengajak dengan menggandeng penis itu. Kami ke kamar mandinya. Bathtubnya cukup besar, Kami mulai lagi. Di bawah shower itu berpelukan sambil meraba dan menyabuni. Nikmat sekali menyabuni payudaranya, senikmat disabuni penisku. Tak ada yang terlewatkan, termasuk vagina dan anus.

Ketika air mulai penuh, kami berendam. Airnya tak diberi busa. Nyaman sekali. Lalu kami mulai saling merangsang, meninggikan tensi kembali. Tante Anita mengocok penisku dalam air, sementara aku merabaraba vaginanya.
Tak berapa lama dia duduk di pinggiran bathtub. Kelihatannya dia ingin vaginanya dijilat. Aku merangkak menjilatinya. Cairannya mulai keluar lagi.
Pakai tangan juga dong, pintanya lanjut. Aku menuruti saja.
Kukocok dengan telunjuk kananku. Kucoba telunjuk dan jari tengah, semakin asyik. Tangan kiriku mengusap klitorisnya. Tante memejamkan matanya menahan nikmatnya. Sebelum berlanjut lebih jauh, Tante menghentikan. Membalik badannya menjadi menungging dan membuka pantatnya. Ternyata dari tadi aku belum mengeksplorasi daerah anus. Akupun mencobanya. Kujilat anusnya, reaksi Tante mendukung. Kujilatjilat lagi, dari anus hingga vagina. Lalu kocoba masukkan dua jariku lagi ke vaginanya dan mengocoknya.

Lidahku menjilatjilat lagi. Daerah pantat yang menggembung berdaging kenyal seperti payudara. Akupun suka. Tante Anita menunjukkan reaksi seperti akan orgasme lagi. Desahannya mulai keras. Rudi, Tante mau keluar lagi nih.
Cepat! Pakai penismu. Ayo masukin penismu. Cumbu Tante,
Rudi, jeritnya tertahan putusputus. Astaga, dirty talk sekali.
Membuat aku makin terangsang.
Aku siapkan penisku, walau agak bingung karena tak ada pengalaman. Tante Anita mengocok vaginanya sendiri sambil menungguku memasukkan penis. Penis sudah kuarahkan ke vagina.

Tante, nggak bisa masuk, nih, tanyaku bingung.
Tekan saja yang kuat. Tapi pelanpelan.
Aku ikuti sarannya, tetap saja susah. Dasar pemula.
Jadinya penisku hanya merangsang mulut vagina saja, menggosok klitoris, tapi itu malah membuat Tante makin terangsang.
Ayo masukkan, Tante sudah hampir keluar,
Dengan tenaga penuh aku coba lagi. Dan, berhasil.
Kepala penisku bisa masuk walau sempit sekali. Tante Anita bergoyang untuk meraRudin gesekan karena klimaksnya semakin dekat.
Ketika aku coba masukkan lebih dalam lanjut pantat Tante bergoyang hebat. Otot vaginanya seperti meremasremas. Penisku yang walau baru kepalanya saja menikmati remasan vagina ini. Dan Tantepun orgasme.

Setelah itu dia jatuh dan berbaring dalam bathtub. Aku sudah melepaskan penisku. Tante, maafin saya ya,
kataku agak menyesal. Aku belum memasukkan seluruh penisku dalam vaginanya saat dia orgasme. Nggak apaapa.
Kepala penisnya sudah nikmat, koq.
yo kita coba lagi. Sekarang penis kamu mau dikulum, nggak? Tak usah bertanya.
Ganti aku yang duduk di tepi bathtub. Tante merangkak dan mengulum penisku.
Ah, pose seperti ini membuat aku nyaman, seakan aku yang punya kuasa. Di ujung tubuh yang merangkak itu ada pantat. Wah, empuknya seperti payudara. Akupun menjamah dan meremasremasnya. Kadang aku membandingkan dengan satu tangan tetap meremas pantat, tangan yang lain meremas payudara. Kenikmatan ganda. Kelihatannya Tante juga menikmati sekali. Ombak berdebur kecil di bathtub itu. KuraRudin penisku mulai megeluarkan tanda akan klimaks. Tumben cukup lama sekali aku bertahan. Mungkin karena obat yang diberikan Tante.

Kuhentikan gerakan Tante, kuanggukkan kepalaku ke wajahnya yang masih mengulum penisku. Tante berdiri, aku mengikutinya. Tante membuka vaginanya, aku mengarahkan penisku. Kugosokgosokkan ke vaginanya. Kutemukan klitosinya. Seperti puting susu, kumasukkan klitoris itu ke dalam lubang penisku. Rangsangannya kuat, sampaisampai Tante mau jatuh lagi seperti ketika klitorisnya kuhisap kuatkuat. Ok, sekarang aku mulai memasukkan penisku.

Tante Anita menggenggam penisku, mengarahkan agar bisa masuk. Aku seperti orang bodoh yang harus diajari untuk melakukan gerakan yang kupikir semua lakilaki juga bisa. Ternyata tidak mudah. Dengan susah payah akhirnya kepala penisku masuk. Seperti tadi, kucoba goyang maju mundur untuk membuatnya siap melanjutkan misinya. Suasana begitu sepi, mungkin sudah malam.
Tapi hujan masih menetes satusatu. Sunyi. Saat itu, tibatiba ada ketukan di pintu rumah. Tok..tok..tok.. Dan kami diam seperti hendak dipotret saja,
Anita..Anita, ini aku. bukain pintu dong..,
teriak seorang lakilaki.
Kami bagai tersambar geledek, mematung dalam badai.
Hujan tadi berlanjut menjadi badai akibat suara itu.
Mas Iwan.., bisik Tante Anita pelan.
Penisku langsung lemas, keluar begitu saja dari vagina yang telah susah payah berusaha dijebolnya.
Apa yang harus kita lakukan?
Aku akan berpurapura..
Kalau aku?
Sembunyi saja.
Dimana?
Katakata kami meluncur cepat nyaris tak bersuara.
Kami berusaha berfikir. Agak sulit, karena sedari tadi hanya menggunakan nafsu.
Anita, kamu tidur ya? Bukain dong,
suara Om Iwan seakan detikdetik bom waktu yang siap meledak.
Wajah Tante Anita
sedikit cerah.
Aku ada akal.. Gimana? tanyaku tak sabar.
Kamu di sini saja dulu. Jangan keluar sebelum kupanggil.
Tante Anita merendam lagi dirinya dalam bathtub, kemudian keluar.
Aku menutup pintu kamar mandi, tidak terlalu rapat agar bisa melihat keadaan.
Kulihat Tante Anita membawa pakaianku dan menengelamkannya dalam tumpukan jemurannya.
Mengelap lagi sofa dengan dasternya, melemparkan daster itu ke tumpukan jemuran.
Kemudian membuka pintu.
Apa yang dilakukannya?
Dia sudah gila?
Aku bisa mati jika suaminya tahu kami telah berbuat.
Belum sih, tapi hanpir menyetubuhi istrinya.
Lalu? {Adakah mantra untuk menghilang?

Aku takut menghadapi kenyataan Saat ini Di tempat ini Dalam keadaan ini

Dengan apa yang telah kulakukan}

Post Terkait

10total visits,1visits today